Thursday, July 10, 2008

WANTED, What a Terrible Nite!!

tadi malam adalah malam yangagak kurang menyenangkan buat saya, harus menonton film dengan sensorminim sekali, bukan masalah sensor pornografi dan pornoaksi, tapi sensor kekerasan, ada SANGAT BANYAK DARAH di film yang saya tonton, WANTED, film yang dibintangi Angelina Jolie dan menurut temen2 saya sangat bagus..
Geeky! how many times have I screamedout and closed my eyes??? ga keitung..
bagaimana bisa mereka semudah itu menampilkan tayangan yang membuat kekebalan manusia terhapap kekerasan berkurang??

jadi inget, 4 tahun yang lalu, aku pernah buat karya ilmiah tentang AVIDS (Acquired violence deficiency syndromme). ini adalah sindrom yang memang udah banyak diidap manusia. sindrom kelemahan kekebalan terhadap kekerasan. penyebabnya banyak, tayangan kekerasan di TV, di Game atau dari bahan bacaan..
simplenya begini, dulu kita merasa sangat tersentuh dan tidak tega ketika melihat ada orang dibunuh di berita TV, tetapi kita menjadi terbiasa seiring dengan menjamurnya berita-berita kekerasan dan kriminal yang cukup vulgar di TV, bahkan orang-orang bisa dengan tenangnya menonton semua degan di WANTED yang penuh dengan kepala pecah dan darah...
aku udah bertekad ga akan nonton film sejenis SAW, JIGSAW atau apapun sejenis itu, tapi akhirnya nonton jg film yg kaya gitu...
keluar bioskop lemes..

kembali ke AVIDS, sindrom ini dikemukakan pertama kali oleh Col. David Grossman, profesor di sebuah angkatan bersenjata di AS, aku bener2 setuju sama Grossman, bahwa mungkin di masa yang akan datang, kita akan terbiasa melihat pembunuhan di depan mata kita..

WANTED mungkin hanya film, tapi itu adalah perkataan orang yang sudah tidak lagi kebal terhadap kekerasan...

oiya, ini link sitenya Grossman, kali aja ada yang tertarik http://www.killology.com/

