Saturday, October 2, 2010

A Worth Destination, Siem Reap




Angkor Wat

Spider Village

Pagi ini Siem Reap, sebuah kota di Kamboja muncul di halaman depan Yahoo, bisa dibaca di sini.
Meskipun baru sekali mengunjungi dan hanya 2 hari satu malam menginap di Siem Reap, bisa dibilang kalo saya jatuh cinta dengan tempat ini. Kamboja buat saya adalah negara yang sangat layak dikunjungi untuk tujuan wisata yang nggak biasa. Untuk tiba di Siem Reap, saya dan teman-teman praktikum, Desember tahun lalu menggunakan penerbangan Jakarta-Phnom Penh dengan sekali transit di Kuala Lumpur. Tiba di Phnom Penh (Ibukota Kamboja) wisatawan bisa menikmati eksotisnya kota ini dan berkeliling mengunjungi Pasar Malam di kawasan Frontriver Sungai Mekong. Untuk pergi ke Siem Reap, waktu itu kami menggunakan jalur darat yang memakan waktu sekitar enam jam dari Phnom Penh. Saya kurang tau apakan ada jalur udara, tetapi yang jelas jalur darat ini buat saya mengasyikkan (walapupun menurut teman2 saya perjalanannya lama dan membosankan, hehe). Kami melewati beberapa provinsi, seperti Kampong Chhnang, kampong thum, mong dal lain-lain. Sepanjang perjalanan pemandangan yang kami saksikan adalah padang rumput (lumayan gersang dan tidak beraturan), beberapa rumah penduduk, dan kawasan semacam hutan. Jalannya lumayan lurus, hanya saja terlalu kecil dan berbatu-batu. Saya sama sekali tidak ambil pusing dengan itu karena saya pernah mengalami lebih dari 24 jam perjalanan Bandung-Bengkulu dengan jalan yang udah mah jelek belok2 pula, hehe. Selama perjalanan, kami satu kali berhenti di semacam rest area (saya bilang semacam karena tepatnya nggak sebagus rest area di Indonesia atau seperti yang sering kita tonton di film2 latin). Rest Area ini terdapat di Spider Village. Well, nggak salah dinamain desa laba-laba. Turun dari bus, kami langsung dihadang anak-anak kecil yang berjualan gelang dan aksesoris. Oke, all is well, sampai kami sadar ketika anak-anak kecil itu bilang "mister, please buy this, mister, please..." di tangan mereka ada beberapa ekor tarantula. Alamak merinding saya liatnya, akhirnya saya nggak jadi cari toilet dan balik lagi ke bus. Dari bus saya lihat seorang turis barat sedang pucat karena seorang anak meletakkan tarantula di dadanya sambil memaksa si turis untuk membeli dagangannya. Kasihan, tapi saya pengen ketawa juga, hehe.. Di Spider Village ini juga banyak yang jual makanan spektakuler, termasuk di dalamnya tarantula bakar, tarantula goreng dan serangga-serangga krispi lainnya. Saya tentu saja tidak ikutan mencoba, saya adalah pengikut seorang teman yang waktu itu nyeletuk "gue nggak akan makan ituh serangga selama masih ada KFC", ahey! benar juga :D. Oiya, ada cerita menarik dari tour guide waktu itu, Mr. Boray, di perjalanan menuju Siem Reap, di tengah jalan ada sebuah tugu persahabatan Indonesia-Kamboja. Tugu ini ceritanya dibuat sebagai ucapan terima kasih Kamboja kepada Presiden Soekarno yang pada jaman itu banyak membantu kemerdekaan kamboja (saya terharu). Mungkin karena sejarah itulah warga Indonesia diterima dengan sangat baik di Kamboja, ini juga yang membuat saya betah di sana.
Tiba di Siem Reap, kami langsung mencari makanan halal yang ternyata kebanyakan adalah makanan-makanan India. Kami makan Roti Naan dengan kari yang aduhai enaknya, kemudian menuju hotel daaaaaannnn saya menyesal malam itu lebih memilih istirahat ketimbang ikut teman2 saya jalan2. Ternyata mereka pergi ke pusat penjualan oleh-oleh kamboja, semacam pasar malam dan harganya sangat murah meriaah. Yasudahlah, lain kali saya mau keliling malam2 di Siem Reap.
Besok paginya kami langsung menuju Angkor Wat, kompleks candi terbesar di Siem Reap, dan Hey, Siem Reap sekarang masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia... kasihan Borobudur, tapi memang candi2 di Siem Reap layak mendapat gelar itu dari UNESCO. Manajemen cadinya bagus sekali, ditambah lagi dengan hasil pemugaran yang bekerjasama dengan Italia, Spanyol, dan Perancis, makin megah saja candi2nya, nggak percaya bisa dilihat di Filmnya Angelina Jolie, Tomb Rider. Nilai plus juga di sana, rata2 penduduk asli mampu Berbahasa Inggris, termasuk anak2 kecilnya sekali pun, jadi InsyaAllah kita kalo di sana nggak harus pusing bingung karena nggak ngerti Bahasa Khmer. Sekali lagi Kalo pengen tau lebih banyak tentang objek2 wisata lain di Siem Reap bisa baca di sini.
Baiklah, ini adalah sedikit cerita tentang Siem Reap, Ya Allah suatu hari nanti semoga saya punya kesempatan kembali ke sana, amin..
Que tenga un buen fin de semana amigos :)

