Showing posts with label International Relations. Show all posts
Showing posts with label International Relations. Show all posts

Monday, July 26, 2010

Bosnia & Herzegovina

Di tahun 1994 hingga 1995, saya setiap malam duduk manis di depan televisi, menemani bapak menonton dunia dalam berita. Ketika itu saya tidak begitu mengerti apa yang diberitakan, hanya yang masih berbekas di ingatan saya adalah bahwa berita itu adalah tentang Sarajevo (nama yang sering disebut-sebut oleh bapak). Enambelas tahun kemudian, saat ini, saya sedang mengerjakan skripsi terkait peristiwa yang sama, Perang Bosnia. Saya baru menyadari belakangan ini mengapa waktu itu televisi gencar sekali menyiarkannya. Semakin banyak membaca mengenai perang ini, saya semakin sesak nafas saja. Perang yang tidak seharusnya terjadi, yang sangat disayangkan.
Sebelum perang berkecamuk, Yugoslavia dengan smeua negara bagiannya hidup rukun dan damai, apalagi di bawah pemerintahan Presiden Tito. Yugoslavia meski dihuni oleh etnis-etnis yang sangat berbeda, tetap bisa hidup damai. ketika Yugoslavia pecah, 1992, Bosnia Herzegovina memerdekakan diri. Mulailah berkecamuk perang antara kelompok etnis serbia yang menolak kemerdekaan dan etnis kroasia yang pro.
Percayalah kawan, kalau kau baca sejarah-sejarah perang ini, tidak akan ada sumber yang menyatakan sejarah perang ini dengan sama. Perang ini begitu kompleks, antara nasionalisme berlebihan, kebencian antar etnis, genosida dan berbagai asumsi lain. Tidak ada satu sumber pun yang dipastikan menulis dengan benar kronologis perang (itulah kenapa saya hampir gila dengan skripsi saya).
Dan inti dari perang-perang ini adalah "ethnic cleansing" yang sangat terkutuk. Krisis pemimpin terjadi di Yugoslavia pasca meninggalnya Presiden Tito, nggak ada yang memiliki kharisma seperti ketika beliau memimpin negara denga perbedaan etnis kompleks.
Paling parah adalah ketika pemerintahan Slobodan Milosevic. Milosevic mendukung tertara serbia untuk memerdekakan diri di wilayah Bosnia Herzegovina. Tidak hanya itu, Milosevikc juga mempopulerkan pembersihan etnis, yaitu etnis lain selain serbia dinyatakan pantas untuk disweeping, dibunuh, disiksa, dan tidak perlu dibiarkan ada di dunia. Saya ngeri membaca semua berita tentang itu. Saya lahir dan besar di tempat damai. Saya tau ada perang, televisi memberitakan banyak hal tentang itu, tapi ternyata saya tidak tau apa-apa tentang perang. Saya berdoa untuk orang-orang korban perang, tetapi saya tidak pernah benar-benar menghargai kemudahan yang saya dapatkan selama ini (ampuni saya Tuhan).
Di bosnia, enambelas tahun lalu, di jalan menuju Sarajevo (ibukotanya), kamu akan bisa menemukan hamparan luar bunga-bunga. Tidak, jangan tertipu, ada sepuluh juta ranjau darat di bawah bunga-bunga itu. Harga satu buah ranjau darat adalah 3 USD, tetapi untuk mengamankan satu ranjau itu dibutuhkan 300-1000 USD (gilak nggak?). Oke disekitar ranjau itu ada bacaan "awas ranjau!" "dilarang keras melintas, ada ranjau!", tapi nggak semua orang bisa baca. Pada kenyataannya banyak anak-anak dan orang tua yang tewas terkena ranjau. Di sarajevo, pada tahun 1994, banyak terjadi pengeboman oleh Serbia di tempat-tempat umum, di pasar, di jalan-jalan yang banyak dilalui orang, hingga di rumah-rumah. banyak orang mati sekaligus (inilah tujuan pembunuhan secara sistematis). Rumah-rumah dengan ratusan lubang akibat peluru tidak lagi berpenghuni karena ribuan orang telah menjadi pengungsi. Serbia juga menggunakan penembak jitu, kemanapun berlari akan tertembak dan mati.
Berdasarkan survey UNICEF 1993, ada 97% anak di Sarajevo pernah mengalami langsung serangan granat, 29 % merasakan kesediha nmendalam, 20% mengalami mimpi buruk dengan teratur, 55% anak pernah ditembak oleh penembak jitu, dan 66% anak-anak pernah mendapati diri mereka dalam keadaan dimana mereka pikir mereka akan mati. *menghela nafas dengan sangat berat*. Dalam perang, anak-anak adalah korban yang paling menyedihkan. Seorang duta kemanusiaan PBB, Tetsuko Kuroyanagi, bercerita dalam bukunya, Totto Chan and Children, bahwa ketika kunjungannya, anak-anak di Sarajevo diminta menggambar. Pikirkan apa sih yang digambar anak kecil pada umumnya? boneka? bunga? gunung? yah seharusnya mereka menggambar hal-hal lazim seperti itu, tetapi perang berkepanjangan membuat mereka menggambar bom, tank, dan dinamit. Mereka nggak berkesempatan menonton teletubbies seperti adik-adik kita, tidak bisa menonton doraemon seperti kita, mereka hidup di bawah ancaman, ketakutan, dan trauma karena perang. Mental mereka terluka.
Yang paling saya benci dari sejarah Perang Bosnia adalah cerita tentang kepolosan anak-anak yang dimanfaatkan untuk membunuh. Ketika perang berkecamuk, orang-orang mengungsi dari rumah. Ketika suasana agak mereda, mereka kembali ke rumah. Anak-anak senang sekali melihat boneka mereka amsih tergeletak di lantai, ketika mereka memeluk boneka itu, boneka itu meledak. Ketika anak-anak melihat tali tergantung dipohon, mereka penasaran dan berusaha menariknya, terjadi ledakan. Itu semua adalah jebakan!. Demi kelacaran perang, orang-orang mempelajari psikologi anak untuk membunuh, gila!.
Ah, beberapa bulan lalu, sekitar 16 tahun sejak kejadian itu, saya sedang berjuang, perjuangan kecil yang sangat tidak sebanding dengan perjuangan orang-orang pada Perang Bosnia. Saya tidak lagi menonton berita mengenai Sarajevo bersama bapak. Saya sendirian, berjuang meneliti hal terkait dengan Bosnia dan herzegovina. Ah betapa hidup ini penuh dengan benang merah.
Sejujurnya saya ngeri. Kita, Indonesia terdiri dari berbagai etnis, dan kita memiliki potensi sangat besar untuk pecah, tetapi semoga kita semua masih cukup waras (ide perang itu datang dari orang yang akalnya sudah terganggu) untuk tidak melakukan kekerasan terhadap kemanusiaan. Kita semua punya hak yang sama untuk hidup. Kalau kita ingin hidup, jangan pernah berpikiran untuk mematikan orang lain, karena orang lain juga punya keinginan yang sama seperti kita.
Semakin banyak kita belajar, semoga kita makin bisa menghargai hidup dan apa yang ada di sekita kita..
have a nice day!

