Hola, Merdeka!
Selamat ulang tahun buat negara tercinta, Indonesia.
Banyak yang merasa belum merdeka, merasa masih kurang ini itu.. Alhamdulilah, terimakasih saya merasa sangat merdeka, setelah membaca Totto Chan and Children, saya bersyukur, pemandangan di sekitar saya adalah orang-orang yang biarpun dengan perjuangan yang berbeda-beda namun masih bisa setidaknya menghirup udara segar dan mendapatkan air bersih. Merasa belum merdeka bisa jadi akan membuat saya kurang bersyukur nantinya, karena itu saya memilih untuk merasa merdeka. Banyak orang hidup di bawah garis kemiskinan di negara ini, hey! tapi meskipun mereka miskin mereka masih punya alternatif, mereka punya pilihan, pulang ke desa, sebarkan benih tanaman pangan di tanah, dan mereka setidaknya punya persediaan bahan makanan, tapi di Afrika sana, jangankan bercocok tanam, bahkan mereka sudah tidak punya air, yang ada hanya tanah retak yang kering dan nggak akan bisa ditumbuhi tanaman apa pun.
Ya! Oke, saya memilih untuk bersyukur dan berhenti menuntut banyak pada pemerintah. menuntut buat saya hanya membuat mental saya rusak, terlalu mencari-cari kesalahan tanpa belajar dan mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi nyata. jika merasa kecewa dengan pemerintah saat ini, Wake Up! belajar! nggak lama lagi akan tiba waktunya kita akan menggantikan mereka-mereka yang memimpin saat ini.
Sekali lagi di 65 tahun Indonesia merdeka saya memilih untuk bersyukur, saya tidak pantas menuntut terlampau banyak setelah apa yang saya dapatkan saat ini. I dont give a damn about politics, I dont care who's rich and why there are people who called 'poor'. Entah mengapa saya berpikir bahwa kita termakan oleh konstruk bahwa yang kaya adalah yang punya banyak uang, yang miskin adalah yang kurang uang, dan yang kaya adalah orang yang bahagia sedangkan yang nggak punya uang adalah orang yang menyedihkan. Televisi telah membodohi penontonnya melalui tayangan seperti 'jika kamu menjadi' dan tayangan-tayangan sejenis yang mengeksplor (seolah) penderitaan orang-orang yang hanya memiliki sedikit uang. Di satu episode ditayangkan satu keluarga petani yang tinggal di pedalaman dengan rumah dari bilik bambu, kemudian muncullah tokoh utama seorang mahasiswa kota yang akan diuji untuk tinggal disana (what the hell? so what dengan keadaan mereka?). Adegan selanjutnya bisa ditebak, si tokoh utama dengan muka sedih penuh air mata menyatakan perasaan sedihnya melihat keluarga petani yang tidak tidur di spring bed, yang masih memasak dengan kayu (tidak lupa pula iringan musik-musik menyedihkan), oke saya akan langsung tutup mata. Mematikan TV adalah pilihan bijak ketimbang saya pusing karena tensi darah saya naik. Maaf bapak ibu produser, saya nggak suka menonton acara seperti itu. Acara-acara itulah yang membuat teman-teman saya di kampung mengasihani diri mereka sendiri, merasa bahwa hidup seperti yang mereka jalani adalah hidup yang menyedihkan, membuat mereka menjadi kurang bersyukur. Saya dibesarkan di daerah, bukan di kota, saya banyak menemukan orang-orang yang tinggal di rumah-rumah bilik, tapi mereka sangat jauh dari yang digambarkan di TV, mereka adalah orang yang bahagia dengan hidup mereka, mereka sangat bersyukur tiap kali bangun pagi, masih bisa memetik sayuran di kebun, memasak dengan kayu, kemudian bersantai di teras rumah yang kebanyakan beralaskan tanah, ya semua mereka sangat bersyukur dengan kehidupan seperti itu, sampai kemudian TV mengkostruk ulang pemikiran mereka, mulailah mereka berlomba (seolah) memperbaiki hudup mereka. Mereka yang mampu akan dengan mudah melanjutkan hidup, yang nggak mampu, akan sulit menemukan apa itu kebahagiaan yang seharusnya, mulailah merebak cara-cara miring untuk menjadikan hidup mereka seperti yang didoktrin TV, urbanisasi terjadi besar-besaran, pengangguran di kota meningkat., kriminalitas juga meninggi, hidup menjadi tidak lagi seimbang.
Hh.. hampir 22 tahun hidup, saya sudah melalui fase-fase dimana saya bahagia dengan kehidupan desa (yang dianggap hidup susah saat ini), hingga bahagia dengan kehidupan kota yang ramai. Setiap orang punya cara masing-masing untuk merasa bahagia tanpa perlu memaksakan cara kita kepada orang lain, dan bukankah kita semua ingin hidup bahagia?
Aduh, saya bingung kenapa saya jadi menulis absurd begini, tapi yasudahlah.
Memimpikan apa yang tidak kita miliki memang baik, tetapi akan lebih baik jika kita mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan.
Ah, sudah 65 tahun kita merdeka, terimkasih buat para pahlawan atas jasa mereka, semoga kita selalu manjadi orang yang giat dan bersyukur, amiin..
anw, saya keingetan setahun lalu upacara bendera di Pantai Santolo, ah kangennya :)
Selamat ulang tahun buat negara tercinta, Indonesia.