Where's the spirit :)

Suatu hari pesan dari seorang sahabat paling baik sedunia...
Dia: Hey hey yg sdh di kosan, lg apa?
Saya: Lagi berurusan sm debuu 3cm :D
Dia: Hm.. lg kluar jiwa babunya yaa hm.. semangaat berjuaang!
Saya: Ah.. ga sopaan, hehe.. baiklah aku akn brjuang dg debu ini :D
Dia: Hey bkn itu mksud aku, brjuang sm debu si gampang, siram pk air jg ilang, ini maksudnya berjuang untuk beberapa bulan kedepan, kamu pasti bisa! :)
Saya: *meleleh* makasih :')

Ayo! Hidup Sehat!

Sebelum banyak bercerita, saya ingin bilang, kangeeeeeen blogspot ini setelah liburan lebaran. Masih di bulan syawal juga saya mau minta siapa pun yang saya kenal untuk memaafkan salah-salah saya, apalagi dalam tulisan-tulisan yang bisa saja kurang berkenan di blog ini.
Well, saya baru saja sembuh dari sakit. Seminggu yang lalu saya pulang dari kampung halaman dengan penerbangan malam. Bersiap-siap dari rumah dari jam 10.00 pagi dan karena berbagai hambatan (delay dan blablabla berbagai masalah mengejutkan yang malas saya ceritakan, cukup diingat dan buat pelajaran saja), saya tiba di jatinangor jam 02.00 dini hari berikutnya. Selama perjalanan malam itu tentu saya kedinginan dan merasa lapar, tapi karena masalah-masalah yang beruntut dan tidak terduga, rasa lapar dikalahkan oleh rasa malas (dan bete, hehe). Tiba di kosan malah santai2 sampai pagi, dilanjutkan dengan beres2 kamar yang udah sebulan ditinggal. Tengah hari kerjaan saya beres dan setelah perut meronta-ronta plus badan gemeteran, barulah saya beli makan. Alhamdulilah perut kenyang hati senang. Sore sekitar jam 05.00, tiba2 saya merasa mual, sangat mual, eh nggak, bahkan terlaluuu mual tak tertahankan. Teman menyarankan saya untuk memuntahkan isi perut supaya nggak mual lagi, dan saya lakukan saran itu. Apa lacur penyakit memang, setelah muntah pertama, mualnya sama sekali nggak berkurang, bahkan bertambah. Karena merasa kemungkinan besar saya terserang masuk angin, saya minta tolak angin ke teman. Sayangnya pada akhirnya itu tolak angin juga nggak bertahan lama di perut. Muntah pertama kemudian beranak pinak, kerjaaan saya semaleman cuma bolak balik kamar mandi hingga lebih dari 10 kali. Saya bener2 mual semaleman. Pada akhirnya saya tergeletak lemas setelah perut saya benar2 kosong, berdiri pun tak mampu lagi.
Sedihnya sakit di kosan, plus sindrom homesick karena baru banget dari rumah.
Besok paginya saya berobat ke UPT Klinik Padjadjaran daaaan disana si pak dokternya sedikit menyebalkan.
Dokter: Jadi apa keluhannya?
Saya: Saya semaleman mual muntah2 dok, sebelumnya saya habis perjalanan jauh, malam, dan nggak makan sampai besoknya
Dokter: Oh, coba kita periksa
selanjutnya saya menjalani pemeriksaan. Setelah selesai dan kembali ke meja konsultasi.