Thursday, June 10, 2010

Poor Brown Pelican and Oil Spill

Hola Amigos..
karena boseeen sama berita2 tentang video mirip artis, marilah wahai kawan kita ngomongin masalah BP Oil aja yaa, sebelumnya yang pengen tau tentang BP klik di sini.
ceritanya Mei lalu terjadilah insiden oil spill yang menghebohkan, bikin heboh karena minyak yang mencemari itu jumlahnya naudzubillah banyak, kalo mau tau gimana kejadiannya, ini simak videonya.. *makasih buat bang youtube

hingga saat ini masih dilakukan proses oil cleanup di teluk meksiko, tempat terjadinya oil spill ini. si pakar2 mulailah kritik sana kritik sini. Obama banyak dinilai harus bertanggung jawab juga atas insiden ini soalnya ngasih izin pengeboran minyak bawah laut untuk pengadaan energi AS. Tapi banyak juga yang bilang kalo ini adalah tanggung jawab si BP, apapun pendapatnya, Oil Spill ini ngurusinnya nggak gampang (jd inget lapindo). semua pihak harus kerjakeras, BP Oil nggak mau disalahin sepenuhnya dengan justifikasi bahwa ini adalah kecelakaan. Nggak lama setelah insiden ini mereka langsung bikin iklan permohonan maaf, bukannya dapet simpati, malah dikecam sama Obama yang menyatakan kalo uang untuk bikin iklan itu mendingan dipake buat biaya bersihin Oil Spill aja.
Well, dulu peristiwa macam ini pernah terjadi di Alaska, di Prince William Sound tepatnya, saya punya national geographic edisi Januari 1990 yang memuat berita tentang ini, isinya menyedihkan (yang mau pinjem boleh ke saya).
Kejadian 20an tahun lalu keulang lagi
Lepas dari perdebatan siapa yang bertanggungjawab, saya sedih liat berita mengenai burung pelikan yang baru 6 bulan lalu dinyatakan nggak lagi termasuk dalam spesies yang terancam punah, eh sepertinya sekarang harus di list lagi dalam endangered species karena oil spill ini membahayakan mereka. saya pertama baca di sini silahkan baca juga dan siap2 miris liat foto pelikan yang susah bergerak setelah menyelam ke air, karena air udah terkena tumpahan minyak dan minyak itu bikin mereka nggak bisa menggerakkan sayap mereka. kadang2 ngeliat hewan yang menderita itu lebih menyedihkan daripada ngeliat manusia, akrena manusia punya akal, bisa cari solusi kalo kena masalah, lah kalo hewan nggak bisa apa2...
oke, segini aja curhat mengenai pelikan ini. saya masih berharap anak cucu saya nanti masih bisa liat pelikan. amiin..
pelikan, semoga bisa bertahan..
ada quote bagus dari Pete Wentz (Gitarisnya Fall Out Boys):
Seriously we went to the moon how long ago and we can't stop this oil spill? Shoot the dudes from jersey shore into it.
yang mau tau klik aja, ini tentang brown pelican, ini tentang dan berita dampak dari oil spill.
que tenga un buen fin de semana amigos :)

Wednesday, June 9, 2010

International Cooperation, The Answer of Poverty, Hunger, and Development Problems.

