Bersyukur rasanya bisa mengakses buku-buku. Di rumah, saya tidak bisa jauh dari buku. Kebiasaan bagus (tetapi menurut ibu saya buruk) saya adalah makan sambil membaca, hingga saat ini jika saya pulang ke rumah, saya akan kembali pada kebiasaan memegang buku saat makan, buku apa pun itu yang bisa saya baca, komik, koran, apa pun..
Ketika kuliah, saya tetap senang membaca, begitu banyak buku yang ingin saya baca (meskipun saya tetap memfavoritkan buku-buku fiksi), tetapi permasalahan setiap anak kos adalah menjadi bendahara untuk diri sendiri dan memikirkan hal-hal yang sifatnya prioritas. Saya tidak lagi bisa dengan mudah membeli buku-buku yang saya mau, saya lebih kepada membeli buku-buku yang saya butuh, buku-buku kuliah. Dan perlahan saya mulai kehilangan nikmat membaca. saya membaca apa yang saya harus baca, buku-buku politik, ekonomi dan hukum (, dan terkadang saya benci harus melakukan apa yang sebenarnya tidak begitu saya sukai. Membaca menjadi berat buat saya. Buku-buku yang saya ingin baca menjadi semacam pantangan buat saya, yang jika saya baca akan menjadi 'guilty pleasure'.
Kadang buat orang-orang yang terlalu ilmiah, mereka menganggap buku-buku fiksi adalah sampah, tidak penting, well, tidak masalah. setiap orang punya ketertarikan sendiri pada setiap hal. Tapi coba siapkan kertas, mulailah menulis, menuliskan apa saja yang ada di otak tidak mudah kan?. buat saya buku fiksi ataupun non fiksi punya bobot yang sama. buku non fiksi, yang ilmiah adalah buku yang umumnya sarat ilmu. tetapi saya lebih percaya bahwa pelajaran hidup itu adalah juga ilmu, lebih empiris bahkan, karena kita yang mengalami langsung, ajaibnya tidak ada yang tau pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. saya banyak belajar hal-hal kecil yang tidak saya ketahui sebelumnya dari buku-buku fiksi yang saya baca. tujuan hidup saya adalah menjadi orang yang bahagia, bukan menjadi orang pintar, hehe.. utopis sekali bukan?
Ah! kenapa saya jadi mengoceh absurd begini, hehe.. entahlah, sejak skripsi, saya membaca begitu banyak bahan yang membuat saya semakin merasa berdosa karena saya tidak bisa menikmati itu semua seperti ketika saya membaca buku-buku fiksi. Saya belajar menyukai membaca buku-buku Hubungan Internasional, sambil ditemani camilan, dan segelas susu coklat hangat, tapi selalu berakhir sama, pikiran yang kemana-mana dan mulut yang tidak berhenti menguap. Kalaupun saya berhasil menangkap apa yang saya baca, itu pastilah karena saya merasa terdesak, atau terancam, sehingga 'harus'.
Ehm.. saya pernah bercita-cita menjadi pengarang, saya punya banyak sekali notes dan diary sejak SD, saya suka menulis apa pun, bahkan sekedar mencoret-coret notes. Hingga kini, saya akan merasakan perasaan yang tidak bisa dilukiskan ketika membaca notes-notes saya waktu SMP dan SMA. Saya pernah berharap suatu hari nanti saya akan bekerja di depan laptop, mengetik cerita-cerita yang bisa mnginspirasi orang lain. Saya berharap bisa hidup dari hal yang saya sukai, menyenangkan sekali bukan?
Ah! sudahlah, jangan terlalu ditanggapi tulisan ini, ini hanyalah sekelumit pikiran yang entah kenapa berakhir di blog ini, tepatnya setelah saya membaca 3 novel karya Ilana Tan (setelah saya di acc untuk seminar UP, saya merasa berhak dengan kesenangan ini :D), dan saya sangaaaaat suka ketiga-tiganya...
yang terakhir, 'Summer In Seoul' belum saya baca, adakah yang berniat meminjamkan? Saya pengen baca (setelah seminar UP tentunya).
saya berharap buku ini difilmkan, amiin :)

