Walking Along Akmani Hotel to Pertamina
Sambungan dari serial bersama teman-teman Belgia :D
Ini adalah cerita di hari pertama kerja. Waktu itu saya masih berangkat dari Bogor, dari rumah sepupu saya. Pagi pertama itu, kami nggak naik kereta, mastom bawa mobil ke kantor, karena harus nganterin mba pipit (istrinya) ke jatiwaringin terlebih dahulu. Kami berangkat hampir jam setengah enam, berharap dijauhkan dari macet. Tetapi ternyata tetap saja macet dimana-mana. Keluar dari Jatiwaringin, saya mulai panik karena bahkan jarum jam saya bergerak lebih cepat dari mobil mastom. Ditambah lagi saya nervous karena memikirkan apa yang akan saya hadapi nanti dengan bule-bule Belgia itu. Saya menghitung dalam hati, mulai gelisah, sebentar lagi 09.30 yang itu berarti kalo saya dateng lewat jam segitu, saya telat. Telat di hari pertama, dan bekerja dengan orang asing, tentu bukanlah ide gemilang. Saya mulai berisik tanya-tanya mastom kapan nyampenya. Mastom tetep tenang menjanjikan nggak bakal telat. Ketika temen-temen interpreter saya ngabarin kalo mereka udah stand by di Akmani, saya makin panik tu de meks.
Dan seperti di film-film, saya sampai di 5 menit menuju waktunyaa. Setelah makasih sama mastom saya ngibrit naik ke lobby akmani. Temen-temen saya udah di sana. Semua mukanya ada tulisan “DEGDEGAN”, hehe.. saya ke toilet bentar, pas balik lagi, dheg! Udah banyak aja mahasiswa belgia yang turun, dan mereka udah menuju interpreternya masing-masing (ya kami pertama mengenal satu sama lain lewat photo :D). Saya haha hihi sama mereka semua, beberapa udah kenal di pertemuan awal, beberapa lagi muka baru. Saya lirik-lirik sana sini, berharap menemukan muka yang mirip photo hitam putih (udah fotokopian soalnya) bernama Kevin Missoorten. Dan sejauh mata memandang si Kevin ini nggak ada, gimana ini, padahal saya shift pertama kerja sama dia. Kemudian satu persatu temen saya mulai meninggalkan lobby akmani bersama partner mereka. Masih tersisa Jan bareng bamby, dan debora yang partnernya, laia, belum juga turun. Dan tiba-tiba lift terbuka, keluarlah sesosok manusia tinggi dengan rambut blonde acak-acakan dan tangan memegang dasi, dia terburu-buru. Pas liat mukanya, saya percaya dan besar kemungkinan itu adalah kevin, partner saya sebulan ke depan. Dari sofa lobby saya udah nyengir seramah mungkin ketika dia mulai berjalan ke arah saya. Hampir saya berdiri sampai kemudian si kevin ini berbelok 15 derajat menuju Jan, dan mereka mengobrol lama, sambil kevin masang dasi. Saya makin deg-degan, that time I thought that I might be invisible so he couldnt see me properly. Tapi itu terlalu nggak mungkin, saya segede ini nggak keliatan. Mulailah saya berpikiran, jangan-jangan si kevin ini nggak mau diinterpreterin sama saya, jangan-jangan si kevin ini nolak saya, jangan-jangan dan terlalu berjangan-jangan membuat saya nggak ngeh pas Jan udah pergi sama bamby. Laia juga udah mau jalan, dan saya nggak punya pilihan lain selain nyengir sama Kevin.
Kevin: Hi, so you’re wida, right? I’m Kevin, nice to meet you
Saya: Uh, Hi, yes I am, I am wida, nice to meet you too
Tiba-tiba banyak jangkrik muncul di lobby akmani, krik krik krik... jangkrik-jangkrik baru pergi setelah Kevin mengangkat tas.
Kevin: Uhm, what do you think? Should we go now? (menunjuk ke luar hotel)
Saya: Yes, of course, let’s go!
Kami berjalan ke luar hotel menuju wisma nusantara melewati Jalan Sabang. Masih sama-sama kikuk. Kevin sambil jalan sambil ngelipet lengan bajunya sampe ke siku, dan saya deg-degannya minta ampun. Sampai keheningan dipecahkan oleh Kevin.
Kevin: Well, so we’ll work together this whole mission. I’m glad I have you, but I hope this is okay with you, I mean my mission.
Saya: Ya, I’ll do my best and yes, everything is okay with me.
Kevin: have you read about my mission in our profile? As you see, I came from a hydrogen instalation company. My mission is not easy, so we have to work hard, will you help me?
Saya: Ya, I’ve even browsed about your company and I will fully help you.
Kevin: woa, great! Thankyou then. You know my company is bla bla bla...
