Suatu hari saya, bapak dan adek kedua saya pergi ke gramedia bersama. Di suatu sudut rak buku, saya menemukan sebuah buku yang hingga saat ini menjadi buku yang paling saya sayang, "Peter Pan, Return to Neverland".
Setelah membaca buku itu, saya jatuh cinta sama peter pan. JM. Barry menurut saya adalah orang yang sangat jenius bisa menciptakan karakter seperti pan. Orang seumuran saya waktu itu kebanyakan berpikir untuk menjadi peter pan, "saya ingin menjadi anak-anak selamanya!" atau "menjadi dewasa itu rumit!".
Jika suatu hari nanti ditemukan mesin waktu, saya mau kembali ke tahun 90an. Saya ingin kembali ke rumah pertama yang saya kenal, rumah tua dari kayu dua lantai. Saya ingin kembali duduk di ruang tengah bersama bapak tepat jam 9 malam, setlah dipaksa sikat gigi dan cuci kaki, menemani bapak menonton dunia dalam berita, kemudian tidur dan terbangun waktu subuh, menyapu halaman yang penuh dengan daun cermai sambil menunggu bapak pulang dari masjid dan menyapa setiap orang yang lewat. Pagi belum berakhir, saya akan melanjutkan membersihkan setiap sudut rumah kayu yang penuh kenangan itu. Ibu masih sibuk di dapur sejak dini hari, sementara bapak akan mulai kesibukannya dengan memberi makan ayam, bebek, angsa, dan burung2 merpati peliharaannya di belakang rumah, dan adik kedua saya masih lelap. Aktivitas pagi berakhir di meja makan, ritual sarapan yang wajib, kemudian kami akan berpisah hingga sore hari.
Siang hari, sekolah selesai, saya kembali ke rumah kayu itu. Melepas sepatu dan meletakkannya di tempat sepatu, mengganti pakaian sekolah, makan siang, dan kemudian istirahat. Sore hari, ketika semua sudah kembali berkumpul di rumah, saya telah mandi dan siap berangkat mengaji di masjid depan rumah. Sore berakhir, saya akan kembali dengan ruang tengah rumah kayu itu, menyelesaikan semua pekerjaan rumah, sementara adik saya sibuk bermain, bapak menunggu dunia dalam berita, dan ibu menunggui kami dengan sulaman taplak meja ataupun sarung bantal. Semua terasa sangat sempurna. Saya sangat rindu senyum bapak saat berkomentar "wah tulisan mbak wit bagus, nek wis gede ini jadi jurnalis ini..", besoknya tulisan yang dipuji itu saya bawa terus ke sekolah, tidak bosan2 saya pandangi. Saya rindu saat2 saya dan nenek membuat manisan dari buah cermai di depan rumah kayu itu. Saya rindu Ibu yang melarang saya jajan tidak sehat di warung dan rela membuatkan apa pun makanan yang saya suka. Saya rindu minggu pagi ketika bapak mematikan TV yang sedang kami tonton karena kami belum mandi, saya rindu subuh minggu, ketika saya dan teman2 kecil saya lari pagi, bersama kakak2 sekitar rumah saya, saya ingat sekali kata2 kak ferdi ketika menyemangati kami lari pagi "ayo! ayo! lari, siapa cepat dapat istirahat!", kemudian saya akan sekuat tenaga lari mengimbangi kakak kakak saya, kemudian bisa ikut mereka istirahat, tidur2an di jalan yang masih sepi saat pagi. Saya rindu bermain monopoli, boneka, kartu, ular tangga dan permainan lainnya di rumah tetangga saya, rindu membaca topeng kaca, tidur siang bersama teman2 kecil. Saya rindu saat2 libur, ikut mengantarkan makanan ke sawah nenek. Saya akan memegang botol minum, berlari2 lincah menuruni jalan setapak bertanah, kemudian digendong di pundak bapak, menyebrangi sungai untuk sampai di pondok. Saya ingat sekali suatu hari, bapak menggendong adik saya, lian, sementara saya dituntun. Kami ingin menyebrangi sungai melewati sebuah batang kelapa yang berfungsi membendung sungai. Batang kelapa itu sudah licin, kami sangat berhati2, sampai tiba2 bapak terpeleset dan saya tertarik ke daerah bendungan yang dalam. Susah payah akhirnya kami berhasil naik. sampai di pinggir kami bersama2 menertawai baju kami yang basah kuyup. Di pondok sawah nenek, saya dan lian akan bermain sambil menonton orang2 yang bekerja, lian biasanya sangat ditunggu pekerja di sawah karena