Sebelum masuk pada inti catatan saya kali ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya bukanlah tipe orang mudah membicarakan masalah “cinta” secara terbuka. Tentu saja cinta yang saya maksud disini adalah bukan cinta dalam arti universal, seperti saya mencintai Ibu atau Bapak saya atau seperti saya mencintai Ricardo Kaka yang telah menjadi suami orang. Cinta disini adalah cinta yang itu, ya yang sedang ada dalam pikiran kalian. Saya biasa bercerita segala hal dengan teman dekat saya, tapi tidak pernah tentang cinta, bukan karena saya menyembunyikannya, tetapi karena jujur, saya saya tidak begitu suka membicarakannya because I’ve been betrayed by it, long time ago but it was soo mean.
Ada banyak pertanyaan dalam kepala saya tentang cinta, yang suatu saat saya harap saya bisa memahaminya. Suatu kali saya pernah berdiskusi dengan seorang teteh saya, yang mengatakan bahwa cinta itu “bukan karena”. Maksudnya ketika kamu menyukai seseorang dengan tulus, itulah cinta. Tapi bagaimana mungkin ada yang seperti itu? Ketika saya menyukai seseorang, pastilah ada sebabnya, karena orang itu baik, ramah, lucu mungkin, menyenangkan, dan karena-karena lainnya, tetapi itu logis bukan?
Satu tahun yang lalu, teteh lain pernah bercerita pada saya di Bali tentang bagaimana cinta itu datang pada dua orang berupa sinyal-sinyal listrik yang tarik menarik satu sama lain, iyakah??? Kadang saya berpikir bagaimana mungkin dua orang saling mencintai, kecuali itu adalah suatu kebetulan, atau salah satu diantaranya mengalah pada perasaannya sendiri. Maksud saya begini, ketika A mencintai B, atau katakanlah menyukai B (karena menurut saya cinta itu masih absurd), alangkah kebetulannya B juga menyukai A. Mungkinkah semua cinta di dunia ini kebetulan? Kalau bukan kebetulan maka salah satu dari orang yang mencintai itu pastilah mengalah, melakukan apa-apa yang tidak disukainya demi menjaga perasaan orang lain, apa itu yang namanya cinta? Jika ternyata cinta itu muncul dari daya tarik-menarik alamiah antaradua orang, lalu darimana daya itu?
Ada lagi yang mengatakan cinta itu adalah karena biasa. Biasa makan bareng, biasa main bareng, jalan bareng, dan biasa melakukan hal-hal lain bareng, lalu kalau begitu menurut cinta itu adalah kebutuhan yang kita ciptakan sendiri, hanya karena kita tidak bisa lepas dari hal-hal yang biasa kita lakukan bersama seseorang.
Entah mengapa pengalaman cinta(mereka menyebut itu cinta) orang-orang yang ada di dekat saya kebanyakan menyedihkan. Ada teman yang meski ditipu berkali-kali oleh “cinta”nya, tetap saja bertahan, memberi maaf kesekian kalinya (menurut saya itu bodoh, kesempatan ke dua adalah menerima maaf, tetapi ke tiga, ke empat, ke lima, dan seterusnya adalah kebodohan). Ada yang tidak lagi membutuhkan orang lain setelah menemukan “cinta”, melakukan aktivitas setiap hari bersama si “cinta” seolah-olah hidup itu hanya dalam sebuah kotak dengan batas aku dan kamu, tidak peduli yang lainnya. Ada teman yang meski jelas-jelas tidak lagi dicintai oleh “cinta”nya, tetapi tetap saja kekeh, tidak mau melepaskan diri, melakukan apa saja untuk menarik perhatian si “cinta”, menelan obat melebihi dosis, tidak mau diobati demi mendapat simpati “cinta”, dan ada banyak lagi pengalaman sahabat-sahabat yang membuat saya istighfar. Berapa persen dalam hidup kita yang kita berikan untuk “cinta” itu? Sebegitu banyakkah sehingga ketika itu terjadi, kita tidak ingat lagi bahwa kita punya Tuhan, bahwa hidup kita itu tidak sebatas “cinta” kita, kita punya orang tua yang sedang bekerja membiayai kuliah kita, kita punya “sahabat” yang hatinya tidak pernah kita pikirkan ketika kita punya “cinta”. Padahal ketika “cinta” itu pergi, sahabat adalah orang yang pertama akan menerima kita dengan tangan terbuka.
