Wednesday, June 30, 2010

I Love Them

Sejak beberapa waktu lalu, saya dihinggapi heboh-hebohnya persiapan KKN beberapa teman kosan dan mantan teman kosan saya, bukan hanya itu, saya juga sedang setres-setresnya mengurusi adik saya hingga pulang dan packing barang-barang untuk pindah kosan.
Saya akn muli dari cerita teman kosan saya. Saya adalah tipe mahasiswa yang betah di kosan, jarang pulang ke rumah (yaiyalah, rumahmu jauh wid!). Walaupun nggak dekat dengan semua orang di kosan, tapi sebagian besar lumayan akrab dengan saya, terutama yang dulunya juga sekosan dengan saya. Ceritanya dulu di tahun pertama dan ke dua, saya ngekos di daerah Pangdam, Jatinangor, Alhamdulilah saya dekat sekali dengan semua anak-anak di sana, kami menamai diri 'Jasmine Crew' sesuai dengan nama kosan. Sampai hari ini kami masih solid, masih suka kumpul-kumpul walaupun nggak sering. Di tahun ke dua saya ngekos di Jasmine, masuklah anak-anak baru, angkatan 2007 dari berbagai jurusan. karena di lantai atas saya sendiri yang angkatan 2006, jadilah mereka memanggil saya 'mami' (padahal apa hubungannya cobaa?). Walaupun nggak suka dipanggil mami, saya nggak keberatan selama yang manggil mereka. Usia kami memang beda satu tahunan, tetapi kadang kelakuan saya lebih labil. Banyak kejadian yang kami lewati di Jasmine, semua masih terekam jelas di kepala saya, kadang saya kangeeen banget sama masa-masa kami semua masih satu kosan. Setiap ada masalah, mereka yang pertama ada buat saya. Mereka mungkin tong sampah saya yang unlimited, teman yang bahkan lebih dari kayak pacar, selalu ada buat saya, 24 hours services (kayak band temen saya :D). Waktu kamar saya kemalingan, saya nangis kayak orang setres, mereka nungguin saya, nemenin berjam-jam di kantor polisi. Waktu suatu pagi telapak tangan saya robek kena pecahan gelas dan saya nangis (lagi) nggak bisa apapun karena ketakutan, mereka yang ngeberhihin luka dan membalut luka saya sampai mereka telat ke kampus dan ketinggalan buku di kosan. Dan banyak lagi di waktu-waktu yang lain, mereka selalu jadi first aid buat saya. Kami melewatkan banyak waktu menyenangkan bersama, menonton pertandingan bulutangkis bersama di TV sambil tidur bersama di atas satu karpet, teriak-teriak menyoraki, saling support di setiap ujian, bercerita bersama panjang lebar tanpa beban dan tentu saja saling membantu. Saya paling benci cicak, paling takut cicak, dan mereka adalah orang yang siap membantu mengeluarkan cicak dari kamar saya, meskipun butuh waktu lama dan menguras keringat (saya sangat berterimakasih untuk ini teman). Pernah suatu hari mereka semua panik karena saya dipanggil-panggil namun tidak juga keluar kamar, digedor-gedor juga tidak merespon. Mereka mengira saya kenapa-kenapa di kamar, ternyataa, saya sedang mendengarkan walkman, dan saya baru sadar setelah 1 side kaset habis saya dengarkan, kocak sekali, ketika saya sadar, ramai sekali orang di depan kamar saya. Ah! mereka sudah seperti keluarga buat saya. Sayang sekali, setelah satu tahun bersama, tepatnya memasuki tahun ketiga saya, kami berpencar kosan, sebagian di Simpang Sayang, sebagian di Ciseke, dan sebagian lagi bersama saya di Sukawening. Meskipun berpisah, kami masih punya waktu sesekali berkumpul lengkap dan melakukan hal-hal gila bersama. Itu cerita tentang Jasmine lengkap. Sekarang saya sekosan dengan 3 member Jasmine, dan kami tetap solid, melakukan (lebih) banyak hal gila bersama. Saya akan kangen masa-masa kami bertingkah sangat labil lalu tertawa lepas, atau sekedar duduk dan makan bersama sambil menonton dorama Jepang. Saya akan kangen dianggap sebagai orang yang lebih suhu alias lebih dewasa (mereka bilangnya lebih tuaa) dan dimintai pendapat tentang ini itu sama mereka. Saya akan kangen duduk bareng di sofa depan TV dan curhat-curhat kampus, atau saat kami heboh patungan membeli sayuran dan masak bersama, Ah! akan kangen semuanya.
Ketika saya pertama kali menjadi anak kos, Ibu saya mengingatkan bahwa saya di sini sendirian, bahwa saya harus bertingkah baik dengan teman kosan saya, mereka adalah keluarga saya di sini yang kalau terjadi apa-apa dengan saya, mereka adalah yang pertama yang akan menolong saya, bukan saudara saya di bandung ataupun di jakarta. Dan sekarang saya benar-benar paham maksud Ibu.
selain itu juga, Ibu kos saya sekarang sangatlah baik, kami semua seringkali bon sarapan, bon cuci selimut, sepatu, dan lain-lain. Ibu juga sering mengingatkan kami mengenai hal-hal penting. setiap malam, saat orang-orang seusianya sudah tidur, Ibu (begitu saya memanggil Ibu kos saya) malah masih patroli memastikan pintu-pintu sudah terkunci dan tidak ada yang mencurigakan. Ketika saya sakit parah nggak bisa bangun, Ibu yang membuatkan bubur untuk saya, ketika saya harus pergi subuh KKN, Ibu yang menyiapkan sarapan dan ojeg. Setiap bulan puasa, saya akan kangen suara Ibu yang membangunkan saya "neng, neng wida, sahur neng..", dan lalu saya dengan mata setengah terpejam akan menuju Ibu, mengambil makanan. Pernah suatu ketika jempol kanan saya bengkak terkilir saat main basket. Makin lama makin bengkak dan berwarna biru, akhirnya bisa sembuh diurut Ibu, Ah! terimakasih Ibu.
Well, semuanya terasa sangat lancar hingga hari ini, hari ini saya harus pindah kosan, ke kosan bulanan di daerah Cibeusi. Sebenarnya saya sudah packing sejak hampir seminggu yang lalu, tp entah kenapa perasaan saya baru hancur hari ini ^_^
Hari ini barang-barang saya akan diangkut ke kosan baru, berat sekali meninggalkan semua yang ada di sini walaupun mau tidak mau saya pasti pindah, hanya masalah waktu. Saya makin nyesek ketika mereka (anak-anak jasmine) berangkat KKN tadi pagi, saya beberapa hari ini sibuk membantu mereka packing dan menyiapkan segala kebutuhan KKN, ah entah bagaimana jadinya sebulan ini tanpa mereka, hehe..
Besok, saya akan sudah tinggal di kosan baru, dengan orang-orang baru juga, semoga semuanya lancar..
Terimakasih Jasmine Crew, terimakasih Ibu kosan, semoga Allah membalas kebaiakan kalian, amin.. I love you all..


