Spider Village
Pagi ini Siem Reap, sebuah kota di Kamboja muncul di halaman depan Yahoo, bisa dibaca di sini.
Meskipun baru sekali mengunjungi dan hanya 2 hari satu malam menginap di Siem Reap, bisa dibilang kalo saya jatuh cinta dengan tempat ini. Kamboja buat saya adalah negara yang sangat layak dikunjungi untuk tujuan wisata yang nggak biasa. Untuk tiba di Siem Reap, saya dan teman-teman praktikum, Desember tahun lalu menggunakan penerbangan Jakarta-Phnom Penh dengan sekali transit di Kuala Lumpur. Tiba di Phnom Penh (Ibukota Kamboja) wisatawan bisa menikmati eksotisnya kota ini dan berkeliling mengunjungi Pasar Malam di kawasan Frontriver Sungai Mekong. Untuk pergi ke Siem Reap, waktu itu kami menggunakan jalur darat yang memakan waktu sekitar enam jam dari Phnom Penh. Saya kurang tau apakan ada jalur udara, tetapi yang jelas jalur darat ini buat saya mengasyikkan (walapupun menurut teman2 saya perjalanannya lama dan membosankan, hehe). Kami melewati beberapa provinsi, seperti Kampong Chhnang, kampong thum, mong dal lain-lain. Sepanjang perjalanan pemandangan yang kami saksikan adalah padang rumput (lumayan gersang dan tidak beraturan), beberapa rumah penduduk, dan kawasan semacam hutan. Jalannya lumayan lurus, hanya saja terlalu kecil dan berbatu-batu. Saya sama sekali tidak ambil pusing dengan itu karena saya pernah mengalami lebih dari 24 jam perjalanan Bandung-Bengkulu dengan jalan yang udah mah jelek belok2 pula, hehe. Selama perjalanan, kami satu kali berhenti di semacam rest area (saya bilang semacam karena tepatnya nggak sebagus rest area di Indonesia atau seperti yang sering kita tonton di film2 latin). Rest Area ini terdapat di Spider Village. Well, nggak salah dinamain desa laba-laba. Turun dari bus, kami langsung dihadang anak-anak kecil yang berjualan gelang dan aksesoris. Oke, all is well, sampai kami sadar ketika anak-anak kecil itu bilang "mister, please buy this, mister, please..." di tangan mereka ada beberapa ekor tarantula. Alamak merinding saya liatnya, akhirnya saya nggak jadi cari toilet dan balik lagi ke bus. Dari bus saya lihat seorang turis barat sedang pucat karena seorang anak meletakkan tarantula di dadanya sambil memaksa si turis untuk membeli dagangannya. Kasihan, tapi saya pengen ketawa juga, hehe.. Di Spider Village ini juga banyak yang jual makanan spektakuler, termasuk di dalamnya tarantula bakar, tarantula goreng dan serangga-serangga krispi lainnya. Saya tentu saja tidak ikutan mencoba, saya adalah pengikut seorang teman yang waktu itu nyeletuk "gue nggak akan makan ituh serangga selama masih ada KFC", ahey! benar juga :D. Oiya, ada cerita menarik dari tour guide waktu itu, Mr. Boray, di perjalanan menuju Siem Reap, di tengah jalan ada sebuah tugu persahabatan Indonesia-Kamboja. Tugu ini ceritanya dibuat sebagai ucapan terima kasih Kamboja kepada Presiden Soekarno yang pada jaman itu banyak membantu kemerdekaan kamboja (saya terharu). Mungkin karena sejarah itulah warga Indonesia diterima dengan sangat baik di Kamboja, ini juga yang membuat saya betah di sana.
Tiba di Siem Reap, kami langsung mencari makanan halal yang ternyata kebanyakan adalah makanan-makanan India. Kami makan Roti Naan dengan kari yang aduhai enaknya, kemudian menuju hotel daaaaaannnn saya menyesal malam itu lebih memilih istirahat ketimbang ikut teman2 saya jalan2. Ternyata mereka pergi ke pusat penjualan oleh-oleh kamboja, semacam pasar malam dan harganya sangat murah meriaah. Yasudahlah, lain kali saya mau keliling malam2 di Siem Reap.
Besok paginya kami langsung menuju Angkor Wat, kompleks candi terbesar di Siem Reap, dan Hey, Siem Reap sekarang masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia... kasihan Borobudur, tapi memang candi2 di Siem Reap layak mendapat gelar itu dari UNESCO. Manajemen cadinya bagus sekali, ditambah lagi dengan hasil pemugaran yang bekerjasama dengan Italia, Spanyol, dan Perancis, makin megah saja candi2nya, nggak percaya bisa dilihat di Filmnya Angelina Jolie, Tomb Rider. Nilai plus juga di sana, rata2 penduduk asli mampu Berbahasa Inggris, termasuk anak2 kecilnya sekali pun, jadi InsyaAllah kita kalo di sana nggak harus pusing bingung karena nggak ngerti Bahasa Khmer. Sekali lagi Kalo pengen tau lebih banyak tentang objek2 wisata lain di Siem Reap bisa baca di sini.
Baiklah, ini adalah sedikit cerita tentang Siem Reap, Ya Allah suatu hari nanti semoga saya punya kesempatan kembali ke sana, amin..
