by: Beyonce Knowles
If I were a boy
Even just for a day
I’d roll outta bed in the morning
And throw on what I wanted then go
Drink beer with the guys
And chase after girls
I’d kick it with who I wanted
And I’d never get confronted for it.
Cause they’d stick up for me.
If I were a boy
I think I could understand
How it feels to love a girl
I swear I’d be a better man.
I’d listen to her
Cause I know how it hurts
When you lose the one you wanted
Cause he’s taken you for granted
And everything you had got destroyed
If I were a boy
I would turn off my phone
Tell everyone it’s broken
So they’d think that I was sleepin’ alone
I’d put myself first
And make the rules as I go
Cause I know that she’d be faithful
Waitin’ for me to come home (to come home)
If I were a boy
I think I could understand
How it feels to love a girl
I swear I’d be a better man.
I’d listen to her
Cause I know how it hurts
When you lose the one you wanted (wanted)
Cause he’s taken you for granted (granted)
And everything you had got destroyed
It’s a little too late for you to come back
Say its just a mistake
Think I’d forgive you like that
If you thought I would wait for you
You thought wrong
But you’re just a boy
You don’t understand
Yeah you don’t understand
How it feels to love a girl someday
You wish you were a better man
You don’t listen to her
You don’t care how it hurts
Until you lose the one you wanted
Cause you’ve taken her for granted
And everything you have got destroyed
But you’re just a boy
"lagu ini pertama denger di mobilnya neng niendy, penasaran ama lirik lengkapnya, eh, baguss... ^^ kalo denger lagu ini jadi pengen nagngis, waktu karokean ama niendy kmaren malah kita ga nyanyi, dengerin mbak beyonce yang nyanyiin.."
Friday, March 20, 2009
apa sih???
Sebelum masuk pada inti catatan saya kali ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya bukanlah tipe orang mudah membicarakan masalah “cinta” secara terbuka. Tentu saja cinta yang saya maksud disini adalah bukan cinta dalam arti universal, seperti saya mencintai Ibu atau Bapak saya atau seperti saya mencintai Ricardo Kaka yang telah menjadi suami orang. Cinta disini adalah cinta yang itu, ya yang sedang ada dalam pikiran kalian. Saya biasa bercerita segala hal dengan teman dekat saya, tapi tidak pernah tentang cinta, bukan karena saya menyembunyikannya, tetapi karena jujur, saya saya tidak begitu suka membicarakannya because I’ve been betrayed by it, long time ago but it was soo mean.
Ada banyak pertanyaan dalam kepala saya tentang cinta, yang suatu saat saya harap saya bisa memahaminya. Suatu kali saya pernah berdiskusi dengan seorang teteh saya, yang mengatakan bahwa cinta itu “bukan karena”. Maksudnya ketika kamu menyukai seseorang dengan tulus, itulah cinta. Tapi bagaimana mungkin ada yang seperti itu? Ketika saya menyukai seseorang, pastilah ada sebabnya, karena orang itu baik, ramah, lucu mungkin, menyenangkan, dan karena-karena lainnya, tetapi itu logis bukan?
Satu tahun yang lalu, teteh lain pernah bercerita pada saya di Bali tentang bagaimana cinta itu datang pada dua orang berupa sinyal-sinyal listrik yang tarik menarik satu sama lain, iyakah??? Kadang saya berpikir bagaimana mungkin dua orang saling mencintai, kecuali itu adalah suatu kebetulan, atau salah satu diantaranya mengalah pada perasaannya sendiri. Maksud saya begini, ketika A mencintai B, atau katakanlah menyukai B (karena menurut saya cinta itu masih absurd), alangkah kebetulannya B juga menyukai A. Mungkinkah semua cinta di dunia ini kebetulan? Kalau bukan kebetulan maka salah satu dari orang yang mencintai itu pastilah mengalah, melakukan apa-apa yang tidak disukainya demi menjaga perasaan orang lain, apa itu yang namanya cinta? Jika ternyata cinta itu muncul dari daya tarik-menarik alamiah antaradua orang, lalu darimana daya itu?
Ada lagi yang mengatakan cinta itu adalah karena biasa. Biasa makan bareng, biasa main bareng, jalan bareng, dan biasa melakukan hal-hal lain bareng, lalu kalau begitu menurut cinta itu adalah kebutuhan yang kita ciptakan sendiri, hanya karena kita tidak bisa lepas dari hal-hal yang biasa kita lakukan bersama seseorang.