Dokter: Jadi kamu nggak makan dari perjalanan itu sampai besoknya?
Saya: Iya dok
Dokter: Itu namanya cari penyakit *dengan muka lempeng*
Saya: habisnya saya nggak laper dok
Dokter: Iya, tapi seenggaknya kan kamu bisa minum air hangat, kalo kayak gini emang bener cari penyakit *masih dengan muka super lempeng*. Akibatnya lambung kamu yang mesti kerja keras dan ngeradang.
Saya: *speechless*
Akhirnya saya diberi obat untuk lambung dan mual. Alhamdulilah saya sekarang sudah sangat baikan.
Sebenarnya setiap tahun selama kuliah saya selalu mengalami satu kali penyakit kayak begini, gastritis, daaaan penyebabnya masih sama, pola makan yang tiba-tiba berubah (dari di rumah yang makan+tidur sangaaat teratur langsung ke kosan dengan hidup barbar) ditambah telat makan, perfecto!
Tahun lalu paling parah, seusai KKN, karena pola hidup yang berubah saya jadi malas makan, malas keluar mencari makan, malas memasak makanan dan saya merasa nggak lapar (ternyata lambung saya lapar), jadilah ketika makan, saya malah mual dan nggak bisa menelan apa pun, bahkan air minum pun enggak. Saya hampir nggak bisa beranjak dari tempat tidur. Tahun lalu saya berjanji (eh 2 tahun lalu juga, eh 3 tahun lalu juga) untuk mengatur pola makan saya dan nggak lagi males makan musiman, tapi tiap tahun juga janji itu saya langgar.
Saya kalo lagi sadar akan makan 3 kali sehari, tapi kalo lagi nggak sadar bisa maleeeees banget makan nasi dan nggak laper, karena itulah saya biasanya selalu menyiapkan cemilan di kosan. Buat jaga-jaga kalo lupa makan seenggaknya ada cemilan isi perut saya.
Tahun lalu, dokter yang ngobatin saya sampe ngasih saya catatan tentang gaya hidup saya yang harus diubah. sampe sekarang masih disimpan. Intinya makan teratur, tidur tepat waktu dan olahraga (bukan sekedar aktivitas fisik).
Anak kosan kebanyakan meremehkan kesehatan. Makan semaunya, begadang tiap malam, dan malas olahraga, udah mah gaya hidup begitu masih merasa sehat. Saya juga seringkali begitu. Mungkin kita nggak merasa lapar tapi lambung kita terus kerja dan perlu diisi. mungkin kita nggak merasa ngantuk tapi otak kita juga butuh istirahat, dan mugkin walaupun nggak olahraga kita merasa tetap bisa hidup tapi memang benar dengan olahraga kualitas hidup kita lebih baik (I've felt it).
Ah, saya kapok dengan peradangan lambung. Saya nggak mau lagi sakit begitu. Saya akan berusaha menjalankan 3 pesan dokter baik hati tahun lalu itu, saya juga nggak mau cari penyakit, nggak mau ngerepotin orang lain, semangaaaat hidup sehaaaat :)

"Beruntunglah kamu yang merasakan sakit karena saat sakitlah kamu akan mengingat rasanya sehat, dan semoga kamu jadi bersyukur karena-nya" (quote Pak Hartono, guru agama kelas XI dulu)