Dan sepanjang sabang si Kevin menjelaskan mengenai perusahaan yang direpresentasikannya. Nggak tau karena gugup atau apa, kami berjalan sangat cepat, bahkan kami berhasil melewati teman-teman yang sudah duluan berangkat. Sampai di depan wisma nusantara, Kevin tetap jalan. Saya bingung dan ketinggalan. Keringat mengucur deras sebadan-badan saya (yaiyalah jalan sepanjang jalan sabang kayak robot dengan keramahan panas Jakarta jam 9 pagi bukan pilihan ibu bijak).
Saya: Kevin, wait, dont we stop here? Deloitte’s in this building, right? (menunjuk wisma nusantara).
Kevin: Oh, I forgot to tell you. This morning, will you accompany me to Pertamina? Yesterday I’ve made an appointment with someone there.
Saya: Oh, I see, okay, how do we get there?
Kevin: Yesterday I went there by my foot. Look! That’s pertamina, its not far from here (menunjuk tulisan ‘pertamina’ di atas gedung yang tinggi dan Cuma keliatan atepnya)
Saya: Okay, It must not be that far since we could see it from here.
Kami pun berjalan meninggalkan rombongan yang berbelok ke Wisma Nusantara. Saya mulai ngos-ngosan. Si kevin ini ya udah mah kakinya panjang, jalannya cepet pula. Saya mati-matian mengimbangi, efeknya, sepatu yang saya pakai menjadi tidak nyaman (sepatu baru pula). Kaki mulai perih, tapi saya nggak bilang. Saya nggak mau merusak hari pertama kami bekerja-sama. Ketika sampai di kompleks Monas, kami harus menyebrang. Di jalan itu mobil dan motor melaju kencang, saya berpikir untuk menunggu lampu merah baru menyeberang, sampai kemudian saya paniik karena tiba tiba si Kevin melenggang ke tengah jalan.
Saya: Hey! Kevin! Wait! You can not cross this road that way! It’s dangerous! (lari-lari ngejer sambil teriak-teriak panik)
Kevin: C’mon widaa, follow me! This is okay! I saw some Indonesian did this yesterday, c’mon, we’ll be okay (tetep nekat nyebrang)
Saya udah mau pingsan rasanya pas pada akhirnya ngikutin kevin nyebrang. Entah mungkin ada keajaiban, bahkan mobil-mobil yang kenceng pun ngasih jalan buat si Kevin, dan saya, ekornya.
Di terik siang yang membakar, kami berjalan melintasi Monas. Karena kompleks Monas yang ternyata sangat bueeesar, kami lama berjalan. Kevin juga mulai memperlambat jalannya. Kami mengobrol banyak, bukan soal pekerjaan, mulai mengenal satu sama lain. Kevin menanyakan mengenai background pendidikan saya, orang tua, dan cita-cita saya.
Kevin: if you’re majoring International Relation, then you want to be a diplomat, huh?
Saya: No, I’d never think that I could be a diplomat. I want to be a teacher
Kevin: wow, that’s great, someone like you wants to be a teacher
Saya: Thanks, but since I wasnt majoring educational background, I have less opportunity to be a teacher.
Kevin: If you want to be a teacher, then why did you take International relation major?
Pertanyaan yang bisa dengan mudah di jawab ke teman-teman sebangsa dan setanah air saya. Tapi gimana cara ngejelasin sama si Kevin ini tanpa membuat dia mispersepsi tentang budaya Indonesia?
Saya: Uhm.. I’d really love to.. but you know, to choose it, I have to consider manythings, and the most crucial things is my parents agreement. No, its not like my parents forced me to choose something I didn’t want to, but I have to consider everything for my own good
Kevin: I do understand it, I know and you should know too that your parents wants the best for you
Saya pun bisa bernapas legaa..
Saya: Yes, I believe that, Kev... I know I can do something so I could be a teacher. And you know what, my parents are now fully supporting me to be a teacher.
Kevin: Great! I know you can make it. You know, for me, you can be a better teacher since you’re not from educational background
Saya: Ha! How come? I know less about education.
Kevin: But you know more than a teacher knows, you learn different things from a teacher, an educational teacher, just don’t give up...
Kalimat terakhir Kevin benar-benar mencerahkan. Saya menjadi sangat bersemangat. Saya nggak peduli kaki yang mulai perih ampun-ampunan karena melangkah cepat di paving blocks Kompleks monas yang udah nggak rata.
Tepat di depan monumen, kami melihat anggota TNI yang sedang berlatih simulasi-something dengan perahu-perahu karet dan Kevin memandang dengan takjub *atau aneh.
Kevin: Isn’t it weird, they train something in this public place, should this be a state secret? And whats with that boat? Here’s even no water..
Saya Cuma jawab dengan senyum dan menggumam dalam hati, “selamat datang di Indonesia, bung!”
