Saturday, May 16, 2009

The Boy in The Striped Pajamas



Holaa fellas.. saya udah lama banget ga ngupdate ini blog, udah banyak protes berdatangan dari sana sini (terutama dari mas bamby, Hehe). Jadi inilah debut pertama saya di bulan mei ini, selamat membaca, wish u all have a nice day!!!

The Boy in The Striped Pajamas
Ini adalah judul dari sebuah novel karya John boyne yang juga sudah difilmkan. Ceritanya adalah cerita yang bisa dibilang klasik, tentang kamp konsentrasi terbesar jerman “Auschwitz” yang di novel ini dibuat dalam versi bahasa anak-ananknya “outwith”, tentang hitler yang disini digambarkan sebagai “the Furry”. Sebenarnya jauh sebelum menonton film the Boy in The Striped pajamas ini, saya juga telah menonton film bertema sama berjudul Defiance, udah pada nonton belum?. Meskipun bertema sama, jangan berharap bahwa dalam film The Boy in The Striped Pajamas kita akan menemukan kesadisan-kesadisan dan kekejaman-kekejaman seperti di Defiance (dan menurut saya itu berlebihan dan saya malas menerima di akal sehat saya). Dalam film ini, kita malah akan tersentuh dengan persahabatan antara Shmuel (anak yahudi) dengan bruno (anak tentara Jerman). Persahabatan yang terlarang karena Bruno dan anak-anak jerman lainnya mungkin sejak lahir telah didoktrin bahwa kaum Yahudi bukanlah manusia, mereka hanyalah “subhuman” sehingga tidak pantas hidup. Bruno tetapi tidak melihat Shmuel sebagai sosok yang seperti itu.
Jujur saja saya paling mudah tersentuh dengan hal-hal yang menyedihkan, tetapi saya sama sekali tidak menangis membaca buku dan menonton film ini, bukan karena buku dan filmnya jelek, tetapi justru karena bagus! John Boyne menceritakan Bruno (tokoh utama buku ini) dengan polos sehingga tidak memancing emosi. Ayah Bruno bekerja sebagai petinggi di kamp tersebut sehingga Bruno harus pindah dari Berlin ke Outwith (kamp konsentrasi terbesar di Jerman). Bruno sama sekali tidak punya teman seusianya, namun, dari kamarnya di lantai paling atas rumah mereka, Bruno bisa melihat di balik pagar yang tinggi, ada semacam perkampungan yang berisi orang-orang yang sama (sama-sama memakai piyama garis-garis dengan tanda bintang di dada). Bruno pikir itu adalah perkampungan biasa, bahkan setelah dia berkenalan dengan Shmuel secara diam-diam, dia tidak pernah mengerti apa itu kamp konsentrasi. Yang dia tahu Shmuel makin lama makin kurus dan mukanya tidak bercahaya seperti dirinya. Persahabatan itu terus saja berlanjut, bruno selalu bisa diam-diam pergi ke pagar itu dan bertemu Shmuel, kadang-kadang membawakannya makanan. Mereka hanya mengobrol saja namun hal itu sangat membahagiakan buat Bruno. Singkat cerita, suatu hari akhirnya Bruno hendak kembali lagi ke Berlin, di saat yang bersamaan, Ayah Shmuel menghilang dari kamp mereka (saya berspekulasi bahwa papanya Shmuel sudah masuk kamp konsentrasi). Sebelum kembali ke Berlin, Bruno berjanji membantu mencari. Di hari terakhir itu, Bruno mengganti bajunya dengan piyama garis-garis lusuh dan bau yang dipinjamkan Shmuel dan menyamar menjadi anak Yahudi (meskipun bruno tidak menyadari apa yang dilakukannya itu). Untuk pertama kalinya Bruno melewati celah pagar itu dan benar-benar berada di satu tempat dengan Shmuel. Mereka mencari-cari ayah Shmuel di kamp, namun tidak ada, sialnya sebelum Bruno sempat pulang, mereka dikumpulkan di lapangan dan waktu itu hujan deras, mereka kemudian digiring masuk ke satu ruangan gelap yang hangat (belakangan saya tahu itu kamp konsentrasi), yang mengharukan, Bruno malah berpikir mereka dibawa ke ruangan itu untuk menghangatkan badan dan menghindari hujan, begitulah akhir nasib mereka dengan tangan masih saling menggenggam erat, mereka meninggal di kamp konsentrasi di Outwith. Ayah Bruno bahkan tidak pernah tahu bahwa anaknya bernasib sama seperti orang-orang yang dia bunuh di kamp konsentrasi.
Empat tahun yang lalu, waktu saya masih kelas dua SMA, saya pernah punya seorang sahabat yang pintar, sebut saja X, waktu itu si X ini adalah fans berat Hitler (ga tau sekarang masih atau engga). Saya waktu itu hanya tahu bahwa Hitler itu adalah penganut Nazi, Hitler itu telah membantai banyak orang Yahudi. teman saya si X ini malah menyukai Hitler karena alasan itu, karena Hitler telah membantu memusnahkan orang-orang Yahudi di muka bumi ini (tentu saja ini dikaitkan dengan sentimen agama), saya selalu berdebat dengan X (hampir semua hal saya perdebatkan), saya bahkan menjulukinya Hitler.
Buat saya sendiri, saya tidak akan membenarkan segala bentuk pembantaian lepas dari apakah itu menguntungkan atau tidak. Bukankah hak hidup adalah salah satu hak dasar manusia? Majelis Umum PBB dengan jelas menyatakan dalam Pasal 3 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia “setiap orang berhak atas penghidupan, kebebasan dan keselamatan individu”. Seandainya peraturan benar-benar ditegakkan, bahkan dalam perang pun, hal-hal mengenai kemanusiaan telah diatur oleh hukum humaniter, jus ad bellum dan jus is bello. Masalah-masalah yang lebih baru seperti terorisme (meskipun definisinya masih mnegambang) juga buat saya tidak dibenarkan meski pelaku teror kerapkali menggunakan alasan holy war, tugas suci. Agama mana yang memerintahkan untuk membunuh? Membuat kekacauan? Dalam Islam sendiri disebutkan “agamaku, agamaku, agamamu, agamamu”. Menurut saya biarkanlah kita menjalani apa yang masing-masing kita percayai. Konsekuensi dosa atas apa yang kita lakukan toh tidak dibagi-bagi, kita masing-masing menanggung sendiri kan? ?
Well, Ini hanyalah cerita, tetapi buat saya sangat berkesan. Saya merasa sangat beruntung menjadi salah seorang penstudi HI, sekarang saya bisa memandang banyak hal dari segala aspek. Bukan hanya dari aspek agama saja (seperti yang selama ini banyak saya lakukan). Buat saya agama bukan justifikasi atas kelakuan kita. Apalagi menghadapi perbedaan yang uncountable di dunia ini, setelah teori melting pot dan salad bowl dianggap tidak mampu menjawab, ada multikulturalisme yang menghargai perbedaan-perbedaan itu, dan semoga kita termasuk orang-orang yang berpikir (becouse many people just did whatever they want without deeply think about it). CHEERS!!!