Entah mengapa pengalaman cinta(mereka menyebut itu cinta) orang-orang yang ada di dekat saya kebanyakan menyedihkan. Ada teman yang meski ditipu berkali-kali oleh “cinta”nya, tetap saja bertahan, memberi maaf kesekian kalinya (menurut saya itu bodoh, kesempatan ke dua adalah menerima maaf, tetapi ke tiga, ke empat, ke lima, dan seterusnya adalah kebodohan). Ada yang tidak lagi membutuhkan orang lain setelah menemukan “cinta”, melakukan aktivitas setiap hari bersama si “cinta” seolah-olah hidup itu hanya dalam sebuah kotak dengan batas aku dan kamu, tidak peduli yang lainnya. Ada teman yang meski jelas-jelas tidak lagi dicintai oleh “cinta”nya, tetapi tetap saja kekeh, tidak mau melepaskan diri, melakukan apa saja untuk menarik perhatian si “cinta”, menelan obat melebihi dosis, tidak mau diobati demi mendapat simpati “cinta”, dan ada banyak lagi pengalaman sahabat-sahabat yang membuat saya istighfar. Berapa persen dalam hidup kita yang kita berikan untuk “cinta” itu? Sebegitu banyakkah sehingga ketika itu terjadi, kita tidak ingat lagi bahwa kita punya Tuhan, bahwa hidup kita itu tidak sebatas “cinta” kita, kita punya orang tua yang sedang bekerja membiayai kuliah kita, kita punya “sahabat” yang hatinya tidak pernah kita pikirkan ketika kita punya “cinta”. Padahal ketika “cinta” itu pergi, sahabat adalah orang yang pertama akan menerima kita dengan tangan terbuka.
Entahlah, ini hanya beberapa hal yang mengganjal dalam hati saya, boleh sepakat boleh tidak, ini hanyalah sekedar tuangan pikiran biasa saja.
Beginilah, baru berbicara masalah cinta sebanyak 577 kata saja saya sudah bosan, cinta memunculkan banyak pertanyaan yang malas saya cari jawabannya, karena itu hanya akan membuat saya semakin bingung, saya yakin pada saatnya nanti saya saya akan mengerti, kemudian menemukan seseorang yang saya sukai “bukan karena” (walopun meragukan :p), atau bahkan “cinta” itu sendiri, amiin... hahaha...
Ada banyak pertanyaan dalam kepala saya tentang cinta, yang suatu saat saya harap saya bisa memahaminya. Suatu kali saya pernah berdiskusi dengan seorang teteh saya, yang mengatakan bahwa cinta itu “bukan karena”. Maksudnya ketika kamu menyukai seseorang dengan tulus, itulah cinta. Tapi bagaimana mungkin ada yang seperti itu? Ketika saya menyukai seseorang, pastilah ada sebabnya, karena orang itu baik, ramah, lucu mungkin, menyenangkan, dan karena-karena lainnya, tetapi itu logis bukan?
Satu tahun yang lalu, teteh lain pernah bercerita pada saya di Bali tentang bagaimana cinta itu datang pada dua orang berupa sinyal-sinyal listrik yang tarik menarik satu sama lain, iyakah??? Kadang saya berpikir bagaimana mungkin dua orang saling mencintai, kecuali itu adalah suatu kebetulan, atau salah satu diantaranya mengalah pada perasaannya sendiri. Maksud saya begini, ketika A mencintai B, atau katakanlah menyukai B (karena menurut saya cinta itu masih absurd), alangkah kebetulannya B juga menyukai A. Mungkinkah semua cinta di dunia ini kebetulan? Kalau bukan kebetulan maka salah satu dari orang yang mencintai itu pastilah mengalah, melakukan apa-apa yang tidak disukainya demi menjaga perasaan orang lain, apa itu yang namanya cinta? Jika ternyata cinta itu muncul dari daya tarik-menarik alamiah antaradua orang, lalu darimana daya itu?
Ada lagi yang mengatakan cinta itu adalah karena biasa. Biasa makan bareng, biasa main bareng, jalan bareng, dan biasa melakukan hal-hal lain bareng, lalu kalau begitu menurut cinta itu adalah kebutuhan yang kita ciptakan sendiri, hanya karena kita tidak bisa lepas dari hal-hal yang biasa kita lakukan bersama seseorang.
