Waktu itu aku telah duduk di dalam sebuah pesawat yang akan terbang ke suatu tempat. aku duduk tepat di sebelah jendela. Masih ada dua bangku kosong di sebelahku. Seperti biasa aku akan sangat penasaran dengan orang yang akan duduk di sebelahku. Aku pernah bersebelahan dengan mahasiswa sepertiku, kami lalu mengobrol banyak, aku pernah bersebelahan dengan ibu muda yang membawa bayi dan cemas takut telinga si bayi tidak tahan dengan tekanan udara di atas, bahkan aku pernah juga bersebelahan dengan orang yang phobia terbang, bersebelahan dengan siapapun akan membawa cerita mengesankan sendiri, karena itulah waktu itu aku tak sabar menunggu.
Satu persatu penumpang masuk, beragam manusia, aku menebak-nebak manakah yang akan duduk tepat di bangku sebelahku, lewat sepuluh menit, belum juga. Aku mulai bosan dan memandangi landasan pesawat di luar jendela. Refleks aku menoleh saat ada gerakan di sebelahku, oh, itu orangnya, aku memandanginya sekilas kemudian kembali pada aktivitasku melihat ke luar jendela. Aku sudah tidak lagi penasaran walaupun bisa dibilang, aku tidak mengenalnya. Dia mungkin seumuran denganku, berpostur tinggi dan saat itu bergaya sangat santai. Penilaian itu aku rasa cukup. Aku kembali menoleh tak sadar ketika mulutnya mengucap "nitip ya", kemudian meletakkan handbag-nya di bangku, lalu berjalan ke kabin belakang. Aku juga masih belum sepenuhnya sadar ketika mengangguk. Aku hanya memandangi handbag hitam itu, takut jika ada penumpang yang berniat jahat. Tidak sampai lima menit, orang itu telah duduk di bangkunya kembali dan telah mengucap terimakasih, aku juga masih tetap refleks balas tersenyum mengangguk.
Ketika pesawat siap terbang, hari mulai gelap. aku duduk tepat di sebelah jendela, bangku disebelahku masih kosong, dan dia, dia duduk di sebelah bangku kosong itu.
Hingga pintu kabin ditutup, tak ada yang menempati bangku di sebelahku. Merasa tidak enak aku bertanya padanya apakah mungkin bangku disebelahku bakal terisi, dia menjawab "sepertinya tidak mungkin, pintu kabin sudah ditutup, kau bisa duduk di bangku itu kalau kau mau", dan (lagi) aku refleks menghempaskan badan di bangku tengah itu, kemudian sedikit melempar tasku ke bangku yang tadi aku duduki, tepat disebelah jendela. Pesawat mulai berdesing dan berjalan perlahan. Hari sudah benar-benar gelap. Ketika pesawat bergerak menjauh, yang terlihat tinggallah warna warni cahaya lampu yang ada di berbagai penjuru bandara, indah sekali. Ketika pesawat lepas landas, aku memejamkan mata, terjadi guncangan yang sangat biasa
Secara tidak sadar aku mengamati orang di sebelahku dari ujung pandanganku. Aku tidak menoleh ke arahnya, tetapi hanya sekilas memandanginya. Sepertinya dia tidur, sama seperti orang-orang lain di pesawat waktu itu.
Pesawat mulai stabil, ditandai dengan matinya lampu indikator harus mengencangkan seatbelt. Aku berhitung sampai sepuluh, kemudian bosan. penerbangan malam membuat aku tidak bisa melihat apapun di luar jendela kecuali pekat, hitam. aku mengambil beberapa majalah keluaran maskapai penerbangan yang kunaiki, tetapi isinya tetap sama seperti ketika aku terakhir kali menggunakan jasa maskapai yang sama. Ku kembalikan majalah itu ke tempat semula.
Entah karena gerakanku yangmengganggu atau karena apa, dia yang di sebelahku tiba-tiba memperbaiki posisi duduknya. Dia tidak tidur rupanya, aku menoleh, dia juga menoleh. Aku langsung kembali menatap ke depan. Aku bisa mendengar dia menggumam tak jelas. Sekali lagi aku menoleh, dia tersenyum simpul. Aku kembali melihat lurus ke depan, tapi hanya beberapa detik, tidak tahan, lalu aku kembali menoleh ke orang itu. Matanya sudah terpejam, tapi dia lagi-lagi tersenyum, aku bisa melihat jelas.