!Hola Amigos!
Here's just a simple thing in my mind, I've written this about a year ago but havent posted it yet :D
When firstly heard about international cooperation, we have to know what cooperation means. In Oxford Learner’s Pocket Dictionary, we could find that cooperation comes from the word cooperate, it means acting or working together with common purpose; or willingness to be helpful. This means that cooperation is not a bad culture to build in our life.
Cooperation began with the assumption that humanity is social beings. Everybody can not survive by his own. We will find that we need helps from another, and so does state. There will always be lack of a sources in one state but excess in others, so when those states decide to cooperate, they could complete each other. From that brief explanation, we will surely understand, why there should be an international cooperation, because of a very simple view that humanity is social beings that complete each other.
We can see now that our world is devided in to a lot of areas with different condition and situation. There are some areas that fully modernized and industrialized. But while people there living prosperously, more people is threaten by many reasons. Poverty and hunger is still the scariest problem we are facing. Everybody needs at least water and staple foods to keep staying alive but the fact in some area we are shown that the access to the food is difficult and sometimes unreachable. This fenomena is brought by the poverty and limited access to the food. Because of poverty, many people couldn’t get money to buy daily necessity. Even if United Nations has approved the Millenium developement Goals (MDGs) in 2000, and even though the first goal was the eradication of extreme poverty and hunger, with the target of halving the proportion of people living on less than a dollar a day by 2015, is it possible without international cooperation? I don’t think so. If there are no cooperation among nations, there will be no distribution of sources. For example Indonesia. Indonesia is dense populated country. In the year of 2008, we had to import rice because we could not fulfill the rice neccessary in our country. As we know, in that time we got so many natural disasters in many areas so the farmer couldn’t get the maximal result in the harvest time. Imagine if we didn’t cooperate with Thailand in importing rice, how many people would suffer hunger or even famine?
Back to Indonesia’s inner problem, the farmer couldn’t get the maximal harvest result because of the weather, development problems and also the lack of technology. This problems seem to be not possible to solved by our own. It is not a kind of skeptical veiws but it is realistic. We better try to realize the fact that now we had nothing to do with those problems. Why don’t we admit our weakness to be stronger? We need another hand to huddle us up. For example we could learn from japan. Japan is now on Green-tech Lifestyle. It is a programme to build the human resources, by the management, infrastructure, energy, and financial. It’s good for us to learn by the Japanese. Then about natural disaster problems. Many people thinks that natural disaster is Godsend. Based on my opinion, it might be true but it doesn’t mean that we can’t do anything. Japan is also a country that sensitively covered by natural disaster because of its mountainous topografy, but japanese had a high technology to overcome this problem. Japan is a developed country that has no problems with development problems. That’s all what we really need to understand. Once again, without cooperation, is it possible to apply in our country?
Further than poverty, hunger, and development, there will be a very big challenge in front of our faces, globalizations. Sooner we will enter a new era of borderless world where people may go and trade abroad easily without complicated rules. Free trade area seems to be a trend. Actually it doesn’t matter if we have the capability to stand by our own feet, but if we are less of capability and we have no intention to be closed to a capable county, we have to be ready to left and failed. I assert once more, i’m not in a skeptical view and I do regard people who thinks ideally that international cooperation is useless, but I prefer to be gently realized by seeing the fact.
We, like or dislike, agree or disagree, have to have a good cooperation with other country. Developing countries need to learn more from the prosperous countries. International cooperation is the right place for it. There’s no choice to live alone, we just choose whether we join international cooperation or ready to be left ^_^

Tuesday, June 8, 2010

Zeitgeist


Hola amigos, ceritanya saya akhir2 ini kebanyakan curhat di blog ini, hehe.. udah lama nggak menulis tentang Hubungan Internasional jadinya tulisan ini saya keluarkan juga di blog, semoga bermanfaat. ini review saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat dan Metodologi dalam Hubungan Internasional semester lalu, bahasanya nggak berat kok, jadi... enjoy :)

Zeitgeist adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh Peter Joseph pada tahun 2007. Film ini berisi berbagai macam konspirasi, mulai dari asal mula agama kristian, serangan terorisme 11 September, dan mengenai sistem perbankan dunia.

Bagian pertama film menunjukkan berbagai fakta yang merujuk pada konsep bahwa dunia dan alam semesta ini tercipta secara kebetulan dan degan begitu saja. Ini tentu berbalik sekali dengan kepercayaan orang yang beragama bahwa dunia ini diciptakan oleh ‘yang menciptakan’. Film ini teurtama manunjukkan konspirasi mengenai mitos Jesus Christ, dikaitkan dengan kepercayaan mesir kuno. Jesus Christ dianggap sebagai mitos yang sengaja dibuat dengan mengikuti kepercayaan mesir kuno dan sedikit ditambah dengan beberapa mitos dari kitab orang Yahudi. pada akhirnya film ini menegaskan bahwa Jesus Christ adalah karakter fiksi yang tidak benar-benar ada, yang dibuat dari mitos-mitos, ritual-ritual dan simbol-simbol.

Menurut saya, agama sesungguhnya memiliki epistemologi yang berbeda dengan epistemologi modern saat ini. Epistemologi modern saat ini menekankan pada segala sesuatu yang sifatnya empiris dan hanya dalam taraf kesadaran manusia yang peling rendah, sedangkan dalam agama, ada yang disebut alam halus dan alam bawah sadar dan dunia ini tidak hanya sebatas materi yang dapat diinderakan saja, melainkan mencakup semua isi dunia (termasuk yang tidak terinderakan) dengan penciptanya. Dilihat dari sisi liberalisme, film ini memiliki hak untuk menyebarkan argumen-argumen si pembuatnya, tetapi ternyata tidak smeua orang lantas langsung percaya begitu saja dengan konspirasi ini. Banyak juga orang yang tetap bertahan pada idealismenya. Sehingga meskipun pada akhir bagian pertama film ini dikatakan bahwa agama adalah perbudakan, mitos yang mengontrol masyarakat, namun faktanya tetap banyak orang yang beragama di dunia ini. Dan bagi saya sebagai seorang muslim, agama tentu saja bukan perbudakan. Jika Peter Joseph menemukan berbagai mitos dalam Injil (yang saat ini), maka saya mengingat bahwa bagi kaum muslim, Injil kaum Kristian adalah sebenarnya Injil yang sudah tidak murni lagi sehingga mitos yang dikemukakan oleh Joseph tidak ada berpengaruh terhadap agama saya, apalagi sampai membuat saya mengubah pola pikir saya atas agama saya.

Dalam bagian ke dua film ini diceritakan bahawa serangan teroris 11 september terhadap WTC adalah sebuah konspirasi, sebuah kebohongan besar. Peter Joseph menyebutnya sebagai “criminal elements within the US government staged a ‘flash flag’ terror attack on its own citizen, in order to manipulate public perception into supporting it’s agenda”. Dijelaskan pula bahwa ada kontrol terhadap masyarakat untuk memberikan gambaran atas apa yang disebut dengan ‘terorisme’ sebagai musuh bersama melalui manipulasi kelompok-kelompok tertentu yang dibayar untuk melakukan aksi teror dibawah kendali mereka.

