Sunday, May 24, 2009

Cerita sedih ato lucu? Terserah anda...

aku dan Lian ^_^
aku dan adek :)

Ini adalah cerita tentang saudara-saudara kandung saya yang jumlahnya dua. Saudara pertama, sekarang usianya 18 tahun, namanya Wida Williannita, kalo saya manggilnya Lian, tapi adek saya yang paling kecil manggilnya mbak ian. Saudara kedua saya, umurnya baru 13 tahun, namanya Wida Tri Septia, tapi panggilannya Adek (ngga nyambung ya? Emang, hehe.. adek itu karena dia yang paling kecil diantara semua wida).

Saya dan lian hanya berbeda dua tahun, mungkin karena inilah saya dari dulu banyakan berantemnya sama dia, hehe... untungnya setelah saya SMA, kami jadi lebih berdamai, apalagi sekarang, saya merasa lebih dekat dnegan si Lian. Ketika adek lahir, saya dan adek menjadi sekutu. Waktu itu si Lian mungkin merasa kesal karena ngga jadi anak bungsu sehingga ga begitu deket sama Adek. Hingga adek masuk sekolah dasar, kami makin menjadi sekutu yang solid melawan Lian kalo berantem, hehe.. sampe saat ini pun masih begitu ;)

Waktu saya kuliah, saya masih inget, Adek selalu nelpon dan bilang “Mbak wit, kalo mba wit kuliah, adek nanya PR sm siapa? Adek tidur sm siapa?” terus saya jawab “kan ada mbak ian”, tapi adek saya malah misuh-misuh,”Adek males nanya sm mbak ian, pasti diomelin, adek males tidur sm mbak ian, kamar mbak ian berantakan”. Begitulah, awalnya si Adek ga ikhlas saya kuliah jauh, tapi lama-lama, dia mulai terbiasa.

Baru-baru ini, Lian selesai Ujian Nasional. Mulailah kami membicarakan perihal masa depannya (ciehh, hueks). Tadinya Bapak maunya Lian jangan kuliah jauh-jauh, cukup yang ada di dalam kotaku saja (sebenarnya bapak ga mau pisah sama anaknya yang satu ini, hehe), tapi kata ibu ngga adil, aku kuliah di luar kota tapi Lian engga, pas ditanya ke Lian, dia bilang maunya kuliah di Universitas Negeri di Jakarta, yasudahlah... kami mulai memikirkan tempat Lian bimbingan belajar. Tadinya mau di Bandung, karena di sini ada aku, tapi Lian sendiri bilang kalo di Bandung dia agak susah konsentrasi belajar. Akhirnya diputuskan dia bimbingan belajar di GO Palembang saja. Lian berangkat dianterin Bapak karena Ibu ga bisa bolos kerja. Saya ngga kebayang, dua orang yang ribuuut mulu kerjaanya bisa berangkat bareng ke PLG. Lian ini dari kecil emang agak lebih aktif dari saya, jadinya ampe bosen diomongin sm Bapak. Kalo saya suka lari pagi hari minggu sama Bapak, lian ngga mau ikut, kalo saya nuruut banget sm Bapak, lian ini lebih suka nurutin maunya dia sendiri. Jadilah ini momen yang sangat bersejarah, dua anak dan bapak harus lebih bersahabat, hehehe...

Sampai disini, ngga ada masalah buat saya hingga di hari ke-3 keberangkatan Lian dan Bapak ke Palembang, Ibu nelpon saya dan ngabarin kalo si Adek sakit, badannya demam. Saya belum kepikiran apa-apa, Adek emang sering sakit, apalagi kalo habis renang, pasti badannya panas. Lucunya, pas sorenya Ibu bawa Adek berobat ke Dokter, pulangnya Adek bilang gini “Ibu, kok Adek sakit ya.. apa gara2 ditinggal Mbak Ian sama Bapak ya, mungkin Adek kangen ya bu...”. hemmm ternyataa.. baru ditinggal 3 hari udah sakit, kalo di rumah aja ga akur..

Sampe disini, saya juga masih biasa-biasa saja, nanti juga lama-lama Adek biasa. Besok paginya Lian nelpon saya dan nyeritain kejadian yang jadi bikin saya sedih. Ceritanya pagi itu Ibu udah bangun, bapak masih di Palembang. Ibu seperti biasa, nyiapin sarapan, beres-beres rumah sebelum ngantor. Pas ibu lagi beresin kamarnya Lian, si Adek bangun dari kamar Ibu, keluar, terus langsung ke kamar Lian, “Ibu Mbak Ian mana? Udah bangun belum?”. Ibu langsung senyum “Adek, Mbak Ian kan sekarang bimbel di Palembang”. Si adek langsung jawab “Oh, Adek lupa...”. terus Adek langsung jalan ke sofa depan, tiduran lagi sendirian di sana (padahal ya, Adek ini penakut banget, mana berani dia ke subuh2 tidur sendirian di depan). Beberapa puluh menit kemudian Adek bangun, siap-siap berangkat ke sekolah, pas ditanyain sama Ibu, dia udah lupa, jangan-jangan yang tadi itu ngigo...