Thursday, August 19, 2010

Home Sweet Home

lega sudah menyimpan tiket pulang, dapet promo lagi :D

Home is the one place in all this world where hearts are sure of each other. It is the place of confidence. It is the place where we tear off that mask of guarded and suspicious coldness which the world forces us to wear in self-defense, and where we pour out the unreserved communications of full and confiding hearts. It is the spot where expressions of tenderness gush out without any sensation of awkwardness and without any dread of ridicule. ~Frederick W. Robertson
Home is not where you live but where they understand you. ~Christian Morgenstern

And yes, I'll be home soon, tadaimaaaaa :')

Tuesday, August 17, 2010

Merdeka dengan Bersyukur

Hola, Merdeka!
Selamat ulang tahun buat negara tercinta, Indonesia.
Banyak yang merasa belum merdeka, merasa masih kurang ini itu.. Alhamdulilah, terimakasih saya merasa sangat merdeka, setelah membaca Totto Chan and Children, saya bersyukur, pemandangan di sekitar saya adalah orang-orang yang biarpun dengan perjuangan yang berbeda-beda namun masih bisa setidaknya menghirup udara segar dan mendapatkan air bersih. Merasa belum merdeka bisa jadi akan membuat saya kurang bersyukur nantinya, karena itu saya memilih untuk merasa merdeka. Banyak orang hidup di bawah garis kemiskinan di negara ini, hey! tapi meskipun mereka miskin mereka masih punya alternatif, mereka punya pilihan, pulang ke desa, sebarkan benih tanaman pangan di tanah, dan mereka setidaknya punya persediaan bahan makanan, tapi di Afrika sana, jangankan bercocok tanam, bahkan mereka sudah tidak punya air, yang ada hanya tanah retak yang kering dan nggak akan bisa ditumbuhi tanaman apa pun.
Ya! Oke, saya memilih untuk bersyukur dan berhenti menuntut banyak pada pemerintah. menuntut buat saya hanya membuat mental saya rusak, terlalu mencari-cari kesalahan tanpa belajar dan mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi nyata. jika merasa kecewa dengan pemerintah saat ini, Wake Up! belajar! nggak lama lagi akan tiba waktunya kita akan menggantikan mereka-mereka yang memimpin saat ini.
Sekali lagi di 65 tahun Indonesia merdeka saya memilih untuk bersyukur, saya tidak pantas menuntut terlampau banyak setelah apa yang saya dapatkan saat ini. I dont give a damn about politics, I dont care who's rich and why there are people who called 'poor'. Entah mengapa saya berpikir bahwa kita termakan oleh konstruk bahwa yang kaya adalah yang punya banyak uang, yang miskin adalah yang kurang uang, dan yang kaya adalah orang yang bahagia sedangkan yang nggak punya uang adalah orang yang menyedihkan. Televisi telah membodohi penontonnya melalui tayangan seperti 'jika kamu menjadi' dan tayangan-tayangan sejenis yang mengeksplor (seolah) penderitaan orang-orang yang hanya memiliki sedikit uang. Di satu episode ditayangkan satu keluarga petani yang tinggal di pedalaman dengan rumah dari bilik bambu, kemudian muncullah tokoh utama seorang mahasiswa kota yang akan diuji untuk tinggal disana (what the hell? so what dengan keadaan mereka?). Adegan selanjutnya bisa ditebak, si tokoh utama dengan muka sedih penuh air mata menyatakan perasaan sedihnya melihat keluarga petani yang tidak tidur di spring bed, yang masih memasak dengan kayu (tidak lupa pula iringan musik-musik menyedihkan), oke saya akan langsung tutup mata. Mematikan TV adalah pilihan bijak ketimbang saya pusing karena tensi darah saya naik. Maaf bapak ibu produser, saya nggak suka menonton acara seperti itu. Acara-acara itulah yang membuat teman-teman saya di kampung mengasihani diri mereka sendiri, merasa bahwa hidup seperti yang mereka jalani adalah hidup yang menyedihkan, membuat mereka menjadi kurang bersyukur. Saya dibesarkan di daerah, bukan di kota, saya banyak menemukan orang-orang yang tinggal di rumah-rumah bilik, tapi mereka sangat jauh dari yang digambarkan di TV, mereka adalah orang yang bahagia dengan hidup mereka, mereka sangat bersyukur tiap kali bangun pagi, masih bisa memetik sayuran di kebun, memasak dengan kayu, kemudian bersantai di teras rumah yang kebanyakan beralaskan tanah, ya semua mereka sangat bersyukur dengan kehidupan seperti itu, sampai kemudian TV mengkostruk ulang pemikiran mereka, mulailah mereka berlomba (seolah) memperbaiki hudup mereka. Mereka yang mampu akan dengan mudah melanjutkan hidup, yang nggak mampu, akan sulit menemukan apa itu kebahagiaan yang seharusnya, mulailah merebak cara-cara miring untuk menjadikan hidup mereka seperti yang didoktrin TV, urbanisasi terjadi besar-besaran, pengangguran di kota meningkat., kriminalitas juga meninggi, hidup menjadi tidak lagi seimbang.
Hh.. hampir 22 tahun hidup, saya sudah melalui fase-fase dimana saya bahagia dengan kehidupan desa (yang dianggap hidup susah saat ini), hingga bahagia dengan kehidupan kota yang ramai. Setiap orang punya cara masing-masing untuk merasa bahagia tanpa perlu memaksakan cara kita kepada orang lain, dan bukankah kita semua ingin hidup bahagia?
Aduh, saya bingung kenapa saya jadi menulis absurd begini, tapi yasudahlah.
Memimpikan apa yang tidak kita miliki memang baik, tetapi akan lebih baik jika kita mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan.
Ah, sudah 65 tahun kita merdeka, terimkasih buat para pahlawan atas jasa mereka, semoga kita selalu manjadi orang yang giat dan bersyukur, amiin..
anw, saya keingetan setahun lalu upacara bendera di Pantai Santolo, ah kangennya :)