Jasmine Crew

Ibu Kosan

Wednesday, June 23, 2010

Hobi Saya Membaca ;)

Amigos.. dulu ketika kecil saya ditanya mengenai hobi, saya pasti menjawab membaca, saya membaca apa pun yang saya temui dan saya menikmati itu. Mulai dari majalah bobo langganan, donal bebek dan doraemon yang saya beli sendiri dari menyisihkan uang jajan, buku-buku fiksi legendaris macam trio detektif, lima sekawan, lupus, olga, vanya, dan lainnya yang saya pinjam dari salah satu dari hanya dua taman baca di kota saya. Saya bahkan membaca semua majalah ibu, mulai dari majalah Nova, Kartika, Kartini, hingga tabloid Saji dan buku-buku masak.
Saya mendapatkan banyak kepuasan dari membaca semua itu. Banyak hal yang tidak saya ketahui menjadi tau. Ternyata dunia ini tidak hanya sebatas kota kecil tempat saya dibesarkan. Saya sejak Sekolah Dasar mulai memupuk banyak mimpi dari buku yang saya baca, bermimpi pergi ke Buckingham Palace suatu hari nanti, menyaksikan pergantian pengawal, melihat upacara kerajaan dan melihat semua tentang Inggris, ini karena pernah suatu ketika, Putri Diana meninggal dan semua yang saya baca di majalah Bobo adalah tentang Inggris. Suatu hari nanti saya bertekad ke sana. saya bahkan pernah bermimpi menjadi seorang kosmonot, astronot, astronom, atau apa pun yang berhubungan dengan luar angkasa. Bertahun-tahun membaca Bobo, isu-isu mengenai Unidentified Flying Objects (UFO) adalah isu yang selalu membuat penasaran. Ah, banyak hal yang saya dapat dari membaca..
Bersyukur rasanya bisa mengakses buku-buku. Di rumah, saya tidak bisa jauh dari buku. Kebiasaan bagus (tetapi menurut ibu saya buruk) saya adalah makan sambil membaca, hingga saat ini jika saya pulang ke rumah, saya akan kembali pada kebiasaan memegang buku saat makan, buku apa pun itu yang bisa saya baca, komik, koran, apa pun..
Ketika kuliah, saya tetap senang membaca, begitu banyak buku yang ingin saya baca (meskipun saya tetap memfavoritkan buku-buku fiksi), tetapi permasalahan setiap anak kos adalah menjadi bendahara untuk diri sendiri dan memikirkan hal-hal yang sifatnya prioritas. Saya tidak lagi bisa dengan mudah membeli buku-buku yang saya mau, saya lebih kepada membeli buku-buku yang saya butuh, buku-buku kuliah. Dan perlahan saya mulai kehilangan nikmat membaca. saya membaca apa yang saya harus baca, buku-buku politik, ekonomi dan hukum (, dan terkadang saya benci harus melakukan apa yang sebenarnya tidak begitu saya sukai. Membaca menjadi berat buat saya. Buku-buku yang saya ingin baca menjadi semacam pantangan buat saya, yang jika saya baca akan menjadi 'guilty pleasure'.
Kadang buat orang-orang yang terlalu ilmiah, mereka menganggap buku-buku fiksi adalah sampah, tidak penting, well, tidak masalah. setiap orang punya ketertarikan sendiri pada setiap hal. Tapi coba siapkan kertas, mulailah menulis, menuliskan apa saja yang ada di otak tidak mudah kan?. buat saya buku fiksi ataupun non fiksi punya bobot yang sama. buku non fiksi, yang ilmiah adalah buku yang umumnya sarat ilmu. tetapi saya lebih percaya bahwa pelajaran hidup itu adalah juga ilmu, lebih empiris bahkan, karena kita yang mengalami langsung, ajaibnya tidak ada yang tau pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. saya banyak belajar hal-hal kecil yang tidak saya ketahui sebelumnya dari buku-buku fiksi yang saya baca. tujuan hidup saya adalah menjadi orang yang bahagia, bukan menjadi orang pintar, hehe.. utopis sekali bukan?
Ah! kenapa saya jadi mengoceh absurd begini, hehe.. entahlah, sejak skripsi, saya membaca begitu banyak bahan yang membuat saya semakin merasa berdosa karena saya tidak bisa menikmati itu semua seperti ketika saya membaca buku-buku fiksi. Saya belajar menyukai membaca buku-buku Hubungan Internasional, sambil ditemani camilan, dan segelas susu coklat hangat, tapi selalu berakhir sama, pikiran yang kemana-mana dan mulut yang tidak berhenti menguap. Kalaupun saya berhasil menangkap apa yang saya baca, itu pastilah karena saya merasa terdesak, atau terancam, sehingga 'harus'.
Ehm.. saya pernah bercita-cita menjadi pengarang, saya punya banyak sekali notes dan diary sejak SD, saya suka menulis apa pun, bahkan sekedar mencoret-coret notes. Hingga kini, saya akan merasakan perasaan yang tidak bisa dilukiskan ketika membaca notes-notes saya waktu SMP dan SMA. Saya pernah berharap suatu hari nanti saya akan bekerja di depan laptop, mengetik cerita-cerita yang bisa mnginspirasi orang lain. Saya berharap bisa hidup dari hal yang saya sukai, menyenangkan sekali bukan?
Ah! sudahlah, jangan terlalu ditanggapi tulisan ini, ini hanyalah sekelumit pikiran yang entah kenapa berakhir di blog ini, tepatnya setelah saya membaca 3 novel karya Ilana Tan (setelah saya di acc untuk seminar UP, saya merasa berhak dengan kesenangan ini :D), dan saya sangaaaaat suka ketiga-tiganya...