bdw Happy B'Day buat Ricco..
Makasih banyak traktiran nontonnya^^

Menilai Nilai dari saya..,

Setelah memerhatikan banyak perbincangan di milis HIMA HI, saya jadi tertarik untuk ikut angkat bicara.
Pertama mengenai nilai-nilai yang tidak bisa dimengerti, saya seringkali menjadi mahasiswa yang oleh teman-teman saya dianggap beruntung. Suatu kali saya pernah mendapat nilai A untuk mata kuliah yang hampir semua teman saya mendapat C dan D, sebut saja mata kuliah X, begitu banyak komentar teman-teman saya, kebanyakan sih begini “Beruntung banget lo da, bisa dapet A, gimana caranya?”
Komentar yang biasa saja, tetapi agak menyakitkan, hehe… Apakah nilai saya ini memang nilai keberuntungan?
mungkin ada faktor keberuntungan, seperti halnya semua yang kita dapat pasti diselipi faktor keberuntungan, tetapi sayangnya saya bukan orang yang lebih percaya keberuntungan daripada usaha.dosen mata kuliah X ini adalah dosen yang sepertinya sangat sibuk, sehingga jarang punya waktu buat kami di kelas. karena merasa kurang perhatian, awalnya saya, seperti kebanyakan teman-teman saya merasa malas juga untuk mempelajari sendiri mata kuliah X ini (menurut saya ini kelemahan saya, suka ikut-ikutan dosen, dosen nggak sempet ngajar, ikutan nggak belajar, hehe..).
menjelang ujian, kami semakin banyak memperbincangkan si dosen yang jarang sekali masuk, apa yang akan kami bawa ke ujian nanti, dan banyak lagi keluhan-keluhan tentang mata kuliah X ini. Namun akhirnya, ternyata ada hand out mata kuliah X ini di fotokopian. Saya pun tidak mau ketinggalan memfotokopi. Malam sebelum ujian, handout inilah yang saya baca. Rasa malas sedikit berkurang lantaran bahan bacaan hanyalah berupa handout, bukan puluhan buku wajib baca seperti mata kuliah umumnya.
Esoknya, di ruang ujian, semua ribut, termasuk saya, soal ujian mata kuliah X ini sangat banyak dalam berbagai bentuk, dan sayangnya menurut saya sangat sulit.
dalam soal ini, seingat saya, ada satu nama yang berulang-ulang disebutkan dalam banyak nomor, dan nama itu sempat saya baca malam sebelumnya (sayangnya sekarang saya lupa nama tokoh itu=<). inilah modal saya.
ketika melihat nilai saya yang A, saya merasa sangat bersyukur. Setelah melihat tips-tips teh Sendy untuk mendapatkan nilai bagus, sepertinya memang ada faktor keberuntungan (Alhamdulilah) dan saya juga berusaha baca2 handout, dan yang pasti berdoa.
ada juga teman yang dengan teganya bertanya, "lo kenal sama si dosen ya?" hghg.. kalo kenal sama dosennya sih iya, tapi apa beliau juga kenal sama saya? kayaknya enggak. soalnya saya belum pernah mendekatkan diri secara akademis seperti yang dituliskan di tips teh sendy, apalagi saya juga bukan mahasiswa yang eksis dan berdekat-dekat diri sama banyak dosen, hehe..
saya percaya nilai-nilai yang saya dapat adalah akumulasi proses panjang yang udah saya lakuin, bukan hanya faktor keberuntungan. saya berusaha, mungkin tidak seperti teman-teman saya yang subhanallah luar biasa setiap hari betah membaca buku-buku berat dan selalu giat belajar di kampus (pokoknya keliatan deh study oriented).
saya mungkin adalah mahasiswa biasa, mungkin sama seperti teman-teman lain yang kalo dapet nilai A, dibilang beruntung, but how do they know how hard I or maybe the others learned night by night? do they know how many glasses of coffee I need to keep my eyes opened to read in the middle of the night?
dont judge book by its cover, jangan pernah bilang teman saya yang biasa-biasa saja bisa dapet A, teman saya yang jarang masuk bisa dapat A, teman saya yang tugasnya ngasal bisa dapat A, siapa yang tahu kalau mereka justru belajar lebih keras dari kita di luar sana? Atau frekuensi doa mereka jauh melebihi kita?
saya selalu mengahragai teman saya yang walaupun banyak teman mendapat nilai A dan dia hanya mendapat nilai B, tetapi malah bilang, "Alhamdulilah, yang penting nggak ngulang, emang aku juga kurang sih belajarnya..."
tidak jarang juga sebenarnya saya kecewa dengan nilai yang saya dapat, awalnya muncul sedikit protes kecil dari mulut saya, setelahnya, saya simpan kekecewaan itu jauh-jauh, what goes around comes around, nilai ini adalah hasil belajar, usaha, dan doa saya dan saya sebagai manusia nggak berhak menentukan hasilnya.
Ada lagi pemikiran seorang teman yang benar-benar menampar saya ketika saya merasa sangat meragukan penilaian dan nilai saya, waktu itu ada dosen yang katanya menilai dari NPM, bagusnya nama, bahkan kecantikan mahasiswa (katanya…) saya langsung desperado mengingat ketiga indicator itu adalah indicator yang blur, tapi teman saya menyemangati dengan berkata, “Ah, saya mah nggak percaya yang begituan, kalo saya mah percaya kalo kita belajar, berdoa, insya Allah nilainya bagus..”
Dan benar saja, ketika nilai-nilai keluar, anggapan-anggapan itu sepertinya tidak begitu berlaku.
dan kalau memang nilai keberuntungan adalah nilai-nilaian, dan kalau memang nilai kita adalah nilai usaha, pada akhirnya nanti akan kelihatan kok, Time will show..
menurut saya, nilai-nilai kita adalah bagian kecil dari proses hidup, jangan berhenti disini saja, akan ada banyak sekali proses yang pada akhirnya nanti dihitung dan diputuskan hasilnya..
Ganbatte teman-teman!!!