Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

Wednesday, June 23, 2010

Hobi Saya Membaca ;)

Amigos.. dulu ketika kecil saya ditanya mengenai hobi, saya pasti menjawab membaca, saya membaca apa pun yang saya temui dan saya menikmati itu. Mulai dari majalah bobo langganan, donal bebek dan doraemon yang saya beli sendiri dari menyisihkan uang jajan, buku-buku fiksi legendaris macam trio detektif, lima sekawan, lupus, olga, vanya, dan lainnya yang saya pinjam dari salah satu dari hanya dua taman baca di kota saya. Saya bahkan membaca semua majalah ibu, mulai dari majalah Nova, Kartika, Kartini, hingga tabloid Saji dan buku-buku masak.
Saya mendapatkan banyak kepuasan dari membaca semua itu. Banyak hal yang tidak saya ketahui menjadi tau. Ternyata dunia ini tidak hanya sebatas kota kecil tempat saya dibesarkan. Saya sejak Sekolah Dasar mulai memupuk banyak mimpi dari buku yang saya baca, bermimpi pergi ke Buckingham Palace suatu hari nanti, menyaksikan pergantian pengawal, melihat upacara kerajaan dan melihat semua tentang Inggris, ini karena pernah suatu ketika, Putri Diana meninggal dan semua yang saya baca di majalah Bobo adalah tentang Inggris. Suatu hari nanti saya bertekad ke sana. saya bahkan pernah bermimpi menjadi seorang kosmonot, astronot, astronom, atau apa pun yang berhubungan dengan luar angkasa. Bertahun-tahun membaca Bobo, isu-isu mengenai Unidentified Flying Objects (UFO) adalah isu yang selalu membuat penasaran. Ah, banyak hal yang saya dapat dari membaca..
Bersyukur rasanya bisa mengakses buku-buku. Di rumah, saya tidak bisa jauh dari buku. Kebiasaan bagus (tetapi menurut ibu saya buruk) saya adalah makan sambil membaca, hingga saat ini jika saya pulang ke rumah, saya akan kembali pada kebiasaan memegang buku saat makan, buku apa pun itu yang bisa saya baca, komik, koran, apa pun..
Ketika kuliah, saya tetap senang membaca, begitu banyak buku yang ingin saya baca (meskipun saya tetap memfavoritkan buku-buku fiksi), tetapi permasalahan setiap anak kos adalah menjadi bendahara untuk diri sendiri dan memikirkan hal-hal yang sifatnya prioritas. Saya tidak lagi bisa dengan mudah membeli buku-buku yang saya mau, saya lebih kepada membeli buku-buku yang saya butuh, buku-buku kuliah. Dan perlahan saya mulai kehilangan nikmat membaca. saya membaca apa yang saya harus baca, buku-buku politik, ekonomi dan hukum (, dan terkadang saya benci harus melakukan apa yang sebenarnya tidak begitu saya sukai. Membaca menjadi berat buat saya. Buku-buku yang saya ingin baca menjadi semacam pantangan buat saya, yang jika saya baca akan menjadi 'guilty pleasure'.
Kadang buat orang-orang yang terlalu ilmiah, mereka menganggap buku-buku fiksi adalah sampah, tidak penting, well, tidak masalah. setiap orang punya ketertarikan sendiri pada setiap hal. Tapi coba siapkan kertas, mulailah menulis, menuliskan apa saja yang ada di otak tidak mudah kan?. buat saya buku fiksi ataupun non fiksi punya bobot yang sama. buku non fiksi, yang ilmiah adalah buku yang umumnya sarat ilmu. tetapi saya lebih percaya bahwa pelajaran hidup itu adalah juga ilmu, lebih empiris bahkan, karena kita yang mengalami langsung, ajaibnya tidak ada yang tau pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. saya banyak belajar hal-hal kecil yang tidak saya ketahui sebelumnya dari buku-buku fiksi yang saya baca. tujuan hidup saya adalah menjadi orang yang bahagia, bukan menjadi orang pintar, hehe.. utopis sekali bukan?
Ah! kenapa saya jadi mengoceh absurd begini, hehe.. entahlah, sejak skripsi, saya membaca begitu banyak bahan yang membuat saya semakin merasa berdosa karena saya tidak bisa menikmati itu semua seperti ketika saya membaca buku-buku fiksi. Saya belajar menyukai membaca buku-buku Hubungan Internasional, sambil ditemani camilan, dan segelas susu coklat hangat, tapi selalu berakhir sama, pikiran yang kemana-mana dan mulut yang tidak berhenti menguap. Kalaupun saya berhasil menangkap apa yang saya baca, itu pastilah karena saya merasa terdesak, atau terancam, sehingga 'harus'.
Ehm.. saya pernah bercita-cita menjadi pengarang, saya punya banyak sekali notes dan diary sejak SD, saya suka menulis apa pun, bahkan sekedar mencoret-coret notes. Hingga kini, saya akan merasakan perasaan yang tidak bisa dilukiskan ketika membaca notes-notes saya waktu SMP dan SMA. Saya pernah berharap suatu hari nanti saya akan bekerja di depan laptop, mengetik cerita-cerita yang bisa mnginspirasi orang lain. Saya berharap bisa hidup dari hal yang saya sukai, menyenangkan sekali bukan?
Ah! sudahlah, jangan terlalu ditanggapi tulisan ini, ini hanyalah sekelumit pikiran yang entah kenapa berakhir di blog ini, tepatnya setelah saya membaca 3 novel karya Ilana Tan (setelah saya di acc untuk seminar UP, saya merasa berhak dengan kesenangan ini :D), dan saya sangaaaaat suka ketiga-tiganya...