yang terakhir, 'Summer In Seoul' belum saya baca, adakah yang berniat meminjamkan? Saya pengen baca (setelah seminar UP tentunya).
saya berharap buku ini difilmkan, amiin :)

Sunday, June 20, 2010

It's about The Man I love The Most

He's the closest man to me in my whole life, the best man I've ever known, the most reliable man for me, the man that understand me the most, the man who think of me in his every breath, the man who lift me up in my in my every fall.. He's someone the words just couldnt tell..
He's my Dad, I love him..
Happy Father's day, Bapak..

...that he's no hero, but he's doing what he can
trying to make me a better man,
he's no hero, but he made me what I am..

Friday, June 18, 2010

The Flight

Waktu itu aku telah duduk di dalam sebuah pesawat yang akan terbang ke suatu tempat. aku duduk tepat di sebelah jendela. Masih ada dua bangku kosong di sebelahku. Seperti biasa aku akan sangat penasaran dengan orang yang akan duduk di sebelahku. Aku pernah bersebelahan dengan mahasiswa sepertiku, kami lalu mengobrol banyak, aku pernah bersebelahan dengan ibu muda yang membawa bayi dan cemas takut telinga si bayi tidak tahan dengan tekanan udara di atas, bahkan aku pernah juga bersebelahan dengan orang yang phobia terbang, bersebelahan dengan siapapun akan membawa cerita mengesankan sendiri, karena itulah waktu itu aku tak sabar menunggu.
Satu persatu penumpang masuk, beragam manusia, aku menebak-nebak manakah yang akan duduk tepat di bangku sebelahku, lewat sepuluh menit, belum juga. Aku mulai bosan dan memandangi landasan pesawat di luar jendela. Refleks aku menoleh saat ada gerakan di sebelahku, oh, itu orangnya, aku memandanginya sekilas kemudian kembali pada aktivitasku melihat ke luar jendela. Aku sudah tidak lagi penasaran walaupun bisa dibilang, aku tidak mengenalnya. Dia mungkin seumuran denganku, berpostur tinggi dan saat itu bergaya sangat santai. Penilaian itu aku rasa cukup. Aku kembali menoleh tak sadar ketika mulutnya mengucap "nitip ya", kemudian meletakkan handbag-nya di bangku, lalu berjalan ke kabin belakang. Aku juga masih belum sepenuhnya sadar ketika mengangguk. Aku hanya memandangi handbag hitam itu, takut jika ada penumpang yang berniat jahat. Tidak sampai lima menit, orang itu telah duduk di bangkunya kembali dan telah mengucap terimakasih, aku juga masih tetap refleks balas tersenyum mengangguk.
Ketika pesawat siap terbang, hari mulai gelap. aku duduk tepat di sebelah jendela, bangku disebelahku masih kosong, dan dia, dia duduk di sebelah bangku kosong itu.
Hingga pintu kabin ditutup, tak ada yang menempati bangku di sebelahku. Merasa tidak enak aku bertanya padanya apakah mungkin bangku disebelahku bakal terisi, dia menjawab "sepertinya tidak mungkin, pintu kabin sudah ditutup, kau bisa duduk di bangku itu kalau kau mau", dan (lagi) aku refleks menghempaskan badan di bangku tengah itu, kemudian sedikit melempar tasku ke bangku yang tadi aku duduki, tepat disebelah jendela. Pesawat mulai berdesing dan berjalan perlahan. Hari sudah benar-benar gelap. Ketika pesawat bergerak menjauh, yang terlihat tinggallah warna warni cahaya lampu yang ada di berbagai penjuru bandara, indah sekali. Ketika pesawat lepas landas, aku memejamkan mata, terjadi guncangan yang sangat biasa
Secara tidak sadar aku mengamati orang di sebelahku dari ujung pandanganku. Aku tidak menoleh ke arahnya, tetapi hanya sekilas memandanginya. Sepertinya dia tidur, sama seperti orang-orang lain di pesawat waktu itu.
Pesawat mulai stabil, ditandai dengan matinya lampu indikator harus mengencangkan seatbelt. Aku berhitung sampai sepuluh, kemudian bosan. penerbangan malam membuat aku tidak bisa melihat apapun di luar jendela kecuali pekat, hitam. aku mengambil beberapa majalah keluaran maskapai penerbangan yang kunaiki, tetapi isinya tetap sama seperti ketika aku terakhir kali menggunakan jasa maskapai yang sama. Ku kembalikan majalah itu ke tempat semula.