Hh.. aku menghela nafas, bingung memikirkan apakah aku melakukan hal lucu yang membuat orang disebelahku ini senyum-senyum menertawakanku dalam hati.
Akhirnya aku memutuskan mengeluarkan headset dari tas dan mulai menyalakan MP4 kesayanganku. Namun sial! indikator baterai menunjukkan bahwa aku hanya bisa mendengarkan nggak lebih dari 3 lagu, baterai MP4ku sudah kritis. Ah! lumayan, gumamku, lalu memasang headset dan menyandarkan bahuku ke bangku pesawat. Hampir sepuluh menit aku menyanyi-nyanyi sangat pelan dan lalu menjadi lemas karena pemutar musikku mati, aku beberapa kali menekan tombol ON, namun sepertinya memang tidak lagi bisa menyala. Lagi, aku menghela nafas, penerbangan ini akan terasa sangat membosankan, tidak ada yang bisa kubaca, tidak ada yang bisa diajak mengobrol. Lunglai, aku simpan MP4 di dalam tas. Di waktu yang bersamaan, si orang di sebelahku merogoh tasnya yang diletakkan di dekat kaki, mengambil sesuatu. Ah, rupanya dia mengambil Ipod berwarna hitam. Lengkap sudah batinku, orang disebelahku mau mendengarkan musik, berarti aku makin bengong sendiri.
Eh belum selesai berasumsi, tiba-tiba tangan kanan orang itu yang sedang memegang Ipod hitam mengarah ke depanku. Aku menoleh bingung, dia mengangguk, aku masih bingung, masih belum memulihkan kesadaranku karena orang disebelahku ini benar-benar tidak bisa ditebak, ya ternyata dia tidak mengambil Ipod untuk didengarkan sendiri tetapi menyodorkannya ke arahku. Melihat aku yang masih bingung dia mengeluarkan suara "pake aja, masih ada batrenya kok". Aku langsung menangkap maksudnya, "Oh serius, nggak apa-apa nih? nggak dipake emang?". Dia menatap lurus ke depan, memejamkan mata, tapi menjawab, "nggak kok, pake aja".
Lalu diam agak lama, dan mulai mengutak-ngatik Ipod hitamnya, menemukan beberapa folder lagu, memilih-milih dan akhirnya terdengarlah lagu "jangan takut gelap" yang dinyanyikan Tasya dan Duta SO7, ingin rasanya teriak kalau itu adalah lagu favoritku dan aku tidak menyangka dia juga menyimpannya.
setelah lagu itu selesai aku membuka folder lagu barat, meski tadinya aku ingin sekali mendengarkan musik, entak kenapa aku menjadi tidak berkonsentrasi pada musik yang aku dengarkan. Lalu aku menoleh pelan, orang di sebelahku masih diam dengan mata tertutup. Ah sayang sekali dia tidur. Baru sekitar 3 lagu dimainkan oleh Ipod hitam itu, lalu aku langsung mematikannya. Kembali merasa bosan. Si orang di sebelahku mengangkat pundaknya dari bangku pesawat lalu bertanya, "kenapa? batrenya abis?". Oh, dia mengira aku mematikan Ipodnya karena kehabisan batre, sambil tersenyum aku menjawab, "Enggak kok, tapi udah cukup dengerin musiknya, lagian lagunya banyakan yang aku nggak tau". Dia balas tertawa kecil, "kirain abis batre, kalo lagu emang sih, aneh2 ya lagunya". Aku rasa pertanyaan itu tidak perlu dijawab, jadi aku hanya balik tersenyum sambil menyerahkan Ipodnya dan mengucapkan terimakasih. Dia mengambilnya lalu menyimpan kembali ke dalam tas yang ada di dekat kakinya.