yang terakhir, 'Summer In Seoul' belum saya baca, adakah yang berniat meminjamkan? Saya pengen baca (setelah seminar UP tentunya).
saya berharap buku ini difilmkan, amiin :)

Saturday, May 16, 2009

The Boy in The Striped Pajamas



Holaa fellas.. saya udah lama banget ga ngupdate ini blog, udah banyak protes berdatangan dari sana sini (terutama dari mas bamby, Hehe). Jadi inilah debut pertama saya di bulan mei ini, selamat membaca, wish u all have a nice day!!!

The Boy in The Striped Pajamas
Ini adalah judul dari sebuah novel karya John boyne yang juga sudah difilmkan. Ceritanya adalah cerita yang bisa dibilang klasik, tentang kamp konsentrasi terbesar jerman “Auschwitz” yang di novel ini dibuat dalam versi bahasa anak-ananknya “outwith”, tentang hitler yang disini digambarkan sebagai “the Furry”. Sebenarnya jauh sebelum menonton film the Boy in The Striped pajamas ini, saya juga telah menonton film bertema sama berjudul Defiance, udah pada nonton belum?. Meskipun bertema sama, jangan berharap bahwa dalam film The Boy in The Striped Pajamas kita akan menemukan kesadisan-kesadisan dan kekejaman-kekejaman seperti di Defiance (dan menurut saya itu berlebihan dan saya malas menerima di akal sehat saya). Dalam film ini, kita malah akan tersentuh dengan persahabatan antara Shmuel (anak yahudi) dengan bruno (anak tentara Jerman). Persahabatan yang terlarang karena Bruno dan anak-anak jerman lainnya mungkin sejak lahir telah didoktrin bahwa kaum Yahudi bukanlah manusia, mereka hanyalah “subhuman” sehingga tidak pantas hidup. Bruno tetapi tidak melihat Shmuel sebagai sosok yang seperti itu.
Jujur saja saya paling mudah tersentuh dengan hal-hal yang menyedihkan, tetapi saya sama sekali tidak menangis membaca buku dan menonton film ini, bukan karena buku dan filmnya jelek, tetapi justru karena bagus! John Boyne menceritakan Bruno (tokoh utama buku ini) dengan polos sehingga tidak memancing emosi. Ayah Bruno bekerja sebagai petinggi di kamp tersebut sehingga Bruno harus pindah dari Berlin ke Outwith (kamp konsentrasi terbesar di Jerman). Bruno sama sekali tidak punya teman seusianya, namun, dari kamarnya di lantai paling atas rumah mereka, Bruno bisa melihat di balik pagar yang tinggi, ada semacam perkampungan yang berisi orang-orang yang sama (sama-sama memakai piyama garis-garis dengan tanda bintang di dada). Bruno pikir itu adalah perkampungan biasa, bahkan setelah dia berkenalan dengan Shmuel secara diam-diam, dia tidak pernah mengerti apa itu kamp konsentrasi. Yang dia tahu Shmuel makin lama makin kurus dan mukanya tidak bercahaya seperti dirinya. Persahabatan itu terus saja berlanjut, bruno selalu bisa diam-diam pergi ke pagar itu dan bertemu Shmuel, kadang-kadang membawakannya makanan. Mereka hanya mengobrol saja namun hal itu sangat membahagiakan buat Bruno. Singkat cerita, suatu hari akhirnya Bruno hendak kembali lagi ke Berlin, di saat yang bersamaan, Ayah Shmuel menghilang dari kamp mereka (saya berspekulasi bahwa papanya Shmuel sudah masuk kamp konsentrasi). Sebelum kembali ke Berlin, Bruno berjanji membantu mencari. Di hari terakhir itu, Bruno mengganti bajunya dengan piyama garis-garis lusuh