Entah karena gerakanku yangmengganggu atau karena apa, dia yang di sebelahku tiba-tiba memperbaiki posisi duduknya. Dia tidak tidur rupanya, aku menoleh, dia juga menoleh. Aku langsung kembali menatap ke depan. Aku bisa mendengar dia menggumam tak jelas. Sekali lagi aku menoleh, dia tersenyum simpul. Aku kembali melihat lurus ke depan, tapi hanya beberapa detik, tidak tahan, lalu aku kembali menoleh ke orang itu. Matanya sudah terpejam, tapi dia lagi-lagi tersenyum, aku bisa melihat jelas.
Hh.. aku menghela nafas, bingung memikirkan apakah aku melakukan hal lucu yang membuat orang disebelahku ini senyum-senyum menertawakanku dalam hati.
Akhirnya aku memutuskan mengeluarkan headset dari tas dan mulai menyalakan MP4 kesayanganku. Namun sial! indikator baterai menunjukkan bahwa aku hanya bisa mendengarkan nggak lebih dari 3 lagu, baterai MP4ku sudah kritis. Ah! lumayan, gumamku, lalu memasang headset dan menyandarkan bahuku ke bangku pesawat. Hampir sepuluh menit aku menyanyi-nyanyi sangat pelan dan lalu menjadi lemas karena pemutar musikku mati, aku beberapa kali menekan tombol ON, namun sepertinya memang tidak lagi bisa menyala. Lagi, aku menghela nafas, penerbangan ini akan terasa sangat membosankan, tidak ada yang bisa kubaca, tidak ada yang bisa diajak mengobrol. Lunglai, aku simpan MP4 di dalam tas. Di waktu yang bersamaan, si orang di sebelahku merogoh tasnya yang diletakkan di dekat kaki, mengambil sesuatu. Ah, rupanya dia mengambil Ipod berwarna hitam. Lengkap sudah batinku, orang disebelahku mau mendengarkan musik, berarti aku makin bengong sendiri.
Eh belum selesai berasumsi, tiba-tiba tangan kanan orang itu yang sedang memegang Ipod hitam mengarah ke depanku. Aku menoleh bingung, dia mengangguk, aku masih bingung, masih belum memulihkan kesadaranku karena orang disebelahku ini benar-benar tidak bisa ditebak, ya ternyata dia tidak mengambil Ipod untuk didengarkan sendiri tetapi menyodorkannya ke arahku. Melihat aku yang masih bingung dia mengeluarkan suara "pake aja, masih ada batrenya kok". Aku langsung menangkap maksudnya, "Oh serius, nggak apa-apa nih? nggak dipake emang?". Dia menatap lurus ke depan, memejamkan mata, tapi menjawab, "nggak kok, pake aja".
Lalu diam agak lama, dan mulai mengutak-ngatik Ipod hitamnya, menemukan beberapa folder lagu, memilih-milih dan akhirnya terdengarlah lagu "jangan takut gelap" yang dinyanyikan Tasya dan Duta SO7, ingin rasanya teriak kalau itu adalah lagu favoritku dan aku tidak menyangka dia juga menyimpannya.
setelah lagu itu selesai aku membuka folder lagu barat, meski tadinya aku ingin sekali mendengarkan musik, entak kenapa aku menjadi tidak berkonsentrasi pada musik yang aku dengarkan. Lalu aku menoleh pelan, orang di sebelahku masih diam dengan mata tertutup. Ah sayang sekali dia tidur. Baru sekitar 3 lagu dimainkan oleh Ipod hitam itu, lalu aku langsung mematikannya. Kembali merasa bosan. Si orang di sebelahku mengangkat pundaknya dari bangku pesawat lalu bertanya, "kenapa? batrenya abis?". Oh, dia mengira aku mematikan Ipodnya karena kehabisan batre, sambil tersenyum aku menjawab, "Enggak kok, tapi udah cukup dengerin musiknya, lagian lagunya banyakan yang aku nggak tau". Dia balas tertawa kecil, "kirain abis batre, kalo lagu emang sih, aneh2 ya lagunya". Aku rasa pertanyaan itu tidak perlu dijawab, jadi aku hanya balik tersenyum sambil menyerahkan Ipodnya dan mengucapkan terimakasih. Dia mengambilnya lalu menyimpan kembali ke dalam tas yang ada di dekat kakinya.
Dia tersenyum, aku balas tersenyum, dan setelah itu kami mulai mengobrol hingga pesawat mendarat. Ah! rasanya penerbangan itu terlalu cepat, I wish I could stay longer on that flight ;)

Tuesday, June 15, 2010

So The Answer Is...

Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu." (QS. Al-Mukmin : 60)
okay, I'm almost giving something up, but I'm glad I 'm not.
Tuhan nggak tidur, benar sekali, terimakasih tuhan, maafkan hambamu ini yang banyak mengeluh. Saya akan berusaha lebih keras, bimbing saya Tuhan, bimbing saya melewati hari-hari depan yang mungkin lebih berat, yang akan penuh tekanan, yang menentukan hari-hari lain saya selanjutnya, Amin ya Rabb..