Banyak yang merasa belum merdeka, merasa masih kurang ini itu.. Alhamdulilah, terimakasih saya merasa sangat merdeka, setelah membaca Totto Chan and Children, saya bersyukur, pemandangan di sekitar saya adalah orang-orang yang biarpun dengan perjuangan yang berbeda-beda namun masih bisa setidaknya menghirup udara segar dan mendapatkan air bersih. Merasa belum merdeka bisa jadi akan membuat saya kurang bersyukur nantinya, karena itu saya memilih untuk merasa merdeka. Banyak orang hidup di bawah garis kemiskinan di negara ini, hey! tapi meskipun mereka miskin mereka masih punya alternatif, mereka punya pilihan, pulang ke desa, sebarkan benih tanaman pangan di tanah, dan mereka setidaknya punya persediaan bahan makanan, tapi di Afrika sana, jangankan bercocok tanam, bahkan mereka sudah tidak punya air, yang ada hanya tanah retak yang kering dan nggak akan bisa ditumbuhi tanaman apa pun.
Ya! Oke, saya memilih untuk bersyukur dan berhenti menuntut banyak pada pemerintah. menuntut buat saya hanya membuat mental saya rusak, terlalu mencari-cari kesalahan tanpa belajar dan mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi nyata. jika merasa kecewa dengan pemerintah saat ini, Wake Up! belajar! nggak lama lagi akan tiba waktunya kita akan menggantikan mereka-mereka yang memimpin saat ini.
Sekali lagi di 65 tahun Indonesia merdeka saya memilih untuk bersyukur, saya tidak pantas menuntut terlampau banyak setelah apa yang saya dapatkan saat ini. I dont give a damn about politics, I dont care who's rich and why there are people who called 'poor'. Entah mengapa saya berpikir bahwa kita termakan oleh konstruk bahwa yang kaya adalah yang punya banyak uang, yang miskin adalah yang kurang uang, dan yang kaya adalah orang yang bahagia sedangkan yang nggak punya uang adalah orang yang menyedihkan. Televisi telah membodohi penontonnya melalui tayangan seperti 'jika kamu menjadi' dan tayangan-tayangan sejenis yang mengeksplor (seolah) penderitaan orang-orang yang hanya memiliki sedikit uang. Di satu episode ditayangkan satu keluarga petani yang tinggal di pedalaman dengan rumah dari bilik bambu, kemudian muncullah tokoh utama seorang mahasiswa kota yang akan diuji untuk tinggal disana (what the hell? so what dengan keadaan mereka?). Adegan selanjutnya bisa ditebak, si tokoh utama dengan muka sedih penuh air mata menyatakan perasaan sedihnya melihat keluarga petani yang tidak tidur di spring bed, yang masih memasak dengan kayu (tidak lupa pula iringan musik-musik menyedihkan), oke saya akan langsung tutup mata. Mematikan TV adalah pilihan bijak ketimbang saya pusing karena tensi darah saya naik. Maaf bapak ibu produser, saya nggak suka menonton acara seperti itu. Acara-acara itulah yang membuat teman-teman saya di kampung mengasihani diri mereka sendiri, merasa bahwa hidup seperti yang mereka jalani adalah hidup yang menyedihkan, membuat mereka menjadi kurang bersyukur. Saya dibesarkan di daerah, bukan di kota, saya banyak menemukan orang-orang yang tinggal di rumah-rumah bilik, tapi mereka sangat jauh dari yang digambarkan di TV, mereka adalah orang yang bahagia dengan hidup mereka, mereka sangat bersyukur tiap kali bangun pagi, masih bisa memetik sayuran di kebun, memasak dengan kayu, kemudian bersantai di teras rumah yang kebanyakan beralaskan tanah, ya semua mereka sangat bersyukur dengan kehidupan seperti itu, sampai kemudian TV mengkostruk ulang pemikiran mereka, mulailah mereka berlomba (seolah) memperbaiki hudup mereka. Mereka yang mampu akan dengan mudah melanjutkan hidup, yang nggak mampu, akan sulit menemukan apa itu kebahagiaan yang seharusnya, mulailah merebak cara-cara miring untuk menjadikan hidup mereka seperti yang didoktrin TV, urbanisasi terjadi besar-besaran, pengangguran di kota meningkat., kriminalitas juga meninggi, hidup menjadi tidak lagi seimbang.
Hh.. hampir 22 tahun hidup, saya sudah melalui fase-fase dimana saya bahagia dengan kehidupan desa (yang dianggap hidup susah saat ini), hingga bahagia dengan kehidupan kota yang ramai. Setiap orang punya cara masing-masing untuk merasa bahagia tanpa perlu memaksakan cara kita kepada orang lain, dan bukankah kita semua ingin hidup bahagia?
Aduh, saya bingung kenapa saya jadi menulis absurd begini, tapi yasudahlah.
Memimpikan apa yang tidak kita miliki memang baik, tetapi akan lebih baik jika kita mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan.
Ah, sudah 65 tahun kita merdeka, terimkasih buat para pahlawan atas jasa mereka, semoga kita selalu manjadi orang yang giat dan bersyukur, amiin..
anw, saya keingetan setahun lalu upacara bendera di Pantai Santolo, ah kangennya :)
No comments:
Post a Comment