Entahlah, ini hanya beberapa hal yang mengganjal dalam hati saya, boleh sepakat boleh tidak, ini hanyalah sekedar tuangan pikiran biasa saja.
Beginilah, baru berbicara masalah cinta sebanyak 577 kata saja saya sudah bosan, cinta memunculkan banyak pertanyaan yang malas saya cari jawabannya, karena itu hanya akan membuat saya semakin bingung, saya yakin pada saatnya nanti saya saya akan mengerti, kemudian menemukan seseorang yang saya sukai “bukan karena” (walopun meragukan :p), atau bahkan “cinta” itu sendiri, amiin... hahaha...
Ada banyak pertanyaan dalam kepala saya tentang cinta, yang suatu saat saya harap saya bisa memahaminya. Suatu kali saya pernah berdiskusi dengan seorang teteh saya, yang mengatakan bahwa cinta itu “bukan karena”. Maksudnya ketika kamu menyukai seseorang dengan tulus, itulah cinta. Tapi bagaimana mungkin ada yang seperti itu? Ketika saya menyukai seseorang, pastilah ada sebabnya, karena orang itu baik, ramah, lucu mungkin, menyenangkan, dan karena-karena lainnya, tetapi itu logis bukan?
Satu tahun yang lalu, teteh lain pernah bercerita pada saya di Bali tentang bagaimana cinta itu datang pada dua orang berupa sinyal-sinyal listrik yang tarik menarik satu sama lain, iyakah??? Kadang saya berpikir bagaimana mungkin dua orang saling mencintai, kecuali itu adalah suatu kebetulan, atau salah satu diantaranya mengalah pada perasaannya sendiri. Maksud saya begini, ketika A mencintai B, atau katakanlah menyukai B (karena menurut saya cinta itu masih absurd), alangkah kebetulannya B juga menyukai A. Mungkinkah semua cinta di dunia ini kebetulan? Kalau bukan kebetulan maka salah satu dari orang yang mencintai itu pastilah mengalah, melakukan apa-apa yang tidak disukainya demi menjaga perasaan orang lain, apa itu yang namanya cinta? Jika ternyata cinta itu muncul dari daya tarik-menarik alamiah antaradua orang, lalu darimana daya itu?
Ada lagi yang mengatakan cinta itu adalah karena biasa. Biasa makan bareng, biasa main bareng, jalan bareng, dan biasa melakukan hal-hal lain bareng, lalu kalau begitu menurut cinta itu adalah kebutuhan yang kita ciptakan sendiri, hanya karena kita tidak bisa lepas dari hal-hal yang biasa kita lakukan bersama seseorang.