lian tidak malu2 selalu menyanyikan lagu2 nike ardilla dengan suara melengking. Mereka yang melihat pasti akan tertawa terpingkal2. Saya rindu bleki, anjing tetangga yang hitam garang, saya rindu anjing pertama kami, kumir, yang adalah anak dari bleki, pemberian tetangga kami. Saya masih ingat betul kumir pertama hitam tinggi, telinganya tegak, lidahnya hitam. Setiap orang yang melihatnya pasti akan memuji betapa tampan dan sangarnya anjing kami itu. Banyak orang menawar kumir dengan harga tinggi, bapak tidak secuilpun ada niat untuk melepaskan kumir. Saya masih ingat waktu jalan2 sore, saya kecil memegang rantai kumir, berlari2 mengikuti gerakan kumir memutari sekitar rumah. Hingga suatu hari kumir tidak pulang. Kami semua cemas, tetangga2 mengerahkan tenaga mencari kumir. Kumir pertama kami tidak pernah kembali. Bapak menemukannya di rumah seorang pemburu, kata bapak kumir kurus kering, hampir gila dan tidak lagi mengenali bapak. Hancur sekali rasanya perasaan saya waktu itu, kumir adalah teman saya sehari-hari. Tidak lama kemudian, seseorang datang ke rumah kami, mengantarkan kumir kedua, seekor anjing kecil, pemalas dan manja, sangat bertolak belakang dengan kumir pertama, telinga kumir kedua ini pun tidak tegak, melainkan menutup ke dalam. Susah payah kami akhirnya juga menyayangi kumir kedua yang ternyata sangat lucu, begitulah seterusnya, kumir akan selalu bergnti di rumah kami.
Masa kecil yang paling menyenangkan adalah ketika saya dan teman2 sekitar rumah mengaji di tempat nenek han yang lumayan jauh. Kami mengaji dari sore hingga malam. Sepanjang jalan yang kami lewati sama sekali tidak ada lampu jalan, karena itulah kami membawa obor dari rumah. Saya benar2 ingin mengulangi masa-masa pulang mengaji dengan obor menyala di tiap tangan kanan kami, ah indahnyaa, sekarang mana ada yang begitu :')
Banyak sekali hal-hal menyenangkan yang sangat indah buat saya ingat, dan jika dituliskan mungkin akan menjadi buku yang tebalnya menyaingi Harry Potter 4 :D
Well, semua periode dalam hidup saya menyenangkan dengan cara yang berbeda, tetapi masa 90an adalah masa yang paling menyenangkan buat saya, perfect timing, perfect place, perfect family, perfect friends, ah everything felt just a way too perfect that time :)
Dulu, setiap ingat masa-masa itu, saya selalu berpikir untuk tidak tumbuh dewasa, saya seandainya bisa akan memilih menjadi anak-anak selamanya.
Saya selalu berpikir bahwa peter pan sangat beruntung karena tidak pernah tumbuh dewasa, tetapi itu dulu... setelah ke sekian kalinya membaca "peter pan, return to neverland", saya sadar bahwa menjadi peter pan adalah membosankan, bahkan wendy kemudian memutuskan meninggalkan peter pan dan ingin tumbuh dewasa. Peter pan adalah figur ego saya, peter pan ditokohkan dari egoisme orang2 seperti saya dulu. Pada kenyataannya, tidak ada yang benar2 ingin menjadi anak2 selamanya.
Selama 22 tahun hidup saya, saya belajar banyak hal, dan saya sangat bersyukur diberi kesempatan tumbuh dan (menuju) dewasa. Seandainya saya adalah anak2 selamanya, saya tidak akan merasakan banyak hal. Saya memang ingin sekali kembali ke masa kecil, tapi, alasa utama saya ingin kembali adalah karena saya telah mengalami masa-masa setelah itu. Masa-masa setelahnya lah yang membuat masa kecil menjadi sangat berharga.
Saya tetap mengagumi peter pan, yang secara tidak langsung memotivasi saya untuk berkembang, untuk tidak stuck pada satu keadaan yang dianggap nyaman, seperti peter pan di neverland. Saya harus keluar, saya harus mencoba banyak hal, saya harus belajar hal-hal yang saya belum ketahui, dan pada intinya, saya HARUS tumbuh dewasa, amin..
I was once thinking to be peter pan in neverland, to live a sweet life as a kid forever, but as time goes by, life's teaching me a lot of wonderful things. And now I'm 22 and I'm glad to say that I want to GROW UP!