Saya pengen ketwa kalo inget cerita ini, tapi sedih juga. Di rumah saya Cuma ada lima orang, ibu, bapak, sama tiga wida, sekarang dua wida udah ga di rumah lagi, Adek jadi anak tunggal di rumah. Saya kasian sama dia, dia tidur sama siapa, dia nanya PR sama siapa, siapa yang ngingetin dia kalo kebanyakan main, pokoknya I’m worrying her so much... Adek ini biasanya pulang sekolah udah ada lian yang nemenin di rumah, jadwal pulang sekolahnya bareng, sekarang, dia harus nunggu 1 jam lebih sampe Ibu pulang untuk bisa masuk rumah (soalnya dia takut kalo sendirian di dalem rumah).

Sekarang setiap malam saya punya aktivitas baru, sms-an sama Adek, dia suka nanya-nanya PR lewat sms, kasian sekali jadi anak bungsu, harus ditinggalin sama kakak2nya...

Selain Adek, Ibu juga sekarang pasti jadi lebih repot. Di rumah saya ngga ada pembantu, kami udah biasa dari kecil bagi-bagi tugas, kata Ibu saya, malu kalo punya tiga anak gadis tapi rumah sendiri ngga keurus. Biasanya setelah saya kuliah, pekerjaan bersih-bersih dalam rumah itu jatahnya lian, sedangkah halaman rumah itu kerjaan adek sm bapak (halaman rumah saya depan belakang luas banget, banyak pohon2 dan tanaman2, kebayang kan gimana repotnya ngurusinnya). Selain itu di rumah saya ada dua anjing (namanya kumir semua, kabarnya sekarang tiga, ada anak baru kayanya...) yang harus diurusin juga, kandangnya kumir 1 dan kumir 2 ini di luar rumah, jadi sehari dua kali kita mesti keluar ngasih makan mereka, tiap sore harus ngelepasin rantainya (biar mereka bisa jalan2 juga), terus malem dirantai lagi di rumahnya, kebayang kan repotnya... dulu aku sama Lian biasanya bagi satu2, setelah aku kuliah, yah kadang-kadang Lian semua, tapi kalo dia males, Ibu juga ujung-ujungnya.. sekarang, setelah aku sama Lian ga di rumah, semuaa kerjaan rumah jadi pindah ke Ibu. Padahal ibu pagi-pagi, jam 07.15 udah harus apel terus jam 2 paling cepet sampe di rumah... aku kebayang capeknya (walopun Ibu ngga pernah ngeluh capek, hikshiks...)

Intinyaa... I MISS MY HOME, tapi harus nunggu waktu yang tepat buat pulang, lebaran nanti...

Saturday, May 16, 2009

The Boy in The Striped Pajamas



Holaa fellas.. saya udah lama banget ga ngupdate ini blog, udah banyak protes berdatangan dari sana sini (terutama dari mas bamby, Hehe). Jadi inilah debut pertama saya di bulan mei ini, selamat membaca, wish u all have a nice day!!!