"and maybe happy ending is me on my own, picking up the pieces and starting over, freeing myself up for something better in the future. or maybe happy ending is this, knowing after all the unreturned phone calls, the unreplied messages, the undone promises, misread signals (from my honoured supervisor), trough all the pain and efforts, I NEVER GIVE UP HOPE.."
(from he's just not that in to you, with some changes ;D)

Sunday, June 13, 2010

Cerita Koki Amatir

pancake gulung pisang, difoto oleh Ica

Hola Amigos!
Dua minggu yang lalu, saya dan sohib2 kampus saya masak bareng, bukan masak makanan berat, kali ini kami membuat makanan cemilan, pancake gulung pisang (ini saya sendiri sih yg namain :D).
berawal dari perjalanan saya ke superindo dan melihat ada pondan khusus tepung pancake yang sangat menggoda untuk dibeli. Saya suka pancake, tapi seumur hidup saya, saya belum pernah membuat pancake sendiri, di rumah pun belum pernah melihat ibu membuat pancake. karena sepertinya simpel, saya belilah tepung itu. 2 minggu yang lalu tepung itu kami buat menjadi pancake.
Sebelumnya saya sempat browsing beberapa resep pancake yang hampir semuanya memakai maple syrup atau sirup mapel, sirup khusus pancake yang merupakan essence dari kulit pohon maple. sirup ini dipakai untuk memberikan rasa manis tapi dengan kalori rendah dan mineral tinggi. Karena saya nggak punya sirup maple dan karena males beli (harganya lumayan mahal), maka saya bikin resep sendiri menggunakan susu kental manis carnation, keju cheddar craft, dan meses ceres yang dibeli patungan dengan teman2 saya. Saya nggak membuat pancake biasa (karena sudah bosan), maka saya memutuskan membuat pancake pisang, terispirasi dari salah satu resep di internet, akhirnya dibelilah pisang ambon oleh teman saya ica.
Satu jam sebelum teman2 saya datang. Saya mulai membuat adonan pancake dengan 1 butir telur. Awalnya saya mengikuti aturan di kemasan tepung pancake, tetapi adonanya terasa tidak lembut, dan benar saja ketika dicoba dituangkan di teflon (tentu setelah teflonnya dioleskan margarin sedikit saja), adonan pancake menjadi lebih mirip kue pukis, terlalu keras. akhirnya pake feeling, saya tambahkan telur satu lagi dan air masak setengah gelas. Well, karena ini pancake gulung, maka adonannya adalah adonan untuk kulit menggulung, bisa dibilang adonan antara pancake dan crepes, jadi lebih cair.
setelah itu pastikan adonan nggak menggumpal dengan terus diaduk (nggak perlu pake mixer).
Setelah adonan jadi dan teman2 saya datang, mulailah kami bekerja. pisang dipotong kecil2 (bebas), keju diparut, dan siap memanggang kulit pancake, tuangkan adonan ke teflon, buat selebar teflon, tunggu sampai muncul pori2 kecil di permukaannya, balik sebentar, langsung angkat ke piring lebar, setelah itu susun potongan pisang di tengah bagiannya, tambahkan susu di atas potongan2 pisang (susu kental manis fungsinya adalah untuk merekatkan gulungan kulit pancake), setelah itu lipat kulit pancake menutupi pisang, tabahkan susu lagi diatasnya, taburkan keju parut dan meses (lagi susu di sini fungsinya untuk membuat meses dan keju merekat di pancake. setelah itu, pancake gulung pisang isiap dinikmati :)
resep ini mudah sekali dibuat, lumayan untuk mengisi waktu luang. Tetapi, biarpun mudah kadang2 tetap ada kendala, berikut tips dari saya (gayaa banget ya :D):
1. pastikan tepung pancake menyatu sempurna dengan air dan nggak menggumpal (kalo menggumpal tampilannya jadi jelek
2. gunakan sedikit saja margarin untuk teflon, jika agak banyak maka pancake menjadi tidak cantik tampilannya, terlihat basah dan kurang menarik (rasanya juga menjadi kurang enak)
3. ketika menuangkan adonan ke teflon, meskipun ingin membuat adonan selebar mungkin, pastikan menuangkan adonan dari bagian tengah teflon, lalu angkat dan goyang2 dan miringkan teflon agar adonan melebar kesamping dengan sendirinya. Menuangkan adonan dari samping atau melebarkan dengan alat bantu (sendok dll) akan merusak tampilan kulit pancake, bahkan bisa merobek kulit pancake.
3. seberapapun banyaknya air yang digunakan, jangan menambahkan gula pada adonan tepung pancake karena tepung pancake itu udah manis banget. menambahkan gula bukan ide bagus.
4.memanggang pancake tidak lama, karena itu jangan sekali2 meninggalkan adonan diatas kompor, atau sambil twitteran, dijamin gosong :D
Well, ini tips saya buat serasa saya udah ahli aja, percayalan teman, ini adalah pancake pertama yang saya buat seumur hidup saya, pake feeling aja, yah feeling, saya hanyalah koki amatir yang sedang belajar jadi kalo ada yang aneh2 maklumin saja, lain kali kita coba lagi resep lain yaa, happy monday everyone :)
"cooking is all about feeling, without feeling, cooking is just nothing"

Friday, June 11, 2010

It's time to Africa :)

