Di tahun 1994 hingga 1995, saya setiap malam duduk manis di depan televisi, menemani bapak menonton dunia dalam berita. Ketika itu saya tidak begitu mengerti apa yang diberitakan, hanya yang masih berbekas di ingatan saya adalah bahwa berita itu adalah tentang Sarajevo (nama yang sering disebut-sebut oleh bapak). Enambelas tahun kemudian, saat ini, saya sedang mengerjakan skripsi terkait peristiwa yang sama, Perang Bosnia. Saya baru menyadari belakangan ini mengapa waktu itu televisi gencar sekali menyiarkannya. Semakin banyak membaca mengenai perang ini, saya semakin sesak nafas saja. Perang yang tidak seharusnya terjadi, yang sangat disayangkan.
Sebelum perang berkecamuk, Yugoslavia dengan smeua negara bagiannya hidup rukun dan damai, apalagi di bawah pemerintahan Presiden Tito. Yugoslavia meski dihuni oleh etnis-etnis yang sangat berbeda, tetap bisa hidup damai. ketika Yugoslavia pecah, 1992, Bosnia Herzegovina memerdekakan diri. Mulailah berkecamuk perang antara kelompok etnis serbia yang menolak kemerdekaan dan etnis kroasia yang pro.
Percayalah kawan, kalau kau baca sejarah-sejarah perang ini, tidak akan ada sumber yang menyatakan sejarah perang ini dengan sama. Perang ini begitu kompleks, antara nasionalisme berlebihan, kebencian antar etnis, genosida dan berbagai asumsi lain. Tidak ada satu sumber pun yang dipastikan menulis dengan benar kronologis perang (itulah kenapa saya hampir gila dengan skripsi saya).
Dan inti dari perang-perang ini adalah "ethnic cleansing" yang sangat terkutuk. Krisis pemimpin terjadi di Yugoslavia pasca meninggalnya Presiden Tito, nggak ada yang memiliki kharisma seperti ketika beliau memimpin negara denga perbedaan etnis kompleks.
Paling parah adalah ketika pemerintahan Slobodan Milosevic. Milosevic mendukung tertara serbia untuk memerdekakan diri di wilayah Bosnia Herzegovina. Tidak hanya itu, Milosevikc juga mempopulerkan pembersihan etnis, yaitu etnis lain selain serbia dinyatakan pantas untuk disweeping, dibunuh, disiksa, dan tidak perlu dibiarkan ada di dunia. Saya ngeri membaca semua berita tentang itu. Saya lahir dan besar di tempat damai. Saya tau ada perang, televisi memberitakan banyak hal tentang itu, tapi ternyata saya tidak tau apa-apa tentang perang. Saya berdoa untuk orang-orang korban perang, tetapi saya tidak pernah benar-benar menghargai kemudahan yang saya dapatkan selama ini (ampuni saya Tuhan).
Di bosnia, enambelas tahun lalu, di jalan menuju Sarajevo (ibukotanya), kamu akan bisa menemukan hamparan luar bunga-bunga. Tidak, jangan tertipu, ada sepuluh juta ranjau darat di bawah bunga-bunga itu. Harga satu buah ranjau darat adalah 3 USD, tetapi untuk mengamankan satu ranjau itu dibutuhkan 300-1000 USD (gilak nggak?). Oke disekitar ranjau itu ada bacaan "awas ranjau!" "dilarang keras melintas, ada ranjau!", tapi nggak semua orang bisa baca. Pada kenyataannya banyak anak-anak dan orang tua yang tewas terkena ranjau. Di sarajevo, pada tahun 1994, banyak terjadi pengeboman oleh Serbia di tempat-tempat umum, di pasar, di jalan-jalan yang banyak dilalui orang, hingga di rumah-rumah. banyak orang mati sekaligus (inilah tujuan pembunuhan secara sistematis). Rumah-rumah dengan ratusan lubang akibat peluru tidak lagi berpenghuni karena ribuan orang telah menjadi pengungsi. Serbia juga menggunakan penembak jitu, kemanapun berlari akan tertembak dan mati.