dan bau yang dipinjamkan Shmuel dan menyamar menjadi anak Yahudi (meskipun bruno tidak menyadari apa yang dilakukannya itu). Untuk pertama kalinya Bruno melewati celah pagar itu dan benar-benar berada di satu tempat dengan Shmuel. Mereka mencari-cari ayah Shmuel di kamp, namun tidak ada, sialnya sebelum Bruno sempat pulang, mereka dikumpulkan di lapangan dan waktu itu hujan deras, mereka kemudian digiring masuk ke satu ruangan gelap yang hangat (belakangan saya tahu itu kamp konsentrasi), yang mengharukan, Bruno malah berpikir mereka dibawa ke ruangan itu untuk menghangatkan badan dan menghindari hujan, begitulah akhir nasib mereka dengan tangan masih saling menggenggam erat, mereka meninggal di kamp konsentrasi di Outwith. Ayah Bruno bahkan tidak pernah tahu bahwa anaknya bernasib sama seperti orang-orang yang dia bunuh di kamp konsentrasi.
Empat tahun yang lalu, waktu saya masih kelas dua SMA, saya pernah punya seorang sahabat yang pintar, sebut saja X, waktu itu si X ini adalah fans berat Hitler (ga tau sekarang masih atau engga). Saya waktu itu hanya tahu bahwa Hitler itu adalah penganut Nazi, Hitler itu telah membantai banyak orang Yahudi. teman saya si X ini malah menyukai Hitler karena alasan itu, karena Hitler telah membantu memusnahkan orang-orang Yahudi di muka bumi ini (tentu saja ini dikaitkan dengan sentimen agama), saya selalu berdebat dengan X (hampir semua hal saya perdebatkan), saya bahkan menjulukinya Hitler.
Buat saya sendiri, saya tidak akan membenarkan segala bentuk pembantaian lepas dari apakah itu menguntungkan atau tidak. Bukankah hak hidup adalah salah satu hak dasar manusia? Majelis Umum PBB dengan jelas menyatakan dalam Pasal 3 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia “setiap orang berhak atas penghidupan, kebebasan dan keselamatan individu”. Seandainya peraturan benar-benar ditegakkan, bahkan dalam perang pun, hal-hal mengenai kemanusiaan telah diatur oleh hukum humaniter, jus ad bellum dan jus is bello. Masalah-masalah yang lebih baru seperti terorisme (meskipun definisinya masih mnegambang) juga buat saya tidak dibenarkan meski pelaku teror kerapkali menggunakan alasan holy war, tugas suci. Agama mana yang memerintahkan untuk membunuh? Membuat kekacauan? Dalam Islam sendiri disebutkan “agamaku, agamaku, agamamu, agamamu”. Menurut saya biarkanlah kita menjalani apa yang masing-masing kita percayai. Konsekuensi dosa atas apa yang kita lakukan toh tidak dibagi-bagi, kita masing-masing menanggung sendiri kan? ?
Well, Ini hanyalah cerita, tetapi buat saya sangat berkesan. Saya merasa sangat beruntung menjadi salah seorang penstudi HI, sekarang saya bisa memandang banyak hal dari segala aspek. Bukan hanya dari aspek agama saja (seperti yang selama ini banyak saya lakukan). Buat saya agama bukan justifikasi atas kelakuan kita. Apalagi menghadapi perbedaan yang uncountable di dunia ini, setelah teori melting pot dan salad bowl dianggap tidak mampu menjawab, ada multikulturalisme yang menghargai perbedaan-perbedaan itu, dan semoga kita termasuk orang-orang yang berpikir (becouse many people just did whatever they want without deeply think about it). CHEERS!!!