Once again, God, thankyou for giving me everyone and everything that make me what I am..
Setelah membaca buku itu, saya jatuh cinta sama peter pan. JM. Barry menurut saya adalah orang yang sangat jenius bisa menciptakan karakter seperti pan. Orang seumuran saya waktu itu kebanyakan berpikir untuk menjadi peter pan, "saya ingin menjadi anak-anak selamanya!" atau "menjadi dewasa itu rumit!".
Jika suatu hari nanti ditemukan mesin waktu, saya mau kembali ke tahun 90an. Saya ingin kembali ke rumah pertama yang saya kenal, rumah tua dari kayu dua lantai. Saya ingin kembali duduk di ruang tengah bersama bapak tepat jam 9 malam, setlah dipaksa sikat gigi dan cuci kaki, menemani bapak menonton dunia dalam berita, kemudian tidur dan terbangun waktu subuh, menyapu halaman yang penuh dengan daun cermai sambil menunggu bapak pulang dari masjid dan menyapa setiap orang yang lewat. Pagi belum berakhir, saya akan melanjutkan membersihkan setiap sudut rumah kayu yang penuh kenangan itu. Ibu masih sibuk di dapur sejak dini hari, sementara bapak akan mulai kesibukannya dengan memberi makan ayam, bebek, angsa, dan burung2 merpati peliharaannya di belakang rumah, dan adik kedua saya masih lelap. Aktivitas pagi berakhir di meja makan, ritual sarapan yang wajib, kemudian kami akan berpisah hingga sore hari.
Siang hari, sekolah selesai, saya kembali ke rumah kayu itu. Melepas sepatu dan meletakkannya di tempat sepatu, mengganti pakaian sekolah, makan siang, dan kemudian istirahat. Sore hari, ketika semua sudah kembali berkumpul di rumah, saya telah mandi dan siap berangkat mengaji di masjid depan rumah. Sore berakhir, saya akan kembali dengan ruang tengah rumah kayu itu, menyelesaikan semua pekerjaan rumah, sementara adik saya sibuk bermain, bapak menunggu dunia dalam berita, dan ibu menunggui kami dengan sulaman taplak meja ataupun sarung bantal. Semua terasa sangat sempurna. Saya sangat rindu senyum bapak saat berkomentar "wah tulisan mbak wit bagus, nek wis gede ini jadi jurnalis ini..", besoknya tulisan yang dipuji itu saya bawa terus ke sekolah, tidak bosan2 saya pandangi. Saya rindu saat2 saya dan nenek membuat manisan dari buah cermai di depan rumah kayu itu. Saya rindu Ibu yang melarang saya jajan tidak sehat di warung dan rela membuatkan apa pun makanan yang saya suka. Saya rindu minggu pagi ketika bapak mematikan TV yang sedang kami tonton karena kami belum mandi, saya rindu subuh minggu, ketika saya dan teman2 kecil saya lari pagi, bersama kakak2 sekitar rumah saya, saya ingat sekali kata2 kak ferdi ketika menyemangati kami lari pagi "ayo! ayo! lari, siapa cepat dapat istirahat!", kemudian saya akan sekuat tenaga lari mengimbangi kakak kakak saya, kemudian bisa ikut mereka istirahat, tidur2an di jalan yang masih sepi saat pagi. Saya rindu bermain monopoli, boneka, kartu, ular tangga dan permainan lainnya di rumah tetangga saya, rindu membaca topeng kaca, tidur siang bersama teman2 kecil. Saya rindu saat2 libur, ikut mengantarkan makanan ke sawah nenek. Saya akan memegang botol minum, berlari2 lincah menuruni jalan setapak bertanah, kemudian digendong di pundak bapak, menyebrangi sungai untuk sampai di pondok. Saya ingat sekali suatu hari, bapak menggendong adik saya, lian, sementara saya dituntun. Kami ingin menyebrangi sungai melewati sebuah batang kelapa yang berfungsi membendung sungai. Batang kelapa itu sudah licin, kami sangat berhati2, sampai tiba2 bapak terpeleset dan saya tertarik ke daerah bendungan yang dalam. Susah payah akhirnya kami berhasil naik. sampai di pinggir kami bersama2 menertawai baju kami yang basah kuyup. Di pondok sawah nenek, saya dan lian akan bermain sambil menonton orang2 yang bekerja, lian biasanya sangat ditunggu pekerja di sawah karena lian tidak malu2 selalu menyanyikan lagu2 nike ardilla dengan suara melengking. Mereka yang melihat pasti