Dalam realita hubungan internasional, menurut teori realisme, negara dibenarkan melakukan apa saja untuk mencapai kepentingannya, termasuk juga seperti yang diceritakan dalam film ini (jika itu pun benar). Kenyataannya negara juga dikuasai oleh sekelompok orang (pemerintah) yang bisa melakukan apa saja dengan kekuasaan itu demi kepentingan mereka, namun jika sampai pada tahap membuat kosnpirasi dengan memusnahkan manusia, tentu saja tidak bisa dibenarkan, melanggar HAM dan mengganggu stabilitas perdamaian di dunia ini.

Bagian ketiga dari film ini menceritakan mengenai konspirasi perbankan internasional yang menurut Peter Joseph hanya dikuasai oleh beberapa orang saja sejak jaman dulu. Bahkan diceritakan juga bagaimana konspirasi Perang Dunia I dan Perang Dunia 2 yang sengaja dibuat untuk mendapatkan keuntungan. Perang bagi bankir internasional adalah hal yang paling menguntungkan. Contohnya pada Perang Dunia I, mereka mendapatkan keuntungan 200 juta USD sementara perang hanya menghabisakan 30 juta USD saja. Diceritakan juga bagaimana kehidupan manusia saat ini dikontrol oleh apa yang disebut sebagai ‘the large company’ dimana sebenarnya manusia tidak benar-benar diberikan pendidikan, tetapi malah diberi lebih banyak hiburan melalui berbagai media agar tidak banyak berpikir. Ini berarti secara tidak langsung hidup manusia dikontrol dan pada akhirnya kontrol ini akan membentuk ‘world government’ dengan sebagian orang tadi sebagai penguasa.

Menurut saya berbicara mengenai ekonomi, pasti akan selalu ada golongan yang menguasai setiap transaksi yang terjadi. Dari kebanyakan transaksi ini, akan terkostruk mengenai siapa yang menjadi hegemon (yang menguasai secara dominan dan paling berpengaruh), hal ini tidak bisa dihindari. Jika sekelompok orang memanfaatkan hampir seluruh manusia di bumi ini sebagai sumber keuntungan mereka, maka tidak dapat dibenarkan.

well, saya selalu bingung kalo ngomongin masalah konspirasi. kalo kata Aquinas, teori konspirasi bisa dipakai jika benar2 diyakini dan lalu kemudian baru berusaha membuktikannya, buat saya kalo semua yang diceritakan di film ini adalah konspirasi, bukan tidak mungkin si pembuat film ini juga sedang berkonspirasi, hehe.. tapi setiap orang bebaslah berpendapat, toh ini negara demokrasi bukaan ^^

Monday, February 8, 2010

The City of Phnom Penh, Cambodia

I love the so blue sky in front of The Royal Palace.. di seberang saya adalah gedung perwakilan PBB. (photo by. Dina)
The Royal Palace, Istana Raja Kamboja yang masih single dan jago balet


Di depan The Royal Palace banyaaak sekali burung merpati, so beautiful :)
Mekong River
view sepanjang jalan, shoot from our bus
The Biggest Pagoda in Phnom Penh, masih difoto dari bus
City View... I do love the sky :)

Haii.. ini adalah cerita sambungan perjalanan ke beberapa Negara ASEAN di bulan Desember lalu. ceritanya kamitelah sampai di Kamboja dan telah mengelilingi kawasan gaulnya Phnom Penh, yaitu Front River yang persis di depan Sungai Mekong. hari pertama kami mengunjungi KBRI Kamboja, setelah Check out dari Princess Hotel. oiya terjadi kesalahan ketika sarapan pagi. saya dan dina, roommate saya turun masih sangat pagi ke restoran hotel. ada banyak sekali pilihan makanan, nasi dengan lauk daging yang menggoda, nasi goreng, roti, dll. saya mencari yang aman saja, makan nasi goreng (di Kamboja rata2 daging adalah pork/ham). teman saya ada yang makan nasi sama daging, kata mereka dagingnya enak, mereka juga tidak bertanya pada waiter/waitress yang ada, sampai akhirnya Mas Dodi, salah seorang dari pihak travel turun dan bilang "jangan makan daging sembarangan ya, nanti saya tanyakan dulu pada hotel, apakah makanan ini halal...". yaaah, telat, teman2 saya sudah banyak yang menelan daging itu, dan yang bikin mereka mual seketika adalah bahwa ternyata benar, lauk daging yang baru saja mereka makan itu mengandung pork alias daging babi, hehe.. lucu sekali melihat ekspresi teman2 saya waktu itu, awalnya mau marah, tetapi pada akhirnya mereka bilang daging itu enak :D
Di KBRI Kamboja, kami disambut sangat baik, langsung oleh Duber RI untuk Kamboja pada waktu itu, Bapak Nyoman (kabarnya sekarang sudah berganti)).
seminar hari itu diawali dnegan intermezo pihak KBRI yang bertanya apakah Kamboja sesuai dengan bayangan awal kami (sebagai Indoensia 20 tahun lalu, negara miskin, dll). kami menjawab tidak sepenuhnya iya, pada kenyataannya Kamboja biasa saja, mirip2 dengan Indonesia, masalah kemiskinan, saya perlu melakukan penelitian bertahun-tahun disana untuk kemudian memastikan bahwa negara itu memang miskin :D
selesai seminar, kami langsung dijamu makan siang di KBRI, saya ingat sekali, makanannya sangat enak, terutama ikannya.
sepulangnya dari KBRI, kami menuju ke Tuol Sleng (Genocide Museum). saya senang sekali, akhirnya saya bisa kesana. I've been dreaming of visiting Tuol Sleng for a year. next sory I'll tell about Tuol Sleng and its great history :)

