Sunday, February 27, 2011

Oleh-Oleh Dari Tipar

Tanggal 24 lalu, saya berkunjung ke Tipar, sebuah dusun terpencil di Purwokerto bersama Ibu, Bapak, 2 adik saya, dan Bibi Yah. Tipar adalah dusun di mana bapak lahir dan dibesarkan. TErakhir kali saya ke sana adalah 17 tahun lalu ketika saya masih TK. DAri Purwokerto kota, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam menuju Tipar (kalo ngebut). Saya hanya mengingat samar-samar tentang Tipar 17 tahun lalu sehingga ketika mobil mulai memasuki daerah Rawalo, saya tidak bisa menebak bahwa kami telah masuk ke persimpangan menuju Tipar. Jalan awal ke sana sudah diaspal. Lurus dan tidak luas. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan sawah-sawah yang baru saja dipanen (bahasa jawanya panen padi itu "nderep"). Bapak tidak hentinya bercerita, menunjuk-nunjuk ke persawahan dan gunung di sekitar kami, bernostalgia "dulu bapak sama makwo (nenek saya) pernah jalan mengelilingi gunung itu, di jalan bapak haus lalu dibelikan banyu asem sama makwo...", "dulu bapak sering main sepeda di sawah itu, jalan aspal ini belum ada..", "Nah! liat jembatan itu, dulu itu tempat bapak main, bapak masih inget banget...". Mobil melaju luruuuus dan jauh diiringi cerita bapak, sampai kemudian kami tiba pada jalan-jalan yang sangat kecil dan keropos, yang kemudian bercabang pada ujungnya. Mobil mengambil sisi kiri, memasuki jalan becek, licin dan tidak beraspal. Kiri kanan kami dipenuhi "alas" (hutan). Akhirnyaa, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang dindingnya dominan kayu dan anyaman bambu. Ah ya! saya ingat, itu rumah yang 17 tahun lalu saya datangi.. Saya melirik ponsel saya, no signal. Senang sekali mendapati saya bisa berada di rumah itu lagi, dengan bapak dan ibu. Peluk cium dari Mbah (adik kakek saya) dan uwa menyambut kami. Bapak kelihatan senang sekali setelah 17 tahun tidak kembali ke kampung halamannya. Rumah Mbah masih sama, lantainya tetap tanah, bedanya mbah sudah punya kamar mandi, kami tidak perlu mandi ke sungai. Kamar mandi itu adalah sebuah bak yang dialiri air dari gunung. Sayangnya Mbah tidak punya WC, kami harus ke Masjid di bukit untuk buang air besar (karena saya nggak mau bab di sungai, hehe). Kami tiba saat sendekala (waktu magrib). Malamnya, banyak sekali saudara berdatangan mendengar kabar kedatangan kami. kami bersalaman, dan rata-rata uwa dan mbah pasti bilang begini ke saya "njenengan sapa? njenengan anake rasim mbok? MasyaAlloh, wiwit, wis gedi pisan, mbiyen pas teka agi cilik-cilik banget..". Tidak sedikit uwa yang menangis haru masih bisa bertemu kami. Setelah 17 tahun, banyak keluarga di Jawa yang sudah meninggal, begitupun di Bengkulu, mengharukan sekali malam berbagi cerita itu.
Berpuluh tahun lalu (saya lupa tepatnya), Pakwo (kakek saya, ayah bapak), memutuskan untuk mencari peruntungan ke Sumatera bersama beberapa saudaranya. Sejak itulah keluarga Pakwo terpisah dan jarang sekali berkumpul. Saya sangat bersyukur pakwo memutuskan untuk pindah ke Sumatera. Kami sekarang hidup sangat nyaman di sana. Dan kehidupan kami di sana sudah cukup maju. Sejujurnya saya sedih melihat keadaan Tipar yang tidak jauh berbeda dengan 17 tahun lalu. Tidak banyak kemajuan yang berarti. Pemikiran keluarga bapak di sana masih sama. Membesarkan anak, kemudian di umur belasan tahun dinikahkan. Saya sangat sedih ketika seorang uwa bilang "njenengan mbok urung kawin? arep nunggu apa?" atau "lah arep ngapa kuliah, susah-susah, andon ngentekke duit mbok". Seumuran saya di sana jarang sekali yang belum menikah.
Di sana, kebanyakan orang hebat adalah orang yang rumahnya berlantai keramik, punya banyak sawah, dan ukuran-ukuran lain yang menyangkut materi. Menurut bapak Tipar agak susah maju karena orang-orangnya masih banyak yang berpola pikir jaman dulu. Saya hanya mengiyakan. sampai di hari ke dua, saya takjub sendiri. HAri itu kami berencana ziarah. Saya bangun kesiangan, ketika bangun, orang-orang sedang sibuk membicarakan perihal ibu yang tidak boleh ikut ziarah.
mbah: "sing olih maring kuburan bapake wae, mbakayu ne ora usah melu"
bapak: "lah, ngapa toh yung?"
mbah: "mbok mbakayu ne priyayi, priyayi ora olih maring kuburan"
bapak tersenyum menahan tawa. Ibu saya tidak diperbolehkan ziarah ke kuburan karena ibu adalah PNS, kalo jaman dulu, pegawai adalah priyayi, abdi belanda. Mbah kemudian mendengarkan penjelasan bapak, tetapi masih agak kekeuh bahwa ibu dan kami (yang dianggap anak priyayi) nggak boleh ikut ziarah. Pada akhirnya memang cuma bapak yang berangkat.
Ah pokoknya banyak pengalaman baru di Tipar. Saya merasa sangat nyaman tinggal di rumah mbah meskipun listrik dan sinyal terbatas.
Dan ini adalah oleh-oleh dari Tipar...