Dia tersenyum, aku balas tersenyum, dan setelah itu kami mulai mengobrol hingga pesawat mendarat. Ah! rasanya penerbangan itu terlalu cepat, I wish I could stay longer on that flight ;)
Satu persatu penumpang masuk, beragam manusia, aku menebak-nebak manakah yang akan duduk tepat di bangku sebelahku, lewat sepuluh menit, belum juga. Aku mulai bosan dan memandangi landasan pesawat di luar jendela. Refleks aku menoleh saat ada gerakan di sebelahku, oh, itu orangnya, aku memandanginya sekilas kemudian kembali pada aktivitasku melihat ke luar jendela. Aku sudah tidak lagi penasaran walaupun bisa dibilang, aku tidak mengenalnya. Dia mungkin seumuran denganku, berpostur tinggi dan saat itu bergaya sangat santai. Penilaian itu aku rasa cukup. Aku kembali menoleh tak sadar ketika mulutnya mengucap "nitip ya", kemudian meletakkan handbag-nya di bangku, lalu berjalan ke kabin belakang. Aku juga masih belum sepenuhnya sadar ketika mengangguk. Aku hanya memandangi handbag hitam itu, takut jika ada penumpang yang berniat jahat. Tidak sampai lima menit, orang itu telah duduk di bangkunya kembali dan telah mengucap terimakasih, aku juga masih tetap refleks balas tersenyum mengangguk.
Ketika pesawat siap terbang, hari mulai gelap. aku duduk tepat di sebelah jendela, bangku disebelahku masih kosong, dan dia, dia duduk di sebelah bangku kosong itu.
Hingga pintu kabin ditutup, tak ada yang menempati bangku di sebelahku. Merasa tidak enak aku bertanya padanya apakah mungkin bangku disebelahku bakal terisi, dia menjawab "sepertinya tidak mungkin, pintu kabin sudah ditutup, kau bisa duduk di bangku itu kalau kau mau", dan (lagi) aku refleks menghempaskan badan di bangku tengah itu, kemudian sedikit melempar tasku ke bangku yang tadi aku duduki, tepat disebelah jendela. Pesawat mulai berdesing dan berjalan perlahan. Hari sudah benar-benar gelap. Ketika pesawat bergerak menjauh, yang terlihat tinggallah warna warni cahaya lampu yang ada di berbagai penjuru bandara, indah sekali. Ketika pesawat lepas landas, aku memejamkan mata, terjadi guncangan yang sangat biasa
Secara tidak sadar aku mengamati orang di sebelahku dari ujung pandanganku. Aku tidak menoleh ke arahnya, tetapi hanya sekilas memandanginya. Sepertinya dia tidur, sama seperti orang-orang lain di pesawat waktu itu.
Pesawat mulai stabil, ditandai dengan matinya lampu indikator harus mengencangkan seatbelt. Aku berhitung sampai sepuluh, kemudian bosan. penerbangan malam membuat aku tidak bisa melihat apapun di luar jendela kecuali pekat, hitam. aku mengambil beberapa majalah keluaran maskapai penerbangan yang kunaiki, tetapi isinya tetap sama seperti ketika aku terakhir kali menggunakan jasa maskapai yang sama. Ku kembalikan majalah itu ke tempat semula.
Entah karena gerakanku yangmengganggu atau karena apa, dia yang di sebelahku tiba-tiba memperbaiki posisi duduknya. Dia tidak tidur rupanya, aku menoleh, dia juga menoleh. Aku langsung kembali menatap ke depan. Aku bisa mendengar dia menggumam tak jelas. Sekali lagi aku menoleh, dia tersenyum simpul. Aku kembali melihat lurus ke depan, tapi hanya beberapa detik, tidak tahan, lalu aku kembali menoleh ke orang itu. Matanya sudah terpejam, tapi dia lagi-lagi tersenyum, aku bisa melihat jelas.
Hh.. aku menghela nafas, bingung memikirkan apakah aku melakukan hal lucu yang membuat orang disebelahku ini senyum-senyum menertawakanku dalam hati.
