Tanggal 24 lalu, saya berkunjung ke Tipar, sebuah dusun terpencil di Purwokerto bersama Ibu, Bapak, 2 adik saya, dan Bibi Yah. Tipar adalah dusun di mana bapak lahir dan dibesarkan. TErakhir kali saya ke sana adalah 17 tahun lalu ketika saya masih TK. DAri Purwokerto kota, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam menuju Tipar (kalo ngebut). Saya hanya mengingat samar-samar tentang Tipar 17 tahun lalu sehingga ketika mobil mulai memasuki daerah Rawalo, saya tidak bisa menebak bahwa kami telah masuk ke persimpangan menuju Tipar. Jalan awal ke sana sudah diaspal. Lurus dan tidak luas. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan sawah-sawah yang baru saja dipanen (bahasa jawanya panen padi itu "nderep"). Bapak tidak hentinya bercerita, menunjuk-nunjuk ke persawahan dan gunung di sekitar kami, bernostalgia "dulu bapak sama makwo (nenek saya) pernah jalan mengelilingi gunung itu, di jalan bapak haus lalu dibelikan banyu asem sama makwo...", "dulu bapak sering main sepeda di sawah itu, jalan aspal ini belum ada..", "Nah! liat jembatan itu, dulu itu tempat bapak main, bapak masih inget banget...". Mobil melaju luruuuus dan jauh diiringi cerita bapak, sampai kemudian kami tiba pada jalan-jalan yang sangat kecil dan keropos, yang kemudian bercabang pada ujungnya. Mobil mengambil sisi kiri, memasuki jalan becek, licin dan tidak beraspal. Kiri kanan kami dipenuhi "alas" (hutan). Akhirnyaa, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang dindingnya dominan kayu dan anyaman bambu. Ah ya! saya ingat, itu rumah yang 17 tahun lalu saya datangi.. Saya melirik ponsel saya, no signal. Senang sekali mendapati saya bisa berada di rumah itu lagi, dengan bapak dan ibu. Peluk cium dari Mbah (adik kakek saya) dan uwa menyambut kami. Bapak kelihatan senang sekali setelah 17 tahun tidak kembali ke kampung halamannya. Rumah Mbah masih sama, lantainya tetap tanah, bedanya mbah sudah punya kamar mandi, kami tidak perlu mandi ke sungai. Kamar mandi itu adalah sebuah bak yang dialiri air dari gunung. Sayangnya Mbah tidak punya WC, kami harus ke Masjid di bukit untuk buang air besar (karena saya nggak mau bab di sungai, hehe). Kami tiba saat sendekala (waktu magrib). Malamnya, banyak sekali saudara berdatangan mendengar kabar kedatangan kami. kami bersalaman, dan rata-rata uwa dan mbah pasti bilang begini ke saya "njenengan sapa? njenengan anake rasim mbok? MasyaAlloh, wiwit, wis gedi pisan, mbiyen pas teka agi cilik-cilik banget..". Tidak sedikit uwa yang menangis haru masih bisa bertemu kami. Setelah 17 tahun, banyak keluarga di Jawa yang sudah meninggal, begitupun di Bengkulu, mengharukan sekali malam berbagi cerita itu.
Berpuluh tahun lalu (saya lupa tepatnya), Pakwo (kakek saya, ayah bapak), memutuskan untuk mencari peruntungan ke Sumatera bersama beberapa saudaranya. Sejak itulah keluarga Pakwo terpisah dan jarang sekali berkumpul. Saya sangat bersyukur pakwo memutuskan untuk pindah ke Sumatera. Kami sekarang hidup sangat nyaman di sana. Dan kehidupan kami di sana sudah cukup maju. Sejujurnya saya sedih melihat keadaan Tipar yang tidak jauh berbeda dengan 17 tahun lalu. Tidak banyak kemajuan yang berarti. Pemikiran keluarga bapak di sana masih sama. Membesarkan anak, kemudian di umur belasan tahun dinikahkan. Saya sangat sedih ketika seorang uwa bilang "njenengan mbok urung kawin? arep nunggu apa?" atau "lah arep ngapa kuliah, susah-susah, andon ngentekke duit mbok". Seumuran saya di sana jarang sekali yang belum menikah.