Entah mengapa pengalaman cinta(mereka menyebut itu cinta) orang-orang yang ada di dekat saya kebanyakan menyedihkan. Ada teman yang meski ditipu berkali-kali oleh “cinta”nya, tetap saja bertahan, memberi maaf kesekian kalinya (menurut saya itu bodoh, kesempatan ke dua adalah menerima maaf, tetapi ke tiga, ke empat, ke lima, dan seterusnya adalah kebodohan). Ada yang tidak lagi membutuhkan orang lain setelah menemukan “cinta”, melakukan aktivitas setiap hari bersama si “cinta” seolah-olah hidup itu hanya dalam sebuah kotak dengan batas aku dan kamu, tidak peduli yang lainnya. Ada teman yang meski jelas-jelas tidak lagi dicintai oleh “cinta”nya, tetapi tetap saja kekeh, tidak mau melepaskan diri, melakukan apa saja untuk menarik perhatian si “cinta”, menelan obat melebihi dosis, tidak mau diobati demi mendapat simpati “cinta”, dan ada banyak lagi pengalaman sahabat-sahabat yang membuat saya istighfar. Berapa persen dalam hidup kita yang kita berikan untuk “cinta” itu? Sebegitu banyakkah sehingga ketika itu terjadi, kita tidak ingat lagi bahwa kita punya Tuhan, bahwa hidup kita itu tidak sebatas “cinta” kita, kita punya orang tua yang sedang bekerja membiayai kuliah kita, kita punya “sahabat” yang hatinya tidak pernah kita pikirkan ketika kita punya “cinta”. Padahal ketika “cinta” itu pergi, sahabat adalah orang yang pertama akan menerima kita dengan tangan terbuka.
Entahlah, ini hanya beberapa hal yang mengganjal dalam hati saya, boleh sepakat boleh tidak, ini hanyalah sekedar tuangan pikiran biasa saja.
Beginilah, baru berbicara masalah cinta sebanyak 577 kata saja saya sudah bosan, cinta memunculkan banyak pertanyaan yang malas saya cari jawabannya, karena itu hanya akan membuat saya semakin bingung, saya yakin pada saatnya nanti saya saya akan mengerti, kemudian menemukan seseorang yang saya sukai “bukan karena” (walopun meragukan :p), atau bahkan “cinta” itu sendiri, amiin... hahaha...
Monday, March 9, 2009
Tentang Jepang-1
Tentang Jepang 1
Yang mau saya ceritakan adalah tentang bahasa jepang, bahasa yang awalnya saya pelajari bukan murni karena saya pengen, tapi lebih karena dorongan orangtua saya (awalnya dari kecil saya disuruh belajar mandarin, tapi ga pernah mau).
Beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengambil les bahasa Jepang di MMC Buah Batu, Bandung, bersama Sensei Kosashi (kangen juga sama beliau), setelah lewat satu level, saya postpone karena waktu itu lagi sibuk2 symphonesia, tapi ampe sekarang, saya belum ngelanjutin lagi dan sepertinya ga lanjut karena bebrapa hal. Selama belajar bahasa jepang empat bulan, saya udah dapet dasar2nya, hiragana, katakana, dan 10 kanji. Actually that was really fun, tapiii, entah kenapa, saya ga pernah 100% hafal katakana, no matter how hard I’ve tried!
Dari situ saya mikir, katana aja ga hafal2, apalagi nanti waktu saya udah dapet kanji, saya ga mau buang2 waktu belajar bahasa tapi useless karena saya ga bener2 menguasai, eh tepatnya susah menguasai.
Sebenernya sempet mikir, looser banget kalo Cuma gara2 gini aja nyerah belajar bahasa jepang, tapi, pas pulang, saya sakit dan terkena penyakit yang katanya penyakit orang tua (ga perlu disebutkan namanya), saya ditanyain sama Ibu saya, apa aja yang saya pikirin dan saya kerjain di jatinangor, saya bilang saya hanya memikirkan hal-hal biasa ky mahasiswi normal aja.