Hola Amigos!
Satu jam menuju pembukaan Piala Dunia 2010 South Africa. Saya jadi deg2an x)
Bener2 nggak sabar untuk nonton. What is so good about this superb event is that it holds in The Land of Africa, a destination to die for (for me :D). Saya menyukai tanah Africa sejak kebanyakan mengkonsumsi VCD2 dari Animal Planet dan Discovery Channel, apalagi setelah menonton salah satu seri dari Animal Planet yang judulnya Mohru, The Lion Paradise. Saya mencamkan dalam hati, saya harus ke Afrika.. Well, all the lions there should be really proud, these days, Africa is not only pupolar of the safari land, lions, and deserts, but also by being the host of 2010 FIFA World Cup, Africa rules!
Banyak hal mengesankan yang terjadi setiap Piala Dunia, saya bener2 ngeh Piala Dunia sejak 1998, ada kenangan manis di tahun ini, yang ngingetin indahnya masa kecil. Waktu itu, Perancis menjadi tuan rumah Piala Dunia. Saya yang waktu itu masih kelas 4 SD sebenernya nggak begitu ngerti Piala Dunia, taunya semua di TV tentang bola sampai Ibu saya di bulan itu membelikan baju kaos kembaran untuk saya dan lian, adik saya yang waktu itu masih kelas 2 SD. Kaos itu sangat macho, bukan seperti kaos anak cewek kebanyakan. Punya saya berwarna biru, sedangkan punya lian warnanya oranye. Kaos itu bergambar lambang Piala Dunia 1998, dengan tulisan "Coupe du monde", tulisan berbahasa Perancis yang belakangan saya tau artinya adalah Piala Dunia. Ah ibu, how sweet, kaos itu saya pakai sampai SMP hingga akhirnya diwariskan ke sepupu2 kecil saya. Kalo inget saya jadi pengen nyari keberadaan kaos itu lagi sekarang :)
Piala Dunia 2002, saya kelas 2 SMP, saya inget banget waktu itu kami sedang pindah ke kelas yang baru dibangun, yang sekelilingnya masih lahan tandus, sehingga masa2 heboh Piala Dunia dihabiskan dengan merawat tanah di sekitar kelas menjadi taman2 bunga, sudah menjadi tanggung jawab tiap kelas atas tanah disekitarnya. akhirnya ruang kelas baru yang sekelilingnya gersang setelah dirawat oleh kami sekelas menjadi hijau dan lebih teduh. (waktu SMP kami bahkan punya pelajaran pertanian dimana kami harus serius bercocok tanam hingga memanen di lahan sekolah :D).
Piala Dunia 2006 lebih mengesankan. waktu itu saya sedang di Palembang, Bimbingan Belajar Persiapan tes masuk ke universitas. Saya tinggal di rumah sepupu saya yang sudah berkeluarga dengan 3 anak yang masih kecil. Suami sepupu saya nggak begitu suka sepak bola jadi nggak mengikuti Piala Dunia 2006. Saya inget banget saya ngga enak kalo tiap hari nonton bola, jadinya saya ngikutin lewat radio walkman saya. Menyedihkan waktu Brazil kalah, hehe. Selain itu, Piala Dunia 2006 juga ngingetin saya sama sahabat2 SMA, waktu itu baru perpisahan jadi setiap malam sering telpon2an pake mentari gratis ngobrol sepuasnya dengan pulsa minimal 25000. Setiap malam saya cerita2 sama sahabat2 saya, termasuk ngomongin Piala Dunia, kebetulan temen deket saya banyakan cowok yang suka bola, jadilah nyambung, hehe. Masih di jaman Piala Dunia 2006, saya tukeran gift sama salah satu temen baik saya, fahrul, saya ngasih dia kostum jerman (kalo nggak salah, saya udah lupa) dan saya mendapatkan kostum kuning favorit saya, Kaka-Brazil, senang sekali. samapai sekarang baju itu masih sering dipakai, adem soalnya. selain itu saya masih menyimpan gift yang saya beli di Palembang Town Square, pajangan sepatu dan bola mini.
Pas final, saya berkesempatan pulang ke rumah. Saya inget banget, saya nonton di TV kamar bareng bapak, tadinya ibu dan adik2 saya niatnya mau nonton juga, tapi akhirnya semua nyerah sama ngantuk, jadilah saya nonton sama bapak, walopun diomelin karena nonton sambil tiduran, aah, I'm so damn missing that moment :')
kenang2an Piala Dunia 2006
Well, nggak kerasa beberapa menit lagi Piala Dunia mulai, nggak apa saya menonton di TV, nggak langsung, tapi suatu hari nanti saya berdoa semoga saya bisa menginjakkan kaki di Afrika, amiiin ya Allah :)
See ya in Africa fellas :D

Thursday, June 10, 2010

Poor Brown Pelican and Oil Spill

Hola Amigos..
karena boseeen sama berita2 tentang video mirip artis, marilah wahai kawan kita ngomongin masalah BP Oil aja yaa, sebelumnya yang pengen tau tentang BP klik di sini.
ceritanya Mei lalu terjadilah insiden oil spill yang menghebohkan, bikin heboh karena minyak yang mencemari itu jumlahnya naudzubillah banyak, kalo mau tau gimana kejadiannya, ini simak videonya.. *makasih buat bang youtube

hingga saat ini masih dilakukan proses oil cleanup di teluk meksiko, tempat terjadinya oil spill ini. si pakar2 mulailah kritik sana kritik sini. Obama banyak dinilai harus bertanggung jawab juga atas insiden ini soalnya ngasih izin pengeboran minyak bawah laut untuk pengadaan energi AS. Tapi banyak juga yang bilang kalo ini adalah tanggung jawab si BP, apapun pendapatnya, Oil Spill ini ngurusinnya nggak gampang (jd inget lapindo). semua pihak harus kerjakeras, BP Oil nggak mau disalahin sepenuhnya dengan justifikasi bahwa ini adalah kecelakaan. Nggak lama setelah insiden ini mereka langsung bikin iklan permohonan maaf, bukannya dapet simpati, malah dikecam sama Obama yang menyatakan kalo uang untuk bikin iklan itu mendingan dipake buat biaya bersihin Oil Spill aja.
Well, dulu peristiwa macam ini pernah terjadi di Alaska, di Prince William Sound tepatnya, saya punya national geographic edisi Januari 1990 yang memuat berita tentang ini, isinya menyedihkan (yang mau pinjem boleh ke saya).
Kejadian 20an tahun lalu keulang lagi
Lepas dari perdebatan siapa yang bertanggungjawab, saya sedih liat berita mengenai burung pelikan yang baru 6 bulan lalu dinyatakan nggak lagi termasuk dalam spesies yang terancam punah, eh sepertinya sekarang harus di list lagi dalam endangered species karena oil spill ini membahayakan mereka. saya pertama baca di sini silahkan baca juga dan siap2 miris liat foto pelikan yang susah bergerak setelah menyelam ke air, karena air udah terkena tumpahan minyak dan minyak itu bikin mereka nggak bisa menggerakkan sayap mereka. kadang2 ngeliat hewan yang menderita itu lebih menyedihkan daripada ngeliat manusia, akrena manusia punya akal, bisa cari solusi kalo kena masalah, lah kalo hewan nggak bisa apa2...
oke, segini aja curhat mengenai pelikan ini. saya masih berharap anak cucu saya nanti masih bisa liat pelikan. amiin..
pelikan, semoga bisa bertahan..
ada quote bagus dari Pete Wentz (Gitarisnya Fall Out Boys):
Seriously we went to the moon how long ago and we can't stop this oil spill? Shoot the dudes from jersey shore into it.
yang mau tau klik aja, ini tentang brown pelican, ini tentang dan berita dampak dari oil spill.
que tenga un buen fin de semana amigos :)