Saturday, August 14, 2010

MOVE ALONG

Move Along-The All Merican rejects


"Go ahead as you waste your days with thinking
When you fall everyone stands"

"when all you got to keep is strong
Move along, move along like I know you do
And even when your hope is gone
Move along, move along just to make it through"

"When everything is wrong we move along"

*a song to remind myself that at last everything doesnt suck because I still have a long way move along

Sunday, August 8, 2010

Buzzer Beat

I love this dorama (Japanese drama series).
“Kamiya Naoki is a young player from a professional basketball team. But due to his relatively smaller size and his tendency to crack under pressure, he is unable to show his true skills on the court. Meanwhile, Shirakawa Riko is a cheerful, strong-spirited music college graduate aiming to become a professional violinist. One day, Riko finds Naoki’s lost cell phone on a bus, and their meeting begins a friendship that eventually turns into love. However, Naoki was already considering marriage with his current girlfriend. And it doesn’t help matters that Naoki’s coach has fallen in love at first sight with Riko!." (source: drama wiki)
This isnt a 'menye-menye' dorama. Buzzer Beat is nice dorama basically told about sport (basketball). I've watched it so manytimes that I couldnt remember. I've learned manythings about love and life from this dorama.
I love the "taptap" sound heard from the step of Naoki while playing basketball, and I'm also so damn in love with Riko while she plays the violin, I loveee all the tones she played.
This is one of it, listen.. this is pretty and warm >
Well, and I'm kinda touched by this screenshot ;)