Tapi Ibu kita emang orang yang paling ngerti kita, dari cerita sehari-hari saya selama di rumah, Ibu tau kalo belajar bahasa jepang adalah salah satu hal yang memberatkan saya. Setiap jadwal les jepang, malam sebelumnya, saya harus mati2an menghafal ulang dan berlatih menulis katakana supaya bisa ngikutin pelajaran besoknya dengan baik, jadinya saya seperti belajar underpressure, terus Ibu bilang kalo les bahasa itu hanya kegiatan ekstra saya selain kuliah, jadi kalo terasa berat, just leave it. Menurut Ibu saya ga perlu maksain diri (terutama karena sakit waktu itu, hehe), kuliah aja udah berat, jadi ambil les bahasa yang ringan (emang ada gitu bahasa yang ringan?) dan ga bikin cape pikiran dan otak (padahal dulu aja disuruhnya belajar bahasa jepang ;)).
Sekarang saya udah berhenti dari MMC. Saya mengambil les bahasa spanyol, bahasa yang ga menghantui saya dengan huruf2 yang seabreg, hehe... tapi bukan berarti saya berhenti total belajar bahasa jepang, saya tetap belajar bicara bahasa jepang, karena saya terlanjur suka dengerin orang yang ngomong jepang, apalagi kalo di dorama2 gitu, kesannya kawaii ne... terus juga suatu saat saya ingin bisa pergi ke jepang, meminum ocha sebanyak2nya (I love to drink greentea), dan tentu saja, mampir ke rumahnya Takuya Kimura (dia pasti udah tua, haha) ama matsu jun (impian orang bodoh).
Yang mau saya ceritakan adalah tentang bahasa jepang, bahasa yang awalnya saya pelajari bukan murni karena saya pengen, tapi lebih karena dorongan orangtua saya (awalnya dari kecil saya disuruh belajar mandarin, tapi ga pernah mau).
Beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengambil les bahasa Jepang di MMC Buah Batu, Bandung, bersama Sensei Kosashi (kangen juga sama beliau), setelah lewat satu level, saya postpone karena waktu itu lagi sibuk2 symphonesia, tapi ampe sekarang, saya belum ngelanjutin lagi dan sepertinya ga lanjut karena bebrapa hal. Selama belajar bahasa jepang empat bulan, saya udah dapet dasar2nya, hiragana, katakana, dan 10 kanji. Actually that was really fun, tapiii, entah kenapa, saya ga pernah 100% hafal katakana, no matter how hard I’ve tried!
Dari situ saya mikir, katana aja ga hafal2, apalagi nanti waktu saya udah dapet kanji, saya ga mau buang2 waktu belajar bahasa tapi useless karena saya ga bener2 menguasai, eh tepatnya susah menguasai.
Sebenernya sempet mikir, looser banget kalo Cuma gara2 gini aja nyerah belajar bahasa jepang, tapi, pas pulang, saya sakit dan terkena penyakit yang katanya penyakit orang tua (ga perlu disebutkan namanya), saya ditanyain sama Ibu saya, apa aja yang saya pikirin dan saya kerjain di jatinangor, saya bilang saya hanya memikirkan hal-hal biasa ky mahasiswi normal aja.
Tapi Ibu kita emang orang yang paling ngerti kita, dari cerita sehari-hari saya selama di rumah, Ibu tau kalo belajar bahasa jepang adalah salah satu hal yang memberatkan saya. Setiap jadwal les jepang, malam sebelumnya, saya harus mati2an menghafal ulang dan berlatih menulis katakana supaya bisa ngikutin pelajaran besoknya dengan baik, jadinya saya seperti belajar underpressure, terus Ibu bilang kalo les bahasa itu hanya kegiatan ekstra saya selain kuliah, jadi kalo terasa berat, just leave it. Menurut Ibu saya ga perlu maksain diri (terutama karena sakit waktu itu, hehe), kuliah aja udah berat, jadi ambil les bahasa yang ringan (emang ada gitu bahasa yang ringan?) dan ga bikin cape pikiran dan otak (padahal dulu aja disuruhnya belajar bahasa jepang ;)).
Sekarang saya udah berhenti dari MMC. Saya mengambil les bahasa spanyol, bahasa yang ga menghantui saya dengan huruf2 yang seabreg, hehe... tapi bukan berarti saya berhenti total belajar bahasa jepang, saya tetap belajar bicara bahasa jepang, karena saya terlanjur suka dengerin orang yang ngomong jepang, apalagi kalo di dorama2 gitu, kesannya kawaii ne... terus juga suatu saat saya ingin bisa pergi ke jepang, meminum ocha sebanyak2nya (I love to drink greentea), dan tentu saja, mampir ke rumahnya Takuya Kimura (dia pasti udah tua, haha) ama matsu jun (impian orang bodoh).
Subscribe to:
Posts (Atom)