Wednesday, June 9, 2010

International Cooperation, The Answer of Poverty, Hunger, and Development Problems.

!Hola Amigos!
Here's just a simple thing in my mind, I've written this about a year ago but havent posted it yet :D
When firstly heard about international cooperation, we have to know what cooperation means. In Oxford Learner’s Pocket Dictionary, we could find that cooperation comes from the word cooperate, it means acting or working together with common purpose; or willingness to be helpful. This means that cooperation is not a bad culture to build in our life.
Cooperation began with the assumption that humanity is social beings. Everybody can not survive by his own. We will find that we need helps from another, and so does state. There will always be lack of a sources in one state but excess in others, so when those states decide to cooperate, they could complete each other. From that brief explanation, we will surely understand, why there should be an international cooperation, because of a very simple view that humanity is social beings that complete each other.
We can see now that our world is devided in to a lot of areas with different condition and situation. There are some areas that fully modernized and industrialized. But while people there living prosperously, more people is threaten by many reasons. Poverty and hunger is still the scariest problem we are facing. Everybody needs at least water and staple foods to keep staying alive but the fact in some area we are shown that the access to the food is difficult and sometimes unreachable. This fenomena is brought by the poverty and limited access to the food. Because of poverty, many people couldn’t get money to buy daily necessity. Even if United Nations has approved the Millenium developement Goals (MDGs) in 2000, and even though the first goal was the eradication of extreme poverty and hunger, with the target of halving the proportion of people living on less than a dollar a day by 2015, is it possible without international cooperation? I don’t think so. If there are no cooperation among nations, there will be no distribution of sources. For example Indonesia. Indonesia is dense populated country. In the year of 2008, we had to import rice because we could not fulfill the rice neccessary in our country. As we know, in that time we got so many natural disasters in many areas so the farmer couldn’t get the maximal result in the harvest time. Imagine if we didn’t cooperate with Thailand in importing rice, how many people would suffer hunger or even famine?
Back to Indonesia’s inner problem, the farmer couldn’t get the maximal harvest result because of the weather, development problems and also the lack of technology. This problems seem to be not possible to solved by our own. It is not a kind of skeptical veiws but it is realistic. We better try to realize the fact that now we had nothing to do with those problems. Why don’t we admit our weakness to be stronger? We need another hand to huddle us up. For example we could learn from japan. Japan is now on Green-tech Lifestyle. It is a programme to build the human resources, by the management, infrastructure, energy, and financial. It’s good for us to learn by the Japanese. Then about natural disaster problems. Many people thinks that natural disaster is Godsend. Based on my opinion, it might be true but it doesn’t mean that we can’t do anything. Japan is also a country that sensitively covered by natural disaster because of its mountainous topografy, but japanese had a high technology to overcome this problem. Japan is a developed country that has no problems with development problems. That’s all what we really need to understand. Once again, without cooperation, is it possible to apply in our country?
Further than poverty, hunger, and development, there will be a very big challenge in front of our faces, globalizations. Sooner we will enter a new era of borderless world where people may go and trade abroad easily without complicated rules. Free trade area seems to be a trend. Actually it doesn’t matter if we have the capability to stand by our own feet, but if we are less of capability and we have no intention to be closed to a capable county, we have to be ready to left and failed. I assert once more, i’m not in a skeptical view and I do regard people who thinks ideally that international cooperation is useless, but I prefer to be gently realized by seeing the fact.
We, like or dislike, agree or disagree, have to have a good cooperation with other country. Developing countries need to learn more from the prosperous countries. International cooperation is the right place for it. There’s no choice to live alone, we just choose whether we join international cooperation or ready to be left ^_^

Tuesday, June 8, 2010

Zeitgeist


Hola amigos, ceritanya saya akhir2 ini kebanyakan curhat di blog ini, hehe.. udah lama nggak menulis tentang Hubungan Internasional jadinya tulisan ini saya keluarkan juga di blog, semoga bermanfaat. ini review saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat dan Metodologi dalam Hubungan Internasional semester lalu, bahasanya nggak berat kok, jadi... enjoy :)

Zeitgeist adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh Peter Joseph pada tahun 2007. Film ini berisi berbagai macam konspirasi, mulai dari asal mula agama kristian, serangan terorisme 11 September, dan mengenai sistem perbankan dunia.

Bagian pertama film menunjukkan berbagai fakta yang merujuk pada konsep bahwa dunia dan alam semesta ini tercipta secara kebetulan dan degan begitu saja. Ini tentu berbalik sekali dengan kepercayaan orang yang beragama bahwa dunia ini diciptakan oleh ‘yang menciptakan’. Film ini teurtama manunjukkan konspirasi mengenai mitos Jesus Christ, dikaitkan dengan kepercayaan mesir kuno. Jesus Christ dianggap sebagai mitos yang sengaja dibuat dengan mengikuti kepercayaan mesir kuno dan sedikit ditambah dengan beberapa mitos dari kitab orang Yahudi. pada akhirnya film ini menegaskan bahwa Jesus Christ adalah karakter fiksi yang tidak benar-benar ada, yang dibuat dari mitos-mitos, ritual-ritual dan simbol-simbol.