Wednesday, August 4, 2010

August Rush

Hola! It's August, iyaa agustus..
apa yang sedang anda pikirkan? kalo yang ada dalam pikiran saya adalah:
*Hal bahwa saya nggak bisa wisuda bulan ini, yaudah sih yaa, ikhlas..
*Bulan ini akan kembali menjadi bulan sibuk, tapi sibuk yang senang, sejak mei lalu saya dan adik saya sibuk mengurusi bimbel dan SNMPTN adik saya, sekarang setelah dia lulus, saya akan kembali berkutat dengan cari kosan, "beli-beli isi kosan, registrasi, dan penerimaan mahasiswa baru" thingy, Fight-Oh!
*Bulan ini resmi sudah saya lepas dari tutorial global governance, karena bulan lalu nilainya udah keluar, semua sudah berusaha, saya sudah berusaha, pengennya semua dapet nilai bagus, untungnya saya nggak punya kapasitas untuk memberi nilai, hehe, dan saya percaya apa pun hasilnya, yang penting adalah proses yang kita lewatin sama-sama, maafkan salah-salah saya selama tutorial Tuhan.. *jadi kangen tutorial :')
*HOME, udah ngak sabaaaar mau pulang kampung, kangen rumah, setahun nggak pulang rasanya kayak seabad.. udah banyaaak banget cerita numpuk, nggak sabar ketemu Ibu, Bapak, nggak sabar menghabiskan hari sama adek kedua (yang pertama bentar lagi juga ketemu :D), nonton spongebob sama ipin&upin bareng, makan masakan percobaan adek (yang aneh tapi enak, kangen ziarah ke makam adek bungsu, I dont know why, visiting you there makes me feel so comfort, feels like you're really mine, really ours.. ah how sometimes I wish you were there, flocking with us, little brother :). Rumah juga mengingatkan saya akan kumir, anjing-anjing yang selalu ada sejak saja kelas 5 SD, biarpun berganti dan berapapun jumlahnya, tetapi semua akan selalu bernama kumir. Ketika saya pulang nanti, saya nggak akan melihat kumir tua saya, yang sudah menemani saya sejak SMP, yang dulu dipuji-puji teman SMP saya karena lucu, yang sudah hafal dengan teman-teman saya dan tidak akan menggonggong ketika mereka datang, yaa.. kumir sudah mati beberapa bulan lalu, dia sudah cukup tua, sudah cukup lama bersama kami, terakhir bertemu badannya sudah ringkih. Bahkan vaksin tidak bisa menyembuhkan penyakit tuanya, rambut-rambutnya mulai rontok. Ah, nanti nggak ada lagi kumir yang mengejar-ngejar ketika saya pulang. Saya akan berkenalan lagi dengan kumir baru. Rumah juga mengingatkan saya dengan sepupu-sepupu dan ponakan-ponakan kecil saya yang jumlahnya tidak terhitung (haha, saya adalah cucu tertua di keluarga bapak :D), saya sudah tidak sabar denger suara cempreng mereka "mbaa wiit, mbaa wiiit" belum lagi ponakan-ponakan "cik wiit cicik cicik wiwit" (dalam bahasa daerah saya cicik=bibi), kalo kami sudah berkumpul, orang-orang tua tinggal mengelus dada melihat keributan yang kami buat, main "smekdon" kalo kata mereka, haha, benar-benar korban televisi. Di rumah juga saya bisa ke Suban (tempat wisata pemandian air panas) kapan saja, lalu mampir ke rumah uwa saya dan gratis mancing sepuasnya, di terik panasnya siang, saya duduk di bangku bambu di bawah pohon rindang, subhanallah.. Dan hey, kalo pulang ke rumah, saya akan merasakan servis "all you can eat", berhubung setahun nggak pulang, pasti akan sering ditanyain "mau makan apa?", dan plok! langsung ada di depan mata, dan siap-siap saja menggmbul :D. Ah bicara rumah memang tidak ada habisnya, saya selalu ingin waktu berhenti ketika di rumah. saat terberat adalah ketika saya harus kembali ke Jatinangor, saya merasa harus bangun dari mimpi indah, ahh... kampung halaman kita akan selalu lebih indah dari kampung halaman tetangga ;).
Pikiran saya jadi kemana-mana, udah nggak konsentrasi nulis, jadi sebelum makin aneh, saya sudahi saja..
Have an august rush fellas :D

Tuesday, August 3, 2010

Redenominasi Rupiah???