Radovan Karadzic, Man of The Year

Karadzic, 64 tahun, yang usahanya gagal agar sidang perkaranya ditunda dan tuduhan terhadapnya dicabut, menghadapi hukuman penjara seumur hidup atas 11 kasus menyangkut kejahatan perang , kejahatan terhadap kemanusiaan, pembunuhan, deportasi, teror dan serangan-serangan tidak sah terhadap warga sipil pada Perang Balkan (Serbia-Bosnia Herzegovina) 1992.
Ditangkap tahun lalu dan dibawa ke pengadilan PBB yang berpusat di Den Haag (ICJ) setelah 11 tahun lari, Karadzic membantah semua tuduhan itu.
Mantan pemimpin Bosnia Serbia itu juga menghadapi dua kasus genosida dalam pengepungan 43 bulan Sarajevo dan pembantaian 8.000 pria dan anak-anak Muslim di Srebrenica tahun 1995.
Terungkap bahwa Karadzic berpraktik sebagai ahli pengobatan alternatif di ibukota Serbia saat ditangkap.
Jaksa Serbia mengatakan, Karadzic menunjukkan kartu identitas palsu. Dia bekerja dikatakan bekerja di sebuah klinik swasta dengan "penyamaran yang sangat meyakinkan", dengan jenggot putih panjang dan menyebut diri Dragan Dabic. Karadzic ditangkap pada hari Senin di dekat Beograd setelah lebih dari satu dasawarsa dalam pelarian.
Sejak tahun 1995, Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) mencarinya untuk diadili bersama dengan pemimpin Serbia Bosnia lainnya, antara lain Slobodan Milosevic yang meninggal di dalam tahanan dan Ratko Mladic yang masih buron.
Menteri Luar Negeri Serbia, Vuk Jeremic, mengatakan penangkapan Karadzic menunjukkan komitmen Beograd untuk bergabung ke Uni Eropa.
Justify Fullyang sedang berputar di kepala saya:
*Karadzic you're so cool! udah ngebantai ribuan orang, bisa kabur, nyamar sampai lebih dari 10 tahun di Wina, jadi tabib pulak *cross finger
*The Rome Statute (ICC/International Criminal Court) baru diratifikasi 1998, dan nggak berlaku surut, lalu kenapa diberitakan bahwa ICC sempat mencari2 Karadzic?
*kalau memang wewenang ICC, lalu kenapa setelah ditangkap karadzic malah diadili di Den Haag (PBB), oleh ICJ (International Court of Justice), bukan di ICC di Roma?
*haruskah saya membawa2 Beograd, Wina dalam masalah ini??? itu berarti saya harus membahas kepentingan politik beograd juga?
*bagaimana mungkin teori sistem David Easton, yang berbicara masalah kebijakan bisa relevan dengan isu ini? lalu kalau memakai teori normatif, menggunakan pasal2 dalam Hukum Humaniter Internasional, bagaimana mungkin, sementara pengadilan terhadap Karadzic masih berlangsung dan diperkirakan hingga tahun 2012, kapan saya lulusnya?