Menurut saya, agama sesungguhnya memiliki epistemologi yang berbeda dengan epistemologi modern saat ini. Epistemologi modern saat ini menekankan pada segala sesuatu yang sifatnya empiris dan hanya dalam taraf kesadaran manusia yang peling rendah, sedangkan dalam agama, ada yang disebut alam halus dan alam bawah sadar dan dunia ini tidak hanya sebatas materi yang dapat diinderakan saja, melainkan mencakup semua isi dunia (termasuk yang tidak terinderakan) dengan penciptanya. Dilihat dari sisi liberalisme, film ini memiliki hak untuk menyebarkan argumen-argumen si pembuatnya, tetapi ternyata tidak smeua orang lantas langsung percaya begitu saja dengan konspirasi ini. Banyak juga orang yang tetap bertahan pada idealismenya. Sehingga meskipun pada akhir bagian pertama film ini dikatakan bahwa agama adalah perbudakan, mitos yang mengontrol masyarakat, namun faktanya tetap banyak orang yang beragama di dunia ini. Dan bagi saya sebagai seorang muslim, agama tentu saja bukan perbudakan. Jika Peter Joseph menemukan berbagai mitos dalam Injil (yang saat ini), maka saya mengingat bahwa bagi kaum muslim, Injil kaum Kristian adalah sebenarnya Injil yang sudah tidak murni lagi sehingga mitos yang dikemukakan oleh Joseph tidak ada berpengaruh terhadap agama saya, apalagi sampai membuat saya mengubah pola pikir saya atas agama saya.

Dalam bagian ke dua film ini diceritakan bahawa serangan teroris 11 september terhadap WTC adalah sebuah konspirasi, sebuah kebohongan besar. Peter Joseph menyebutnya sebagai “criminal elements within the US government staged a ‘flash flag’ terror attack on its own citizen, in order to manipulate public perception into supporting it’s agenda”. Dijelaskan pula bahwa ada kontrol terhadap masyarakat untuk memberikan gambaran atas apa yang disebut dengan ‘terorisme’ sebagai musuh bersama melalui manipulasi kelompok-kelompok tertentu yang dibayar untuk melakukan aksi teror dibawah kendali mereka.

Dalam realita hubungan internasional, menurut teori realisme, negara dibenarkan melakukan apa saja untuk mencapai kepentingannya, termasuk juga seperti yang diceritakan dalam film ini (jika itu pun benar). Kenyataannya negara juga dikuasai oleh sekelompok orang (pemerintah) yang bisa melakukan apa saja dengan kekuasaan itu demi kepentingan mereka, namun jika sampai pada tahap membuat kosnpirasi dengan memusnahkan manusia, tentu saja tidak bisa dibenarkan, melanggar HAM dan mengganggu stabilitas perdamaian di dunia ini.

Bagian ketiga dari film ini menceritakan mengenai konspirasi perbankan internasional yang menurut Peter Joseph hanya dikuasai oleh beberapa orang saja sejak jaman dulu. Bahkan diceritakan juga bagaimana konspirasi Perang Dunia I dan Perang Dunia 2 yang sengaja dibuat untuk mendapatkan keuntungan. Perang bagi bankir internasional adalah hal yang paling menguntungkan. Contohnya pada Perang Dunia I, mereka mendapatkan keuntungan 200 juta USD sementara perang hanya menghabisakan 30 juta USD saja. Diceritakan juga bagaimana kehidupan manusia saat ini dikontrol oleh apa yang disebut sebagai ‘the large company’ dimana sebenarnya manusia tidak benar-benar diberikan pendidikan, tetapi malah diberi lebih banyak hiburan melalui berbagai media agar tidak banyak berpikir. Ini berarti secara tidak langsung hidup manusia dikontrol dan pada akhirnya kontrol ini akan membentuk ‘world government’ dengan sebagian orang tadi sebagai penguasa.

Menurut saya berbicara mengenai ekonomi, pasti akan selalu ada golongan yang menguasai setiap transaksi yang terjadi. Dari kebanyakan transaksi ini, akan terkostruk mengenai siapa yang menjadi hegemon (yang menguasai secara dominan dan paling berpengaruh), hal ini tidak bisa dihindari. Jika sekelompok orang memanfaatkan hampir seluruh manusia di bumi ini sebagai sumber keuntungan mereka, maka tidak dapat dibenarkan.

well, saya selalu bingung kalo ngomongin masalah konspirasi. kalo kata Aquinas, teori konspirasi bisa dipakai jika benar2 diyakini dan lalu kemudian baru berusaha membuktikannya, buat saya kalo semua yang diceritakan di film ini adalah konspirasi, bukan tidak mungkin si pembuat film ini juga sedang berkonspirasi, hehe.. tapi setiap orang bebaslah berpendapat, toh ini negara demokrasi bukaan ^^

Sunday, June 6, 2010

Hope

what is hope to you?
I keep almost my whole life hoping.
Hoping for everything bright in the future.
when everyone says that it's impossible, I still believe in my hope.
I know what I have to do is just waiting and keeping standing in my own path.
Well, at least I have faith, I keep myself confidence in this critical time.
But unfortunately, my honoured supervisor seemly doesnt know what is hope to me.
It doesnt matter, hope is different for everyone and he has nothing to do with my hope.
why would he care?
Too much believeing in myself sometimes makes me sick! I'm sick of too much hope too!
What is alright after all these time?
Will I be fine in this next 2 months?
God, did I make a fatal mistake from the start? or should I have chosen easier path?
sound HOPELESS, sigh..
semangaaaat! :)