Monday, March 31, 2008

Akhirnya aku memiliki THE HOBBIT

hari ini ada kuliah umum sama dubes indonesia untuk serbia, pulangnya aku ke gramed, pengen beliin buku tentang web buat dang andi, kan sekarang kata rama yang paling gampang pake Joomla, eeehhh... dang andi minta yang html, binun euy...
besok2 aja x yaaa...
akhirnya aku nyari buku buat sendiri,
setelah sekian lama ke gramed dengan mupeng, tadi aku terpuaskan sudah, hehe...
aku beli the hobbitnya J.R.R.Tolkien, buku ini udah beberapa kali masuh berita, katanya terjual banyak banget dengan harga yang mahal di luar negri sana.. eh di gramed ada, ga terlalu mahal, jadilah aku beli, mudah2an sebagus Lord of The Ring...
senengnyaaa...
lumayan, hiburan penghilang stres.
dina beli virgin suicide, cerita tentang cawan suci gitu, pengen pinjeeemmm..
oiya, di gramed lagi banyak bgd buku baru,
aku pengen beli buku barunya eva ibbotson, pengen beli mitch albom 2 sama 3, waaa... pengen semuanya...
tapi yang paling pengen peter pan edisi yg cover merah, ada yang punya???
pinjem dunks!!!
bulan baru..
semangat baru..

widaaa ganbatte ne!!!

Wednesday, February 13, 2008

The Five People U Meet in heaven

The five people I meet in heaven


Setelah baca mitch Albom yg The five people You meet in heaven, aku jadi kepikiran buat nulis daftar 5 orang yang bakal aku temui di surga… oke, ini Cuma lucu2an doang, who knows who will I meet in heaven??

Jadi Mitch Albom kali ini nyeritai tentang Eddie, orang tua yang meninggal karena nyelametin seorang anak kecil.. ketika menyadari dirinya telah meninggal, Eddie, ternyata telah berada di surga, oke, jangan ketawa, mungkin ini kedengeran kayak dongeng atau lelucon, tapi asli ceritanya bagus banget.. di surga, Eddie ketemu sama 5 orang yang nggak disangka-sangka, misalnya gini, kalo boleh milih, mungkin kamu pengennya ketemu sama ibu, ayah, atau sodara kamu di surga, dan kamu yakin kalo kamu bakal nemuin orang2 yang deket sama kamu dan emang kamu kenal banget sama mereka, tetapi Eddie, di justru ketemu sama orang2 yang sebenernya nggak pernah dia bayangkan, bahkan dia nggak pernah kenal, tapi orang2 ini justru memiliki kisah yang sangat berhubungan dengan Eddie. Emang di dunia ini, ada banyak orang yang hidupnya kita pengaruhi dan memengaruhi hidup kita tapi orang2 ini nggak semuanya kita tahu karena ada yang langsung berhubungan sama kita dan ada yang secara tidak langsung. Contohnya gini, ketika kamu ngasih uang 500 rupiah ke tukang minta2, kamu nggak tahu kan uang itu digunakan buat apa, mungkin aja tukang minta2 itu terus beli lotre sama uang kamu itu dan dia bisa menang 1 M, kamu bisa aja nggak ketemu lagi sama dia karena kamu toh nggak ada hubungan apa2 sama tukang minta2 itu, kecuali kamu ngefans sama dia. Mungkin aja nanti di alam yang udah dia bisa ketemu kamu dan bilang “Makasih mbak, Mas, waktu itu udah ngasih saya duit gopek, jadi saya bisa jadi orang kaya seumur hidup saya, bantuin banyak orang, mendirikan banyak panti buat orang miskin, bla...bla...bla......”