Akhirnya aku memutuskan mengeluarkan headset dari tas dan mulai menyalakan MP4 kesayanganku. Namun sial! indikator baterai menunjukkan bahwa aku hanya bisa mendengarkan nggak lebih dari 3 lagu, baterai MP4ku sudah kritis. Ah! lumayan, gumamku, lalu memasang headset dan menyandarkan bahuku ke bangku pesawat. Hampir sepuluh menit aku menyanyi-nyanyi sangat pelan dan lalu menjadi lemas karena pemutar musikku mati, aku beberapa kali menekan tombol ON, namun sepertinya memang tidak lagi bisa menyala. Lagi, aku menghela nafas, penerbangan ini akan terasa sangat membosankan, tidak ada yang bisa kubaca, tidak ada yang bisa diajak mengobrol. Lunglai, aku simpan MP4 di dalam tas. Di waktu yang bersamaan, si orang di sebelahku merogoh tasnya yang diletakkan di dekat kaki, mengambil sesuatu. Ah, rupanya dia mengambil Ipod berwarna hitam. Lengkap sudah batinku, orang disebelahku mau mendengarkan musik, berarti aku makin bengong sendiri.
Eh belum selesai berasumsi, tiba-tiba tangan kanan orang itu yang sedang memegang Ipod hitam mengarah ke depanku. Aku menoleh bingung, dia mengangguk, aku masih bingung, masih belum memulihkan kesadaranku karena orang disebelahku ini benar-benar tidak bisa ditebak, ya ternyata dia tidak mengambil Ipod untuk didengarkan sendiri tetapi menyodorkannya ke arahku. Melihat aku yang masih bingung dia mengeluarkan suara "pake aja, masih ada batrenya kok". Aku langsung menangkap maksudnya, "Oh serius, nggak apa-apa nih? nggak dipake emang?". Dia menatap lurus ke depan, memejamkan mata, tapi menjawab, "nggak kok, pake aja".
Lalu diam agak lama, dan mulai mengutak-ngatik Ipod hitamnya, menemukan beberapa folder lagu, memilih-milih dan akhirnya terdengarlah lagu "jangan takut gelap" yang dinyanyikan Tasya dan Duta SO7, ingin rasanya teriak kalau itu adalah lagu favoritku dan aku tidak menyangka dia juga menyimpannya.
setelah lagu itu selesai aku membuka folder lagu barat, meski tadinya aku ingin sekali mendengarkan musik, entak kenapa aku menjadi tidak berkonsentrasi pada musik yang aku dengarkan. Lalu aku menoleh pelan, orang di sebelahku masih diam dengan mata tertutup. Ah sayang sekali dia tidur. Baru sekitar 3 lagu dimainkan oleh Ipod hitam itu, lalu aku langsung mematikannya. Kembali merasa bosan. Si orang di sebelahku mengangkat pundaknya dari bangku pesawat lalu bertanya, "kenapa? batrenya abis?". Oh, dia mengira aku mematikan Ipodnya karena kehabisan batre, sambil tersenyum aku menjawab, "Enggak kok, tapi udah cukup dengerin musiknya, lagian lagunya banyakan yang aku nggak tau". Dia balas tertawa kecil, "kirain abis batre, kalo lagu emang sih, aneh2 ya lagunya". Aku rasa pertanyaan itu tidak perlu dijawab, jadi aku hanya balik tersenyum sambil menyerahkan Ipodnya dan mengucapkan terimakasih. Dia mengambilnya lalu menyimpan kembali ke dalam tas yang ada di dekat kakinya.
Dia tersenyum, aku balas tersenyum, dan setelah itu kami mulai mengobrol hingga pesawat mendarat. Ah! rasanya penerbangan itu terlalu cepat, I wish I could stay longer on that flight ;)
6 comments:
cmiiw..wida cing..haha:D
ihiiiw nindyy, kenapa kenapa? hhe.. iseng aja gabisa tidur, pas mikir2 inget ini, jadinya ditulis deh, hehe *blushing
sepertinyaaa sayaaa tahuuuu..wekekeke
hah? siapa siapa caa, bilang ke aku orangnya :D
Apakah laki2 ini adalah orang yang kuduga?...hehehehehe
oooooo..romantisnya......penerbangan takdir....destinied flight..oooohhhhhhh
hehehehehe
bukan bamb, bukan seperti dugaanmu kok ;)
ngarepnya iya bamb, destinied flight, haha.. we'll se bambino..
Post a Comment