Di sana, kebanyakan orang hebat adalah orang yang rumahnya berlantai keramik, punya banyak sawah, dan ukuran-ukuran lain yang menyangkut materi. Menurut bapak Tipar agak susah maju karena orang-orangnya masih banyak yang berpola pikir jaman dulu. Saya hanya mengiyakan. sampai di hari ke dua, saya takjub sendiri. HAri itu kami berencana ziarah. Saya bangun kesiangan, ketika bangun, orang-orang sedang sibuk membicarakan perihal ibu yang tidak boleh ikut ziarah.
mbah: "sing olih maring kuburan bapake wae, mbakayu ne ora usah melu"
bapak: "lah, ngapa toh yung?"
mbah: "mbok mbakayu ne priyayi, priyayi ora olih maring kuburan"
bapak tersenyum menahan tawa. Ibu saya tidak diperbolehkan ziarah ke kuburan karena ibu adalah PNS, kalo jaman dulu, pegawai adalah priyayi, abdi belanda. Mbah kemudian mendengarkan penjelasan bapak, tetapi masih agak kekeuh bahwa ibu dan kami (yang dianggap anak priyayi) nggak boleh ikut ziarah. Pada akhirnya memang cuma bapak yang berangkat.
Ah pokoknya banyak pengalaman baru di Tipar. Saya merasa sangat nyaman tinggal di rumah mbah meskipun listrik dan sinyal terbatas.
Dan ini adalah oleh-oleh dari Tipar...
Berpuluh tahun lalu (saya lupa tepatnya), Pakwo (kakek saya, ayah bapak), memutuskan untuk mencari peruntungan ke Sumatera bersama beberapa saudaranya. Sejak itulah keluarga Pakwo terpisah dan jarang sekali berkumpul. Saya sangat bersyukur pakwo memutuskan untuk pindah ke Sumatera. Kami sekarang hidup sangat nyaman di sana. Dan kehidupan kami di sana sudah cukup maju. Sejujurnya saya sedih melihat keadaan Tipar yang tidak jauh berbeda dengan 17 tahun lalu. Tidak banyak kemajuan yang berarti. Pemikiran keluarga bapak di sana masih sama. Membesarkan anak, kemudian di umur belasan tahun dinikahkan. Saya sangat sedih ketika seorang uwa bilang "njenengan mbok urung kawin? arep nunggu apa?" atau "lah arep ngapa kuliah, susah-susah, andon ngentekke duit mbok". Seumuran saya di sana jarang sekali yang belum menikah.
Di sana, kebanyakan orang hebat adalah orang yang rumahnya berlantai keramik, punya banyak sawah, dan ukuran-ukuran lain yang menyangkut materi. Menurut bapak Tipar agak susah maju karena orang-orangnya masih banyak yang berpola pikir jaman dulu. Saya hanya mengiyakan. sampai di hari ke dua, saya takjub sendiri. HAri itu kami berencana ziarah. Saya bangun kesiangan, ketika bangun, orang-orang sedang sibuk membicarakan perihal ibu yang tidak boleh ikut ziarah.
mbah: "sing olih maring kuburan bapake wae, mbakayu ne ora usah melu"
bapak: "lah, ngapa toh yung?"
mbah: "mbok mbakayu ne priyayi, priyayi ora olih maring kuburan"
bapak tersenyum menahan tawa. Ibu saya tidak diperbolehkan ziarah ke kuburan karena ibu adalah PNS, kalo jaman dulu, pegawai adalah priyayi, abdi belanda. Mbah kemudian mendengarkan penjelasan bapak, tetapi masih agak kekeuh bahwa ibu dan kami (yang dianggap anak priyayi) nggak boleh ikut ziarah. Pada akhirnya memang cuma bapak yang berangkat.
Ah pokoknya banyak pengalaman baru di Tipar. Saya merasa sangat nyaman tinggal di rumah mbah meskipun listrik dan sinyal terbatas.
Dan ini adalah oleh-oleh dari Tipar...