Di Tipar sedang musim panen





Suasana di sekitar rumah mbah


Makanan-makanan sederhana tapi enak di Tipar :)

Sebelum pulang, berpoto bersama keluarga mbah, Semoga kami masih bisa bertemu lagi lain kali, amin.

Thursday, February 17, 2011

Who Needs Mindreader?

Sebuah percakapan absurd saya (S) dan seorang teman (T) di damri AC Jurusan Jatinangor-Dipatiukur pada suatu pagi menjelang siang.
...
S: Hey, aku lagi mikirin gimana kalo ada mindreader ya, pasti lebih mudah semuanya
T: Mulai aneh, apalagi itu mindreader?
S: ada alat yang bisa bikin kita tau pikiran orang dan kita bisa ngasih tau apa yang kita pikirkan ke orang lain, tanpa perlu ngomong.
T: tapi kalo gitu nggak seru lagi, kita udah tau semua yang orang pikirin
S: Justru di sana bagian serunya
T: Aku malah serem kalo beneran ada alat kayak gitu, nanti kalo kita nggak suka sama orang dan orang itu bisa baca jelas dengan alat itu, gimana coba?
S: Ya nggak apa, kalo kita bisa baca orang lain nggak suka sama kita, ada sebabnya kan, pikirin sendiri sebabnya
T: Yaa, tapi kan jadi nggak enak perasaan kalo gitu
S: Loh kenapa nggak enak, kalo kita jelas tau apa yang orang pikirin, ya tinggal gimana usaha kita ngadepin apa yang orang pikirin.
T: Ah tetep aja nggak enak, serem ah..
S: Masaa? Aku pengen banget ada alat yang kayak gitu
T: Mau buat apa sih?
S: Aku pengen orang tau apa yang aku pikirin yang aku rasain tanpa aku perlu ngomong dan seenggaknya biar aku tau apa tanggapan orang tentang itu tanpa perlu nanya lebih dulu
T: ohh..
...
dan kami pun terdiam, menatap jalanan cigareleng yang seumur-umur kami naik damri nggak pernah nggak macet.
Oh mindreader, I really want to know their feeling and I want them to know mine too.

Sunday, February 13, 2011

Ganbatte Ne~

Ketika saya membuka dashboard blogger pagi ini, saya berdoa untuk tidak berakhir seperti kemarin-kemarin, berakhir dengan satu dua kata yang terlantar.
Ada begitu banyak hal yang muncul di pikiran saya, tapi tidak ada satu pun yang selesai tertulis. Saya merasa ada yang berubah. Dulu saya menulis apa pun untuk merasa lebih baik, tapi sekarang jika saya merasa kurang baik, kemudian menulis di sini, it ended disgusting me.
Saya sedang mengalami fase yang jauh berbeda dengan fase-fase yang pernah saya alami di 22 tahun hidup saya. Entahlah, begitu banyak hal yang terlintas, yang membuat malam-malam saya berakhir tanpa tidur, yang membuat saya seringkali lupa atas apa yang sedang saya lakukan, dan membuat saya merasa pada sepersekian detik saya adalah zombie, saya tidak bisa merasakan apa-apa, karena saya bingung. Well, this not as easy as I thought first. I'm feeling and thinking about future (now this sounds so scary), about to live on my own, about survival,, about passion and people expectation, about dream and reality.. Aah, those complicated things are mingling in my mind. Pernah tidak ketika benapas, kamu merasa seperti ada pasir di dada, nyesek, hehe.. dan itulah yang sering terjadi akhir-akhir ini. Haha, I guess this will end as sickening post. Ganbarimasuuu!!!

Justify FullWill the past be a shadow that will follow us 'round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly
(Vitamin C-Graduation)

Sometimes, I feel the fear of uncertainty stinging clear
And i can't help but ask myself how much I'll let the fear
Take the wheel and steer
It's driven me before and it seems to have a vague
Haunting mass appeal
But lately I'm beginning to find I
Should be the one behind the wheel

(Incubus-Drive)

It's been three weeks, since I got a decent sleep
I've a restless head and an empty bed, these dreams are killing me so,
I keep on walking til the sun comes up
(Scouting for Girls-Keep on Walking)


Wanna feel the warm breeze; Sleep under a palm tree
Feel the rush of the ocean; Get onboard a fast train
Travel on a jet plane, far away and breakaway
(Kelly Clarkson-Breakaway)

No you're not defeated
And soon you'll be smiling once again
Then you won't have to feel it
Let it go with the wind
Time passes us by
And know that you're allowed to cry
(Delta Goodrem-Be Strong)

Another turning point; a fork stuck in the road.
Time grabs you by the wrist; directs you where to go.
So make the best of this test and don't ask why.
It's not a question but a lesson learned in time.
It's something unpredictable
but in the end it's right.
(Greenday-Time of Your Life)