Well, itu yang baek2nya, tapi perjalanan uang 500 kamu itu bisa jadi beda, misalnya ketika tukang minta2 itu udah menang 1 M terus uangnya dipake buat judi, trus ngehedon ga jelas terus maen2, nanti pas ketemu kamu di alam lain, dia bakal ngomong “Sialan lo mbak, Mas! Coba dulu nggak ngasih gue duit gopek, gue gal bakal menang lotere, gue kagak bakal dah idup susah di penjara, mati masuk neraka!”

Ya, hal-hal kecil yang kita lakuin terkadang berhubungan sama hal2 yang sangat besar, karena itu kita semua selalu memikirkan masak2 setiap apa yang mau kita kerjain.


Ok, bdw anyway... kalo aku disuruh ngelist 5 orang yang nggak terpikirkan bakal aku temui di surga kayak Eddie,, mungkin ini orang2 itu.

  1. Mr. Curiousity, The Freakest ever, hehe, see yaa in da heaven^^

  2. Anita Abrianti, nggak tau kenapa kynya aku bakal ketemu dia juga, nggak nyangka ya?? Ya emg nggak pernah kepikiran sih. Nita itu orang yang aku temui dalam sebagian besar hidup aku sekarang ini. Bangun pagi, yg pertama kali diliat, Nita, pagi, nita, siang, nita, malem, nita, yah, teman dan sodara dikala susah dan senang. Waktu aku kehabisan air galon, kaulah yg pertama kali ngasih supply minum, waktu sendok aku kotor semua, nita yg minjemin, kalo lagi kangen rumah, ngobrol sm nita jadi nggak kangen lagi, kalo lg banyak masalah di kampus, ngomong sama nita juga bisa, waktu lagi begadang ngerjain tugas, nggak jarang nita yg nemenin, walopun lebih sering gangguin, hehe

  3. My beloved brother, yg ini aku yakin banget bisa ketemu. Aku kan pengen liat dia juga, abis mukanya udah rada lupa, waktu itu kan masih kecil banget, walopun nanti aku mungkin nggak bisa milih ketemu sama dia, dia pasti pengen ketemu sama aku, jadi kita bisa cerita banyak, tentang hal2 yang harusnya kita ceritain bareng sejak lama...

  4. Pak Sahidin, beliau guru matematika waktu SMA, aku yakin banget yang bakal dia omongin pertama kali sama aku “Berapa IPK? Bagus kan?” gubrak!!!! Aduh pak, plis deh...tapiii... biarpun pak sahidin pernah bilang kalo logika aku terlalu rendah, He changed me alot... he changed my mind, so I can be what I am, he’s a very great motivator,, hidup pak Sahidin!!!

  5. yang ini memang nggak masuk akal, but nothing is impossible, rite?? Kayaknya aku bakal ketemu Peter Pan, tokoh rekaan J.M. Barrie, karena aku penasaran banget ketemu sama tokoh yang nggak mau jadi dewasa, hehehe...

ok, kira2 siapa five people you meet in heaven??? Bisa aja orang yang nggak pernah kamu bayangkan sama sekali, kayak si Eddie, oiya, ngingetin lagi kalo semua hal kecil yang kita lakuin bisa aja berdampak besar buat orang lain, jadi biar ngak nyesel entar2 kayak si Eddie, kita harus mikirin 1000 kali (lebay sih...) nggak ding, maksudnya kita harus lebih hati2 ya... ok see yaa...

nb: aku memilih lima orang diatas nggak ada maksud apa2, suwer deh! Tapi lima orang itu udah aku pikirin 1000 kali, hehe,, maksudnya udah memenuhi pertimbangan di sana sini dan melalui proses pemikiran yang sama sekali tidak subjektif, alaaaaah...