Ceritanya begini, beberapa hari yang lalu, saya menginap di rumah sepupu saya di Bogor. Paginya, saya berangkat bareng ke Jakarta Kota, mas saya ini bekerja di Kementrian Perdagangan, sedangkan saya menuju Kementrian Luar Negeri untuk mencari bahan skripsi. Di mobil, sepanjang jalan Bogor-Jakarta kami mengobrol banyak, kebanyakan masalah ekonomi (yaiyalah si mas orang ekonomi :D). Salah satu obrolan yang saya ingat adalah tentang wacana penggantian nilai mata uang, nggak dikurangin nilainya, hanya diganti, misal uang Rp.1000,- menjadi Rp.1,-. Tadi malam saya iseng mendengarkan radio sebelum tidur, seperti biasa di jam segitu radio yang masih asik adalah radio elshinta, radio berita. Ternyata sedang ada diskusi mengenai Redenominasi rupiah, seperti yang saya obrolkan bersama mas saya. Yang menjadi narasumber adalah seorang pakar dari Bank Indonesia. Perbincangan mereka sangat menarik, apalagi ada beberapa pakar dari Universitas yang ikut menelepon dan menyumbangkan gagasan.
Tidak hanya itu, pagi ini di halaman beranda Yahoo! juga ada berita mengenai redenominasi Rupiah, dan maafkan saya Tuhan, saya kok sampai saat ini nggak mendukung ide redenominasi ini. Saya agak gimana gitu kalo hanya untuk alasan agar keuangan lebih efisien dan perbankan lebih simpel, kita mesti ganti nilai mata uang. Menurut saya nggak akan mudah mensosialisasikan redenominasi ini ke semua masyarakat (mengingat tingkat pendidikan dan ekonomi yang berbeda-beda). Oke sosialisasi pemilu bisa sampai ke pelosok-pelosok, itu menurut saya karena masyarakat hanya diminta mencontreng saja (sosialisasi begini aja dananya ajegile), berbeda dengan kasus redenominasi, karena berhubungan dengan UANG, hal yang sangat sensitif. Masyarakat yang panik dan nggak paham (terutama pengusaha-pengusaha kecil), akan melarikan uangnya ke Dolar yang dijamin AS nilaiya akan tetap. Kalau sudah begini nilai rupiah akan jatuh lagi. Ya, sosialisasi butuh waktu, dan menurut saya butuh waktu 100 tahun untuk redenominasi rupiah (pesimis :D). Seorang pakar menyatakan selama ini Bank Indonesia lemah dalam hal sosialisasi, jadi terlalu berbahaya dan bisa berbuntut pada kekacauan ekonomi (analisa pengamat amatir).
Masyarakat sudah nyaman dengan sistem yang sekarang. kenapa harus diganti kalau toh nilainya sama? kalo memang ingin efisien, apa dengan digantinya nominal, lantas berubah? saya nangkepnya kalo 1000 rupiah=1 lembar uang kertas, sama aja kan kalo 1 rupiah=satu lembar uang kertas? cuma hemat di tinta penulisan 1000 diganti 1. terus kalo keuangan lebih simpel, lah selama ini bukannya urusan penghitungan-penghitungan sudah tidak manual, sudah terkomputerisasi, jadi nggak ada bedanya menghitung uang 100.000.000 dengan 10.000.
Ah entahlah, kenapa saya sendi dengan ide ini... Saya membayangkan dana sosialisasi yang super itu dialihkan ke dana pendidikan saja, hal yang jauh lebih krusial untuk segera direalisasikan.
Ah lagi, entahlah ya, sampai saat ini saya juga masih kabur dengan redenominasi ini, semoga saya segera mendapat pencerahan mengenai keuntungan-keuntungan redenominasi, karena, mereka yang mencetuskan ide ini tentulah pakar-pakar yang brilian, sedangkan saya hanyalah mahasiswa (masuk) semester sembilan yang belum selesai skripsinya (curcol). Kalo ada salah-salah info, maafkan saya ya Tuhan, saya masih belajar.
Baiklah, saya akan kembali memantau update informasi tentang redenominasi rupiah ini dari semua media yang memungkinkan..
Have a nica day amigos :)

Sunday, August 1, 2010

...

The moment I hate the most is when I have to be back to the 'REALITY', while I have been enjoying a bling new world and I have been really into a situation...
Sometime I wish I could stop the time and stay the same ;)
FIGHT-OH!