Friday, December 18, 2009

First Stop, Cambodia-Phnom Penh


holaa, ini adalah lanjutan cerita praktikum plus plus kami (mahasiswa HI Unpad 2006) ke Kamboja, Thailand, dan Singapura. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Kamboja, setelah transit di Malaysia tentunya. Kami tiba di bandara Phnom Penh sore hari tanggal 29 November. Ketika pesawat hampir mendarat, saya jujur saja merasa agak deg2an, seperti apa negara yang menurut Pak Dodi (pihak travel yang membawa kami) seperti Indonesia 20 tahun yang lalu. Pertama yang terlihat dari pesawat adalah lahan kosong dan hutan2. makin deg2an saja saya, apalagi sejak kegagalan kudeta tahun 1997, kamboja tetap saja kurang stabil.
tiba di bandara, semua kekhawatiran saya menguap, bandaranya bagus, dari segi interiornya, bandara soekarno-hatta dan KLCC menurut saya kalah, tetapi memang bandaranya sangat kecil. di sana kami lagi2 mengurusi fiskal dan keimigrasian. setelah itu lagi2 berfoto2 lalu keluar menuju bus,, lagi2 di sini saya merasa kamboja tidak seperti yang saya bayangkan, bus yang kami gunakan sama saja seperti bus di Indonesia. di parkiran bandara bahkan saya melihat banyak mobil2 bagus.
di dalam bus, kami berkenalan dengan tour guide dari kamboja bernama Mr. Boray, bahasa Inggrisnya bagus sekali dan dia juga sangat ramah. sepanjang perjalanan menuju restoran untuk makan malam, Mr. Boray banyak bercerita pada kami seputar kamboja. jalanan kamboja tidak berbeda dengan jalanan di kota2 di Indonesia, lalu lintasnya terkesan kacau dan macet, TAPIII... suasananya jauh berbeda dengan di negara kita. di kamboja, walaupun sangat macet dan walaupun banyak kendaraan yang semaunya melanggar lampu merah, suasananya tidak panas, dan jangan pernah berpikir akan ada suara klakson norah bersahut2an seperti di Indonesia. sopir bus yang kami naiki pun sabaar sekali dan ternyata Mr.Boray bilang, memang seperti itulah di kamboja, tidak ada suara klakson.
kami melewati beberapa jalan sore itu. kamboja dari segi arsitektur bangunannya memang belum seperti jakarta, tidak banyak gedung bertingkat melainkan banyak apartemen atau rumah susun yang terkesan tidak terawat, seperti tidak berpenghuni. di Phnom Penh, kita bebas mau naik motor bertiga atau berempat (kalau muat, hehe).
di bus, Mr. Boray juga mengajari kami beberapa patah bahasa kamboja, misalnya:
Okun: terimakasih
Knyom: saya
ta neak cmuhwai: siapa kah namamu?
knyom cmuh wida: nama saya wida
well, saya nggak tau pasti tulisannya gimana, apalagi tulisan khmernya, tapi kedengarannya begitu sih :D
tibalah juga kami di 'Mamak's Corner, Halal Foods', sebuah restoran India, kami akan memakan makanan pertama kami di kamboja. setelah menunggu, saya akhirnya mendapatkan bagian saya, sepiring nasi dengan gule daging (mirip rendang), sayur pak choy, cumi, dan telor dadar isi bawang bombay (sebenarnya bawang bombay pake telor, akhirnya saya barter dengan pak choy lagi ke teman saya Tora).
setelah berpose di mamaks, kami melanjutkan perjalanan ke hotel. kembali deg2an rasanya. bagaimanakah bentuk hotel kami nanti, apakah ada lampunya, atau apakah kamar mandinya bersih (ini semua karena stigma bahwa kamboja=Indonesia 20 tahun yang lalu).
hotel berbintang tiga yang kami tumpangi tiu bernama Princess hotel, berlokasi di main road Phnom Penh, tepatnya di 302 Monivong Road. hotel ini lumayan nyaman. setelah mendapat kunci kamar, kami (saya dan dina, teman saya sekamar), lagsung mangangkat koper ke atas, mencuci muka, mandi dan bersiap2 untuk jalan2 malam bersama teman lain.
kami berkumpul di lobi sekitar jam 10 malam (catatan, tidak ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Kamboja).
setelah itu kami menyewa tuk tuk (kendaraan khas di sana, satu motor menarik semacam gerobak beratap dan bisa dinaiki 6 orang, hehe). kami akan menuju tempat gaulnya Phnom Penh, yaitu kawasan Front River. setiap tuk tuk yang berisi 6 orang dibayar 5 US dollar. oiya di kamboja, orang2 lebih menghargai uang dollar ketimbang mata uang asli sana.
sampai di front river, saya sedikit tercengang, front River ternyata adalah kawasan di depan SUNGAI MEKONG, yaa, sungai yang kerap kali dibicarakan di mata pelajaran geografi dan ilmu pengetahuan sosial semasa saya sekolah. saya langsung mengucap syukur dalam hati, saya nggak pernah berpikir bisa sampai di sungai mekong. sungai mekong malam hari seperti sungai tempat hiburan, banyak perahu2 yang dijadikan tempat menonton film menggunakan layar lebar, sayang kami tidak berkesempatan menonton di atas perahu.
kawasan di seberang jalan sepangjang sungai mekong sangat ramai malam itu, banyak cafe2 dan toko2 yang masih buka. kami menyusuri front river dan mampir di beberapa toko (membeli minuman dll). saya sangat terkesan, orang kamboja ramah2, di salah satu toko yang menjual pulsa, saya sempat disapa oleh seorang penjaganya, kira2 dialog kami begini:
Mbak X: Excuse me (sambil senyum)
Saya: yes please.. (balik senyum)
Mbak X: where are you from?
Saya: Oh, I'm from Indonesia
Mbak X: Oh, Indonesi, okay..
Saya: hmm, why, is there anything wrong?
Mbak X: oh, no, I thought you're from Malaysia because you looks like a malaysian, I have a friend in malaysia, he often brought some malaysian to come here, I thought you're from his group
Saya: oh noo, I'm Indonesia, excuse me.. (saya senyum sambil keluar toko)
Mbak X: oh ya, thankyou very much, have a nice trip (senyum juga)
well, saya agak bingung apakah muka saya ini mirip muka malaysia? (eh emang apa bedanya muka malaysia sama indonesia?). nantinya sepanjang trip ini, saya akan beberapa kali dikira orang malaysia.
perjalanan kami akhirnya berhenti di sebuah Pasar Malam. disana sedang ada sebuah panggung. suasana malam itu ramai sekali, kami berkeliling ke tempat2 jualan, melihat2 dan sesekali menonton pemuda2 yang menyanyi di panggung (entah kenapa mereka nyanyi lagu mandarin). di pasar malam ini saya sedikit takjub, kamu bisa bilang tempat ini seperti jatos, hehehe.. ada orang yang berdandan sangat rapi, memakai dress dan make up total, tetapi ada juga yang hanya memakai sendal jepit dan baju tidur. ini kemudian menjelaskan pada saya secara tidak langsung tentang tingginya kesenjangan sosial di sana..
setelah puas ngetawain apa pun yang ada di sana (toh nggak ada yang mengerti bahasa kita, hehe), kami kembali ke jalan awal dimana kami diberhentikan oleh tuk tuk tadi. saya agak takut di sana, di depan sebuah cafe yang kami lewati, tepat di depan sebuah meja cafe yang berada di trotoar jalan, saya melihat seorang laki2 entah sudah mati atau tertidur, sangat kaku. dan anehnya, meskipun ada orang yang kaku di pinggir jalan dengan pose tangan meregang, bule2 yang duduk di meja cafe itu cuek saja, bahkan penjaja2 tuk tuk di sana juga tenang2 saja. saya deg2an tapi berusaha cool di depan teman2 saya, dan saya yakin mereka juga menakutkan hal yang sama.
well, hari sudah larut malam, kami langsung kembali ke hotel dan tertidur lelap. besok kami akan mulai mengunjungi KBRI Kamboja dan tempat2 wisata lainnya, ah cant wait to see Genocide Museum :)
***Bersambung

Wednesday, December 16, 2009

On Our Way to Cambodia




berpose di Soekarno Hatta International Airport :)

holaa amigos..
beberapa waktu saya telah absen dari blog karena adanya praktikum profesi, sekarang saya mau balas dendam, mau ngepost yang banyaak :D
FYI, saya baru aja ganti lay out, kembali ke layout lama favorit saya *blacky one karena layout kemaren, yang lucu itu ngga praktis dan ada beberapa kelemahan dibanding yang ini.
tepatnya tanggal 28 November pukul 23.00, saya dan teman2 yang mengikuti praktikum profesi ke ASEAN berkumpul di Pangdam, Jatinangor. setelah menjemput teman lain di bandung, kami segera menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. guess what, ketika check in dibuka pukul 06.00, kami tiba di sana pukul 03.00.
jam segitu di bandara membuat kami semua kedinginan..
well, to be honest, I was so excited, deg2an, nervouslah, ini kali pertama saya ke luar negeri. saya bahkan masih merasa seperti mimpi. I mean you know than I grow up in a small town, ga pernah kepikiran ke luar negeri deh. Tinggal di Curup (kota saya) juga udah seneng apalagi mau lihat negara orang ^^
setelah check in, kami langsung ngurusin bebeas fiskal ke pihak imigrasi. berhubung saya waktu itu masih berumur 21 tahun kurang 2 minggu, maka saya bisa bebas fiskal langsung (padahal saya udah buat NPWP, hehe). si petugas imigrasinya bilang "yaudah nanti kalo kamu udah ulang tahun baru kesini lagi" ketika saya kurang yakin bisa lolos tanpa menyerahkan fotokopi NPWP.
setelah menunggu beberapa saat.. OMG, tibalah saatnya kami terbang menuju kuala lumpur untuk transit, tetapi tidak lupa kami berfoto2 sebelum itu, hehe..