Berdasarkan survey UNICEF 1993, ada 97% anak di Sarajevo pernah mengalami langsung serangan granat, 29 % merasakan kesediha nmendalam, 20% mengalami mimpi buruk dengan teratur, 55% anak pernah ditembak oleh penembak jitu, dan 66% anak-anak pernah mendapati diri mereka dalam keadaan dimana mereka pikir mereka akan mati. *menghela nafas dengan sangat berat*. Dalam perang, anak-anak adalah korban yang paling menyedihkan. Seorang duta kemanusiaan PBB, Tetsuko Kuroyanagi, bercerita dalam bukunya, Totto Chan and Children, bahwa ketika kunjungannya, anak-anak di Sarajevo diminta menggambar. Pikirkan apa sih yang digambar anak kecil pada umumnya? boneka? bunga? gunung? yah seharusnya mereka menggambar hal-hal lazim seperti itu, tetapi perang berkepanjangan membuat mereka menggambar bom, tank, dan dinamit. Mereka nggak berkesempatan menonton teletubbies seperti adik-adik kita, tidak bisa menonton doraemon seperti kita, mereka hidup di bawah ancaman, ketakutan, dan trauma karena perang. Mental mereka terluka.
Yang paling saya benci dari sejarah Perang Bosnia adalah cerita tentang kepolosan anak-anak yang dimanfaatkan untuk membunuh. Ketika perang berkecamuk, orang-orang mengungsi dari rumah. Ketika suasana agak mereda, mereka kembali ke rumah. Anak-anak senang sekali melihat boneka mereka amsih tergeletak di lantai, ketika mereka memeluk boneka itu, boneka itu meledak. Ketika anak-anak melihat tali tergantung dipohon, mereka penasaran dan berusaha menariknya, terjadi ledakan. Itu semua adalah jebakan!. Demi kelacaran perang, orang-orang mempelajari psikologi anak untuk membunuh, gila!.
Ah, beberapa bulan lalu, sekitar 16 tahun sejak kejadian itu, saya sedang berjuang, perjuangan kecil yang sangat tidak sebanding dengan perjuangan orang-orang pada Perang Bosnia. Saya tidak lagi menonton berita mengenai Sarajevo bersama bapak. Saya sendirian, berjuang meneliti hal terkait dengan Bosnia dan herzegovina. Ah betapa hidup ini penuh dengan benang merah.
Sejujurnya saya ngeri. Kita, Indonesia terdiri dari berbagai etnis, dan kita memiliki potensi sangat besar untuk pecah, tetapi semoga kita semua masih cukup waras (ide perang itu datang dari orang yang akalnya sudah terganggu) untuk tidak melakukan kekerasan terhadap kemanusiaan. Kita semua punya hak yang sama untuk hidup. Kalau kita ingin hidup, jangan pernah berpikiran untuk mematikan orang lain, karena orang lain juga punya keinginan yang sama seperti kita.
Semakin banyak kita belajar, semoga kita makin bisa menghargai hidup dan apa yang ada di sekita kita..
have a nice day!
Sebelum perang berkecamuk, Yugoslavia dengan smeua negara bagiannya hidup rukun dan damai, apalagi di bawah pemerintahan Presiden Tito. Yugoslavia meski dihuni oleh etnis-etnis yang sangat berbeda, tetap bisa hidup damai. ketika Yugoslavia pecah, 1992, Bosnia Herzegovina memerdekakan diri. Mulailah berkecamuk perang antara kelompok etnis serbia yang menolak kemerdekaan dan etnis kroasia yang pro.
Percayalah kawan, kalau kau baca sejarah-sejarah perang ini, tidak akan ada sumber yang menyatakan sejarah perang ini dengan sama. Perang ini begitu kompleks, antara nasionalisme berlebihan, kebencian antar etnis, genosida dan berbagai asumsi lain. Tidak ada satu sumber pun yang dipastikan menulis dengan benar kronologis perang (itulah kenapa saya hampir gila dengan skripsi saya).
Dan inti dari perang-perang ini adalah "ethnic cleansing" yang sangat terkutuk. Krisis pemimpin terjadi di Yugoslavia pasca meninggalnya Presiden Tito, nggak ada yang memiliki kharisma seperti ketika beliau memimpin negara denga perbedaan etnis kompleks.
Paling parah adalah ketika pemerintahan Slobodan Milosevic. Milosevic mendukung tertara serbia untuk memerdekakan diri di wilayah Bosnia Herzegovina. Tidak hanya itu, Milosevikc juga mempopulerkan pembersihan etnis, yaitu etnis lain selain serbia dinyatakan pantas untuk disweeping, dibunuh, disiksa, dan tidak perlu dibiarkan ada di dunia. Saya ngeri membaca semua berita tentang itu. Saya lahir dan besar di tempat damai. Saya tau ada perang, televisi memberitakan banyak hal tentang itu, tapi ternyata saya tidak tau apa-apa tentang perang. Saya berdoa untuk orang-orang korban perang, tetapi saya tidak pernah benar-benar menghargai kemudahan yang saya dapatkan selama ini (ampuni saya Tuhan).