The Boy in The Striped Pajamas
Ini adalah judul dari sebuah novel karya John boyne yang juga sudah difilmkan. Ceritanya adalah cerita yang bisa dibilang klasik, tentang kamp konsentrasi terbesar jerman “Auschwitz” yang di novel ini dibuat dalam versi bahasa anak-ananknya “outwith”, tentang hitler yang disini digambarkan sebagai “the Furry”. Sebenarnya jauh sebelum menonton film the Boy in The Striped pajamas ini, saya juga telah menonton film bertema sama berjudul Defiance, udah pada nonton belum?. Meskipun bertema sama, jangan berharap bahwa dalam film The Boy in The Striped Pajamas kita akan menemukan kesadisan-kesadisan dan kekejaman-kekejaman seperti di Defiance (dan menurut saya itu berlebihan dan saya malas menerima di akal sehat saya). Dalam film ini, kita malah akan tersentuh dengan persahabatan antara Shmuel (anak yahudi) dengan bruno (anak tentara Jerman). Persahabatan yang terlarang karena Bruno dan anak-anak jerman lainnya mungkin sejak lahir telah didoktrin bahwa kaum Yahudi bukanlah manusia, mereka hanyalah “subhuman” sehingga tidak pantas hidup. Bruno tetapi tidak melihat Shmuel sebagai sosok yang seperti itu.
Jujur saja saya paling mudah tersentuh dengan hal-hal yang menyedihkan, tetapi saya sama sekali tidak menangis membaca buku dan menonton film ini, bukan karena buku dan filmnya jelek, tetapi justru karena bagus! John Boyne menceritakan Bruno (tokoh utama buku ini) dengan polos sehingga tidak memancing emosi. Ayah Bruno bekerja sebagai petinggi di kamp tersebut sehingga Bruno harus pindah dari Berlin ke Outwith (kamp konsentrasi terbesar di Jerman). Bruno sama sekali tidak punya teman seusianya, namun, dari kamarnya di lantai paling atas rumah mereka, Bruno bisa melihat di balik pagar yang tinggi, ada semacam perkampungan yang berisi orang-orang yang sama (sama-sama memakai piyama garis-garis dengan tanda bintang di dada). Bruno pikir itu adalah perkampungan biasa, bahkan setelah dia berkenalan dengan Shmuel secara diam-diam, dia tidak pernah mengerti apa itu kamp konsentrasi. Yang dia tahu Shmuel makin lama makin kurus dan mukanya tidak bercahaya seperti dirinya. Persahabatan itu terus saja berlanjut, bruno selalu bisa diam-diam pergi ke pagar itu dan bertemu Shmuel, kadang-kadang membawakannya makanan. Mereka hanya mengobrol saja namun hal itu sangat membahagiakan buat Bruno. Singkat cerita, suatu hari akhirnya Bruno hendak kembali lagi ke Berlin, di saat yang bersamaan, Ayah Shmuel menghilang dari kamp mereka (saya berspekulasi bahwa papanya Shmuel sudah masuk kamp konsentrasi). Sebelum kembali ke Berlin, Bruno berjanji membantu mencari. Di hari terakhir itu, Bruno mengganti bajunya dengan piyama garis-garis lusuh dan bau yang dipinjamkan Shmuel dan menyamar menjadi anak Yahudi (meskipun bruno tidak menyadari apa yang dilakukannya itu). Untuk pertama kalinya Bruno melewati celah pagar itu dan benar-benar berada di satu tempat dengan Shmuel. Mereka mencari-cari ayah Shmuel di kamp, namun tidak ada, sialnya sebelum Bruno sempat pulang, mereka dikumpulkan di lapangan dan waktu itu hujan deras, mereka kemudian digiring masuk ke satu ruangan gelap yang hangat (belakangan saya tahu itu kamp konsentrasi), yang mengharukan, Bruno malah berpikir mereka dibawa ke ruangan itu untuk menghangatkan badan dan menghindari hujan, begitulah akhir nasib mereka dengan tangan masih saling menggenggam erat, mereka meninggal di kamp konsentrasi di Outwith. Ayah Bruno bahkan tidak pernah tahu bahwa anaknya bernasib sama seperti orang-orang yang dia bunuh di kamp konsentrasi.
Empat tahun yang lalu, waktu saya masih kelas dua SMA, saya pernah punya seorang sahabat yang pintar, sebut saja X, waktu itu si X ini adalah fans berat Hitler (ga tau sekarang masih atau engga). Saya waktu itu hanya tahu bahwa Hitler itu adalah penganut Nazi, Hitler itu telah membantai banyak orang Yahudi. teman saya si X ini malah menyukai Hitler karena alasan itu, karena Hitler telah membantu memusnahkan orang-orang Yahudi di muka bumi ini (tentu saja ini dikaitkan dengan sentimen agama), saya selalu berdebat dengan X (hampir semua hal saya perdebatkan), saya bahkan menjulukinya Hitler.
Buat saya sendiri, saya tidak akan membenarkan segala bentuk pembantaian lepas dari apakah itu menguntungkan atau tidak. Bukankah hak hidup adalah salah satu hak dasar manusia? Majelis Umum PBB dengan jelas menyatakan dalam Pasal 3 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia “setiap orang berhak atas penghidupan, kebebasan dan keselamatan individu”. Seandainya peraturan benar-benar ditegakkan, bahkan dalam perang pun, hal-hal mengenai kemanusiaan telah diatur oleh hukum humaniter, jus ad bellum dan jus is bello. Masalah-masalah yang lebih baru seperti terorisme (meskipun definisinya masih mnegambang) juga buat saya tidak dibenarkan meski pelaku teror kerapkali menggunakan alasan holy war, tugas suci. Agama mana yang memerintahkan untuk membunuh? Membuat kekacauan? Dalam Islam sendiri disebutkan “agamaku, agamaku, agamamu, agamamu”. Menurut saya biarkanlah kita menjalani apa yang masing-masing kita percayai. Konsekuensi dosa atas apa yang kita lakukan toh tidak dibagi-bagi, kita masing-masing menanggung sendiri kan? ?
Well, Ini hanyalah cerita, tetapi buat saya sangat berkesan. Saya merasa sangat beruntung menjadi salah seorang penstudi HI, sekarang saya bisa memandang banyak hal dari segala aspek. Bukan hanya dari aspek agama saja (seperti yang selama ini banyak saya lakukan). Buat saya agama bukan justifikasi atas kelakuan kita. Apalagi menghadapi perbedaan yang uncountable di dunia ini, setelah teori melting pot dan salad bowl dianggap tidak mampu menjawab, ada multikulturalisme yang menghargai perbedaan-perbedaan itu, dan semoga kita termasuk orang-orang yang berpikir (becouse many people just did whatever they want without deeply think about it). CHEERS!!!