Transit di KL poto2 dulu *photos by banyak orang :D
setibanya di kuala lumpur, lagi2 kami ngurusin masalah imigrasi dan teman2nya dulu. setelah itu kami makan siang bersama di restoran 'Taste Asia'. makanannya enak, saya mengambil nasi, kuah kari, calamari pedas, dan ikan laut, yummiee^^
setelah makan, saya da beberapa orang teman sholat di musholla bandara, saya seneng banget bisa nyicipin solat di malaysia :)
setelah itu seperti biasa sesi foto2, kemudian kami menuju ke terminal keberangkatan ke kamboja, sebelum itu kami melewati toko coklat dan candies, hmm.. menggoda sekali, tetapi berhubung ngga punya duit ringgit, jadilah kami hanya icip2 saja, manisnyoo^^
and the real journey began there. akhirnya kami terbang menuju kambojaaa :)
*bersambung...

Saturday, May 16, 2009

The Boy in The Striped Pajamas



Holaa fellas.. saya udah lama banget ga ngupdate ini blog, udah banyak protes berdatangan dari sana sini (terutama dari mas bamby, Hehe). Jadi inilah debut pertama saya di bulan mei ini, selamat membaca, wish u all have a nice day!!!

The Boy in The Striped Pajamas
Ini adalah judul dari sebuah novel karya John boyne yang juga sudah difilmkan. Ceritanya adalah cerita yang bisa dibilang klasik, tentang kamp konsentrasi terbesar jerman “Auschwitz” yang di novel ini dibuat dalam versi bahasa anak-ananknya “outwith”, tentang hitler yang disini digambarkan sebagai “the Furry”. Sebenarnya jauh sebelum menonton film the Boy in The Striped pajamas ini, saya juga telah menonton film bertema sama berjudul Defiance, udah pada nonton belum?. Meskipun bertema sama, jangan berharap bahwa dalam film The Boy in The Striped Pajamas kita akan menemukan kesadisan-kesadisan dan kekejaman-kekejaman seperti di Defiance (dan menurut saya itu berlebihan dan saya malas menerima di akal sehat saya). Dalam film ini, kita malah akan tersentuh dengan persahabatan antara Shmuel (anak yahudi) dengan bruno (anak tentara Jerman). Persahabatan yang terlarang karena Bruno dan anak-anak jerman lainnya mungkin sejak lahir telah didoktrin bahwa kaum Yahudi bukanlah manusia, mereka hanyalah “subhuman” sehingga tidak pantas hidup. Bruno tetapi tidak melihat Shmuel sebagai sosok yang seperti itu.
Jujur saja saya paling mudah tersentuh dengan hal-hal yang menyedihkan, tetapi saya sama sekali tidak menangis membaca buku dan menonton film ini, bukan karena buku dan filmnya jelek, tetapi justru karena bagus! John Boyne menceritakan Bruno (tokoh utama buku ini) dengan polos sehingga tidak memancing emosi. Ayah Bruno bekerja sebagai petinggi di kamp tersebut sehingga Bruno harus pindah dari Berlin ke Outwith (kamp konsentrasi terbesar di Jerman). Bruno sama sekali tidak punya teman seusianya, namun, dari kamarnya di lantai paling atas rumah mereka, Bruno bisa melihat di balik pagar yang tinggi, ada semacam perkampungan yang berisi orang-orang yang sama (sama-sama memakai piyama garis-garis dengan tanda bintang di dada). Bruno pikir itu adalah perkampungan biasa, bahkan setelah dia berkenalan dengan Shmuel secara diam-diam, dia tidak pernah mengerti apa itu kamp konsentrasi. Yang dia tahu Shmuel makin lama makin kurus dan mukanya tidak bercahaya seperti dirinya. Persahabatan itu terus saja berlanjut, bruno selalu bisa diam-diam pergi ke pagar itu dan bertemu Shmuel, kadang-kadang membawakannya makanan. Mereka hanya mengobrol saja namun hal itu sangat membahagiakan buat Bruno. Singkat cerita, suatu hari akhirnya Bruno hendak kembali lagi ke Berlin, di saat yang bersamaan, Ayah Shmuel menghilang dari kamp mereka (saya berspekulasi bahwa papanya Shmuel sudah masuk kamp konsentrasi). Sebelum kembali ke Berlin, Bruno berjanji membantu mencari. Di hari terakhir itu, Bruno mengganti bajunya dengan piyama garis-garis lusuh dan bau yang dipinjamkan Shmuel dan menyamar menjadi anak Yahudi (meskipun bruno tidak menyadari apa yang dilakukannya itu). Untuk pertama kalinya Bruno melewati celah pagar itu dan benar-benar berada di satu tempat dengan Shmuel. Mereka mencari-cari ayah Shmuel di kamp, namun tidak ada, sialnya sebelum Bruno sempat pulang, mereka dikumpulkan di lapangan dan waktu itu hujan deras, mereka kemudian digiring masuk ke satu ruangan gelap yang hangat (belakangan saya tahu itu kamp konsentrasi), yang mengharukan, Bruno malah berpikir mereka dibawa ke ruangan itu untuk menghangatkan badan dan menghindari hujan, begitulah akhir nasib mereka dengan tangan masih saling menggenggam erat, mereka meninggal di kamp konsentrasi di Outwith. Ayah Bruno bahkan tidak pernah tahu bahwa anaknya bernasib sama seperti orang-orang yang dia bunuh di kamp konsentrasi.
Empat tahun yang lalu, waktu saya masih kelas dua SMA, saya pernah punya seorang sahabat yang pintar, sebut saja X, waktu itu si X ini adalah fans berat Hitler (ga tau sekarang masih atau engga). Saya waktu itu hanya tahu bahwa Hitler itu adalah penganut Nazi, Hitler itu telah membantai banyak orang Yahudi. teman saya si X ini malah menyukai Hitler karena alasan itu, karena Hitler telah membantu memusnahkan orang-orang Yahudi di muka bumi ini (tentu saja ini dikaitkan dengan sentimen agama), saya selalu berdebat dengan X (hampir semua hal saya perdebatkan), saya bahkan menjulukinya Hitler.
Buat saya sendiri, saya tidak akan membenarkan segala bentuk pembantaian lepas dari apakah itu menguntungkan atau tidak. Bukankah hak hidup adalah salah satu hak dasar manusia? Majelis Umum PBB dengan jelas menyatakan dalam Pasal 3 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia “setiap orang berhak atas penghidupan, kebebasan dan keselamatan individu”. Seandainya peraturan benar-benar ditegakkan, bahkan dalam perang pun, hal-hal mengenai kemanusiaan telah diatur oleh hukum humaniter, jus ad bellum dan jus is bello. Masalah-masalah yang lebih baru seperti terorisme (meskipun definisinya masih mnegambang) juga buat saya tidak dibenarkan meski pelaku teror kerapkali menggunakan alasan holy war, tugas suci. Agama mana yang memerintahkan untuk membunuh? Membuat kekacauan? Dalam Islam sendiri disebutkan “agamaku, agamaku, agamamu, agamamu”. Menurut saya biarkanlah kita menjalani apa yang masing-masing kita percayai. Konsekuensi dosa atas apa yang kita lakukan toh tidak dibagi-bagi, kita masing-masing menanggung sendiri kan? ?
Well, Ini hanyalah cerita, tetapi buat saya sangat berkesan. Saya merasa sangat beruntung menjadi salah seorang penstudi HI, sekarang saya bisa memandang banyak hal dari segala aspek. Bukan hanya dari aspek agama saja (seperti yang selama ini banyak saya lakukan). Buat saya agama bukan justifikasi atas kelakuan kita. Apalagi menghadapi perbedaan yang uncountable di dunia ini, setelah teori melting pot dan salad bowl dianggap tidak mampu menjawab, ada multikulturalisme yang menghargai perbedaan-perbedaan itu, dan semoga kita termasuk orang-orang yang berpikir (becouse many people just did whatever they want without deeply think about it). CHEERS!!!