6 comments:

Bambino said...

Hore.......akhirnya muncul posting baru......
Wah, nampaknya ramai ya Mba Wida film ini...aku juga ingin nonton film2 dengan tema menarik kaya begini...
(klo aku keseringan nonton film disney, pixar dkk).....
Keep Posting......

wida said...

haha, bohong bamb!
bukannya kamu sukanya nonton film yang sadis2, ngakuu, hehe
banyak loh bamb film yang ga menonjolkan sisi kekerasan sm hal sadis2 tapi baguus..
bamb, bambynism dibagusin dong, dibaruin, okeoke

winasheila said...

aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh
kayaknya filmnya bagus wida....
sejenis sm life is beautiful ya...
pengen nonton deh,udah ada dvd nya blm ya??

wida said...

wahh, aku belum nonton life is beutiful, hehe.. tapi film ini bagus win, ga tau udah ada dvdnya ato belum, tapi aku ada filenya kalo mau, waktu itu didonlodin ama dina, hehe.. anak kecilnya lucu wina :)

winasheila said...

tonton wida!filmnya keren...
eh eh mau dong filmnya...tp nanti aku jg mau cari dvd nya...
anak kecilnya calon ganteng ya?hehehe...

wida said...

okeoke winaa, nanti dicari deh film life is beautifulnya..
kalo di film the boy in the striped pajamas ini, anak kecilnya emang calon ganteng, hehe.. apalagi yg namanya Shmuel, imuut bgt win.. hehe..