Que tenga un buen fin de semana amigos :)
Meskipun baru sekali mengunjungi dan hanya 2 hari satu malam menginap di Siem Reap, bisa dibilang kalo saya jatuh cinta dengan tempat ini. Kamboja buat saya adalah negara yang sangat layak dikunjungi untuk tujuan wisata yang nggak biasa. Untuk tiba di Siem Reap, saya dan teman-teman praktikum, Desember tahun lalu menggunakan penerbangan Jakarta-Phnom Penh dengan sekali transit di Kuala Lumpur. Tiba di Phnom Penh (Ibukota Kamboja) wisatawan bisa menikmati eksotisnya kota ini dan berkeliling mengunjungi Pasar Malam di kawasan Frontriver Sungai Mekong. Untuk pergi ke Siem Reap, waktu itu kami menggunakan jalur darat yang memakan waktu sekitar enam jam dari Phnom Penh. Saya kurang tau apakan ada jalur udara, tetapi yang jelas jalur darat ini buat saya mengasyikkan (walapupun menurut teman2 saya perjalanannya lama dan membosankan, hehe). Kami melewati beberapa provinsi, seperti Kampong Chhnang, kampong thum, mong dal lain-lain. Sepanjang perjalanan pemandangan yang kami saksikan adalah padang rumput (lumayan gersang dan tidak beraturan), beberapa rumah penduduk, dan kawasan semacam hutan. Jalannya lumayan lurus, hanya saja terlalu kecil dan berbatu-batu. Saya sama sekali tidak ambil pusing dengan itu karena saya pernah mengalami lebih dari 24 jam perjalanan Bandung-Bengkulu dengan jalan yang udah mah jelek belok2 pula, hehe. Selama perjalanan, kami satu kali berhenti di semacam rest area (saya bilang semacam karena tepatnya nggak sebagus rest area di Indonesia atau seperti yang sering kita tonton di film2 latin). Rest Area ini terdapat di Spider Village. Well, nggak salah dinamain desa laba-laba. Turun dari bus, kami langsung dihadang anak-anak kecil yang berjualan gelang dan aksesoris. Oke, all is well, sampai kami sadar ketika anak-anak kecil itu bilang "mister, please buy this, mister, please..." di tangan mereka ada beberapa ekor tarantula. Alamak merinding saya liatnya, akhirnya saya nggak jadi cari toilet dan balik lagi ke bus. Dari bus saya lihat seorang turis barat sedang pucat karena seorang anak meletakkan tarantula di dadanya sambil memaksa si turis untuk membeli dagangannya. Kasihan, tapi saya pengen ketawa juga, hehe.. Di Spider Village ini juga banyak yang jual makanan spektakuler, termasuk di dalamnya tarantula bakar, tarantula goreng dan serangga-serangga krispi lainnya. Saya tentu saja tidak ikutan mencoba, saya adalah pengikut seorang teman yang waktu itu nyeletuk "gue nggak akan makan ituh serangga selama masih ada KFC", ahey! benar juga :D. Oiya, ada cerita menarik dari tour guide waktu itu, Mr. Boray, di perjalanan menuju Siem Reap, di tengah jalan ada sebuah tugu persahabatan Indonesia-Kamboja. Tugu ini ceritanya dibuat sebagai ucapan terima kasih Kamboja kepada Presiden Soekarno yang pada jaman itu banyak membantu kemerdekaan kamboja (saya terharu). Mungkin karena sejarah itulah warga Indonesia diterima dengan sangat baik di Kamboja, ini juga yang membuat saya betah di sana.
Tiba di Siem Reap, kami langsung mencari makanan halal yang ternyata kebanyakan adalah makanan-makanan India. Kami makan Roti Naan dengan kari yang aduhai enaknya, kemudian menuju hotel daaaaaannnn saya menyesal malam itu lebih memilih istirahat ketimbang ikut teman2 saya jalan2. Ternyata mereka pergi ke pusat penjualan oleh-oleh kamboja, semacam pasar malam dan harganya sangat murah meriaah. Yasudahlah, lain kali saya mau keliling malam2 di Siem Reap.
Besok paginya kami langsung menuju Angkor Wat, kompleks candi terbesar di Siem Reap, dan Hey, Siem Reap sekarang masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia... kasihan Borobudur, tapi memang candi2 di Siem Reap layak mendapat gelar itu dari UNESCO. Manajemen cadinya bagus sekali, ditambah lagi dengan hasil pemugaran yang bekerjasama dengan Italia, Spanyol, dan Perancis, makin megah saja candi2nya, nggak percaya bisa dilihat di Filmnya Angelina Jolie, Tomb Rider. Nilai plus juga di sana, rata2 penduduk asli mampu Berbahasa Inggris, termasuk anak2 kecilnya sekali pun, jadi InsyaAllah kita kalo di sana nggak harus pusing bingung karena nggak ngerti Bahasa Khmer. Sekali lagi Kalo pengen tau lebih banyak tentang objek2 wisata lain di Siem Reap bisa baca di sini.
Baiklah, ini adalah sedikit cerita tentang Siem Reap, Ya Allah suatu hari nanti semoga saya punya kesempatan kembali ke sana, amin..
Que tenga un buen fin de semana amigos :)