Di bosnia, enambelas tahun lalu, di jalan menuju Sarajevo (ibukotanya), kamu akan bisa menemukan hamparan luar bunga-bunga. Tidak, jangan tertipu, ada sepuluh juta ranjau darat di bawah bunga-bunga itu. Harga satu buah ranjau darat adalah 3 USD, tetapi untuk mengamankan satu ranjau itu dibutuhkan 300-1000 USD (gilak nggak?). Oke disekitar ranjau itu ada bacaan "awas ranjau!" "dilarang keras melintas, ada ranjau!", tapi nggak semua orang bisa baca. Pada kenyataannya banyak anak-anak dan orang tua yang tewas terkena ranjau. Di sarajevo, pada tahun 1994, banyak terjadi pengeboman oleh Serbia di tempat-tempat umum, di pasar, di jalan-jalan yang banyak dilalui orang, hingga di rumah-rumah. banyak orang mati sekaligus (inilah tujuan pembunuhan secara sistematis). Rumah-rumah dengan ratusan lubang akibat peluru tidak lagi berpenghuni karena ribuan orang telah menjadi pengungsi. Serbia juga menggunakan penembak jitu, kemanapun berlari akan tertembak dan mati.
Berdasarkan survey UNICEF 1993, ada 97% anak di Sarajevo pernah mengalami langsung serangan granat, 29 % merasakan kesediha nmendalam, 20% mengalami mimpi buruk dengan teratur, 55% anak pernah ditembak oleh penembak jitu, dan 66% anak-anak pernah mendapati diri mereka dalam keadaan dimana mereka pikir mereka akan mati. *menghela nafas dengan sangat berat*. Dalam perang, anak-anak adalah korban yang paling menyedihkan. Seorang duta kemanusiaan PBB, Tetsuko Kuroyanagi, bercerita dalam bukunya, Totto Chan and Children, bahwa ketika kunjungannya, anak-anak di Sarajevo diminta menggambar. Pikirkan apa sih yang digambar anak kecil pada umumnya? boneka? bunga? gunung? yah seharusnya mereka menggambar hal-hal lazim seperti itu, tetapi perang berkepanjangan membuat mereka menggambar bom, tank, dan dinamit. Mereka nggak berkesempatan menonton teletubbies seperti adik-adik kita, tidak bisa menonton doraemon seperti kita, mereka hidup di bawah ancaman, ketakutan, dan trauma karena perang. Mental mereka terluka.
Yang paling saya benci dari sejarah Perang Bosnia adalah cerita tentang kepolosan anak-anak yang dimanfaatkan untuk membunuh. Ketika perang berkecamuk, orang-orang mengungsi dari rumah. Ketika suasana agak mereda, mereka kembali ke rumah. Anak-anak senang sekali melihat boneka mereka amsih tergeletak di lantai, ketika mereka memeluk boneka itu, boneka itu meledak. Ketika anak-anak melihat tali tergantung dipohon, mereka penasaran dan berusaha menariknya, terjadi ledakan. Itu semua adalah jebakan!. Demi kelacaran perang, orang-orang mempelajari psikologi anak untuk membunuh, gila!.
Ah, beberapa bulan lalu, sekitar 16 tahun sejak kejadian itu, saya sedang berjuang, perjuangan kecil yang sangat tidak sebanding dengan perjuangan orang-orang pada Perang Bosnia. Saya tidak lagi menonton berita mengenai Sarajevo bersama bapak. Saya sendirian, berjuang meneliti hal terkait dengan Bosnia dan herzegovina. Ah betapa hidup ini penuh dengan benang merah.
Sejujurnya saya ngeri. Kita, Indonesia terdiri dari berbagai etnis, dan kita memiliki potensi sangat besar untuk pecah, tetapi semoga kita semua masih cukup waras (ide perang itu datang dari orang yang akalnya sudah terganggu) untuk tidak melakukan kekerasan terhadap kemanusiaan. Kita semua punya hak yang sama untuk hidup. Kalau kita ingin hidup, jangan pernah berpikiran untuk mematikan orang lain, karena orang lain juga punya keinginan yang sama seperti kita.
Semakin banyak kita belajar, semoga kita makin bisa menghargai hidup dan apa yang ada di sekita kita..
have a nice day!


