Entah mengapa pengalaman cinta(mereka menyebut itu cinta) orang-orang yang ada di dekat saya kebanyakan menyedihkan. Ada teman yang meski ditipu berkali-kali oleh “cinta”nya, tetap saja bertahan, memberi maaf kesekian kalinya (menurut saya itu bodoh, kesempatan ke dua adalah menerima maaf, tetapi ke tiga, ke empat, ke lima, dan seterusnya adalah kebodohan). Ada yang tidak lagi membutuhkan orang lain setelah menemukan “cinta”, melakukan aktivitas setiap hari bersama si “cinta” seolah-olah hidup itu hanya dalam sebuah kotak dengan batas aku dan kamu, tidak peduli yang lainnya. Ada teman yang meski jelas-jelas tidak lagi dicintai oleh “cinta”nya, tetapi tetap saja kekeh, tidak mau melepaskan diri, melakukan apa saja untuk menarik perhatian si “cinta”, menelan obat melebihi dosis, tidak mau diobati demi mendapat simpati “cinta”, dan ada banyak lagi pengalaman sahabat-sahabat yang membuat saya istighfar. Berapa persen dalam hidup kita yang kita berikan untuk “cinta” itu? Sebegitu banyakkah sehingga ketika itu terjadi, kita tidak ingat lagi bahwa kita punya Tuhan, bahwa hidup kita itu tidak sebatas “cinta” kita, kita punya orang tua yang sedang bekerja membiayai kuliah kita, kita punya “sahabat” yang hatinya tidak pernah kita pikirkan ketika kita punya “cinta”. Padahal ketika “cinta” itu pergi, sahabat adalah orang yang pertama akan menerima kita dengan tangan terbuka.
Entahlah, ini hanya beberapa hal yang mengganjal dalam hati saya, boleh sepakat boleh tidak, ini hanyalah sekedar tuangan pikiran biasa saja.
Beginilah, baru berbicara masalah cinta sebanyak 577 kata saja saya sudah bosan, cinta memunculkan banyak pertanyaan yang malas saya cari jawabannya, karena itu hanya akan membuat saya semakin bingung, saya yakin pada saatnya nanti saya saya akan mengerti, kemudian menemukan seseorang yang saya sukai “bukan karena” (walopun meragukan :p), atau bahkan “cinta” itu sendiri, amiin... hahaha...
7 comments:
"abang bule ko murup kapten Hook di Film Peter Pan yaaa :D"
HUAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHA
gilaaaaa : ) tapi lucu banget ^^
apa yang lucu bang buleee?
itu salah ketik, harusnya mirip...
eh tapi emang mirip loh bang sama kapten hook, hehe...
hehehe...cinta ya?....
hard to define, and harder to measure.....
aku setuju tentang yang mengalah itu, sangat sulit untuk mencari kondisi dimana A dan B saling mencintai dari awal...pasti ada yang 'menyesuaikan'.....
Cinta sejati mungkin baru milik Rome dan Juliet...
ahaha, maybe bamb, tp kynya roemo n juliet itu kisah lebayyy bamb :p
tapi aku setuju mungkin cinta itu hard to define, harder to measure...
hah, cinta...
kalau diomongin ngga akan pernah selesai wida... tapi klo udah ngerasain, baru bisa ngerti kenapa orang-orang bisa segitunya gara-gara huruf C itu... tapi ngga nyampe lupa ama Tuhan.. Hehe..
hahaha, iya nez, ga selese-selese ngomonginnya...
crazy for love...
asal jgn lupa daratan aja ya ga??
^^
waduh,
saya pernah mengalami cinta buta
dan rasanya nyeseeeeek banget
saya banyak dosa
karena telah menyekutukan Tuhan dengan dia.
duh, jangan ampe deh kejadian ama anak-anak muda sekarang
tapi saya sekarang ga setuju klo cinta ga bisa didefinisikan.
yang pasti cinta itu butuh banyak pertimbangan.
ga boleh cuman bilang cinta ya cinta.
tapi cinta (apalagi kalo orientasinya menikah), itu butuh:
1. seiman,
2. restu orangtua,
3. berpendidikan dan berprospek cerah
4. uang
5. harta
bahkan di AlQur'an pun disebutkan kalo mau nikah tuh butuh tahta, harta, dan iman (saya lupa ayat berapa)
jadi, mau udah cinta klepek2, kalo ga memenuhi pertimbangan di atas...
KE LAUT AJA DEH LO
ahahahahahahah
happy life doesn't mean you fulfill what you want and what you need.
happy life means you prepare for your death.
yang paling deket ama kita bukan orang tua, pacar atau teman. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah kematian.
aku ga ada maksud nakut-nakutin lhoooo
maap yaaah!
Post a Comment