Monday, March 9, 2009

Tentang Jepang-1

Tentang Jepang 1
Yang mau saya ceritakan adalah tentang bahasa jepang, bahasa yang awalnya saya pelajari bukan murni karena saya pengen, tapi lebih karena dorongan orangtua saya (awalnya dari kecil saya disuruh belajar mandarin, tapi ga pernah mau).
Beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengambil les bahasa Jepang di MMC Buah Batu, Bandung, bersama Sensei Kosashi (kangen juga sama beliau), setelah lewat satu level, saya postpone karena waktu itu lagi sibuk2 symphonesia, tapi ampe sekarang, saya belum ngelanjutin lagi dan sepertinya ga lanjut karena bebrapa hal. Selama belajar bahasa jepang empat bulan, saya udah dapet dasar2nya, hiragana, katakana, dan 10 kanji. Actually that was really fun, tapiii, entah kenapa, saya ga pernah 100% hafal katakana, no matter how hard I’ve tried!
Dari situ saya mikir, katana aja ga hafal2, apalagi nanti waktu saya udah dapet kanji, saya ga mau buang2 waktu belajar bahasa tapi useless karena saya ga bener2 menguasai, eh tepatnya susah menguasai.
Sebenernya sempet mikir, looser banget kalo Cuma gara2 gini aja nyerah belajar bahasa jepang, tapi, pas pulang, saya sakit dan terkena penyakit yang katanya penyakit orang tua (ga perlu disebutkan namanya), saya ditanyain sama Ibu saya, apa aja yang saya pikirin dan saya kerjain di jatinangor, saya bilang saya hanya memikirkan hal-hal biasa ky mahasiswi normal aja.
Tapi Ibu kita emang orang yang paling ngerti kita, dari cerita sehari-hari saya selama di rumah, Ibu tau kalo belajar bahasa jepang adalah salah satu hal yang memberatkan saya. Setiap jadwal les jepang, malam sebelumnya, saya harus mati2an menghafal ulang dan berlatih menulis katakana supaya bisa ngikutin pelajaran besoknya dengan baik, jadinya saya seperti belajar underpressure, terus Ibu bilang kalo les bahasa itu hanya kegiatan ekstra saya selain kuliah, jadi kalo terasa berat, just leave it. Menurut Ibu saya ga perlu maksain diri (terutama karena sakit waktu itu, hehe), kuliah aja udah berat, jadi ambil les bahasa yang ringan (emang ada gitu bahasa yang ringan?) dan ga bikin cape pikiran dan otak (padahal dulu aja disuruhnya belajar bahasa jepang ;)).
Sekarang saya udah berhenti dari MMC. Saya mengambil les bahasa spanyol, bahasa yang ga menghantui saya dengan huruf2 yang seabreg, hehe... tapi bukan berarti saya berhenti total belajar bahasa jepang, saya tetap belajar bicara bahasa jepang, karena saya terlanjur suka dengerin orang yang ngomong jepang, apalagi kalo di dorama2 gitu, kesannya kawaii ne... terus juga suatu saat saya ingin bisa pergi ke jepang, meminum ocha sebanyak2nya (I love to drink greentea), dan tentu saja, mampir ke rumahnya Takuya Kimura (dia pasti udah tua, haha) ama matsu jun (impian orang bodoh).