akan tertawa terpingkal2. Saya rindu bleki, anjing tetangga yang hitam garang, saya rindu anjing pertama kami, kumir, yang adalah anak dari bleki, pemberian tetangga kami. Saya masih ingat betul kumir pertama hitam tinggi, telinganya tegak, lidahnya hitam. Setiap orang yang melihatnya pasti akan memuji betapa tampan dan sangarnya anjing kami itu. Banyak orang menawar kumir dengan harga tinggi, bapak tidak secuilpun ada niat untuk melepaskan kumir. Saya masih ingat waktu jalan2 sore, saya kecil memegang rantai kumir, berlari2 mengikuti gerakan kumir memutari sekitar rumah. Hingga suatu hari kumir tidak pulang. Kami semua cemas, tetangga2 mengerahkan tenaga mencari kumir. Kumir pertama kami tidak pernah kembali. Bapak menemukannya di rumah seorang pemburu, kata bapak kumir kurus kering, hampir gila dan tidak lagi mengenali bapak. Hancur sekali rasanya perasaan saya waktu itu, kumir adalah teman saya sehari-hari. Tidak lama kemudian, seseorang datang ke rumah kami, mengantarkan kumir kedua, seekor anjing kecil, pemalas dan manja, sangat bertolak belakang dengan kumir pertama, telinga kumir kedua ini pun tidak tegak, melainkan menutup ke dalam. Susah payah kami akhirnya juga menyayangi kumir kedua yang ternyata sangat lucu, begitulah seterusnya, kumir akan selalu bergnti di rumah kami.
Masa kecil yang paling menyenangkan adalah ketika saya dan teman2 sekitar rumah mengaji di tempat nenek han yang lumayan jauh. Kami mengaji dari sore hingga malam. Sepanjang jalan yang kami lewati sama sekali tidak ada lampu jalan, karena itulah kami membawa obor dari rumah. Saya benar2 ingin mengulangi masa-masa pulang mengaji dengan obor menyala di tiap tangan kanan kami, ah indahnyaa, sekarang mana ada yang begitu :')
Banyak sekali hal-hal menyenangkan yang sangat indah buat saya ingat, dan jika dituliskan mungkin akan menjadi buku yang tebalnya menyaingi Harry Potter 4 :D
Well, semua periode dalam hidup saya menyenangkan dengan cara yang berbeda, tetapi masa 90an adalah masa yang paling menyenangkan buat saya, perfect timing, perfect place, perfect family, perfect friends, ah everything felt just a way too perfect that time :)
Dulu, setiap ingat masa-masa itu, saya selalu berpikir untuk tidak tumbuh dewasa, saya seandainya bisa akan memilih menjadi anak-anak selamanya.
Saya selalu berpikir bahwa peter pan sangat beruntung karena tidak pernah tumbuh dewasa, tetapi itu dulu... setelah ke sekian kalinya membaca "peter pan, return to neverland", saya sadar bahwa menjadi peter pan adalah membosankan, bahkan wendy kemudian memutuskan meninggalkan peter pan dan ingin tumbuh dewasa. Peter pan adalah figur ego saya, peter pan ditokohkan dari egoisme orang2 seperti saya dulu. Pada kenyataannya, tidak ada yang benar2 ingin menjadi anak2 selamanya.
Selama 22 tahun hidup saya, saya belajar banyak hal, dan saya sangat bersyukur diberi kesempatan tumbuh dan (menuju) dewasa. Seandainya saya adalah anak2 selamanya, saya tidak akan merasakan banyak hal. Saya memang ingin sekali kembali ke masa kecil, tapi, alasa utama saya ingin kembali adalah karena saya telah mengalami masa-masa setelah itu. Masa-masa setelahnya lah yang membuat masa kecil menjadi sangat berharga.
Saya tetap mengagumi peter pan, yang secara tidak langsung memotivasi saya untuk berkembang, untuk tidak stuck pada satu keadaan yang dianggap nyaman, seperti peter pan di neverland. Saya harus keluar, saya harus mencoba banyak hal, saya harus belajar hal-hal yang saya belum ketahui, dan pada intinya, saya HARUS tumbuh dewasa, amin..
I was once thinking to be peter pan in neverland, to live a sweet life as a kid forever, but as time goes by, life's teaching me a lot of wonderful things. And now I'm 22 and I'm glad to say that I want to GROW UP!
Once again, God, thankyou for giving me everyone and everything that make me what I am..