Dari monumen ke Pertamina, Kevin menceritakan sejarah negaranya, tentang awal mula kenapa mereka bisa terpecah menjadi dua kelompok, yang berbahasa Belanda, dan yang berbahasa Perancis. Saya mendengarkan sambil meringis, kaki saya pastilah sudah lecet-lecet. Satu kalimat menarik yang saya ingat,
Kevin: In Belgium, people who speak france will hate people who speak dutch, people who speak dutch will hate people who speak france, and me, I speak both, and people who speak both will hate each other
Saya: What? (kaget)
Kevin: Haha, no, I’m kidding (sambil ngedip)
Sampe sekarang aku nggak tau itu kalimat serius atau enggak.
Keluar dari Monas, kami harus berjalan lagi dan menyebrang. Sepanjang jalan, Kevin banyak diteriakin orang-orang, dari yang bagus-bagus macam “hello mister”, “mister you hensem”, sampe yang brutal macam “hey krezi”, kevin noleh, dan neriakin malah senyum manis. Kevin Cuma bales senyum.
Saya: How do you feel about that? Is that bothering? That people who shout at you everytime you walk here?
Kevin: No, not at all, I’m kinda feel like celebrities, hehe..
Saya: Oh, I see, so you enjoyed it, right?
Kevin: that’s not it, it’s juts I’m relieved they’re nice to me, and I’m glad in Indonesia I can see a lot of people around the street everyday. You can’t find it in Belgium. Everyday people are always busy bees, working indoor. And you know, I’ve been in a weirder situation. When I visited my Godmother’s family in Thailand, everyone was not only shouting at me, they were touching my skin, almost all of them, they kept touching my hair also, they thought that I’m really different with them, but that’s totally okay, I wasn’t irritated, they’re warm.
Dan setelah selesai cerita itu, kami tiba di Pertamina. Semua menyambut ramah saya.. err Kevin dan saya. Mbak-mbak di meja resepsionis menyambut dengan senyum sangat manis manis sekali. Saya terkesan. Kevin si empunya janji kemudian diberi ID visitor. Kami melenggang naik ke lantai si bapak yang memberi janji. Meeting berjalan, hyah.. nggak perlu saya ceritakan di sini, bukan hal yang menyenangkan untuk di kenang. Yah, cukup saya dan Kevin saja yang tau ya..
Yang saya ingat dari meeting itu adalah ketika si perwakilan pertamina itu sedang menerima telepon, Kevin menanyakan sesuatu pada saya, yang katanya anak perusahaan pertamina (saya lupa nama pastinya). Karena saya nggak tahu, saya bilang sama Kevin kalo saya mau coba googling dari hp saya. Kevin juga kemudian ngeluarin hp-nya. Dan jengjeeeng, kami sama-sama kaget. Hp kita sama bok! Persis! Nokia 3110C!
Kevin: is that you cellphone? Wow! It’s exactly the same type with mine!
Saya: Yes, this is mine, and what a surprise, we have the same cellphone, one used in Belgium, and one used here, wow!
Kevin: you know, my father gave this to me.
Saya: What a coincidence! Mine’s also from my father, kev!
Dan kami ketawa, kok isoo gitu ya. Hp saya itu hp jadul, tapi mau diganti sayangnya minta ampun. Itu dulu dikasih sama bapak, pas jamannya hp itu lagi in. Ceritanya waktu itu hp saya rusak, jadinya saya Cuma bisa beli hp yang monokrom kuning. Bapak yang sayang sama saya akhirnya ngasihin hp beliau ke saya, dan beliau pake hp kuning saya. Hp yang memorable dan ternyata sama kayak punya bule dari Belgia yang jadi partner kerja saya.
Selesai meeting, kami menuruni gedung, dan saya masih inget satu komentar kevin, yang membuat saya agak tercengang.
Kevin: Yesterday, I went here by myself. I didn’t know who I should met and where I should go, the receptionist send me to the right, to the left, then I got lost in a basement, and it’s full of mercy cars. I was surprised. Then I’ve visited some room and I realized that here, some people handling the same job, for example like in the receptionist desk before, there are 3 people included the security, but it’s a bit wasted since actually a person can handle it. In belgium, one person should handle more than one job for eficiency. It’s on the contrary of situation here.
Saya: (deep breath) Kev, you know, Indonesia is not Belgium. You see people on the street before? They’re jobless. Here we have a problem of people who hardly find a place to work. Too many people here, especially in Jakarta, so I’m glad that there’re a lot of vacancy for them, although it’s a waste, at least they have some works to do and someone will pay them everymonth. Dan si Kevin manggut-manggut.
Saya udah takut aja kalo pulangnya mesti jalan kaki lagi, sepatu saya bahkan udah terlihat menyedihkan, kaki saya sangat sakit. Akhirnya Kevin nyetop taksi karena ngeliat saya keringetan dan saya bilang saya haus, dia juga haus, nggak minum dari pas di Akmani. Di taksi kami kembali mengobrol, bertukar cerita. Tiba-tiba ada satu hewan, serangga kecil terbang-terbang di muka si Kevin yang langsung panik dan nepok si serangga dengan sadis sampai mati. RIP serangga apa pun itu.
Kevin: What was that? Is that dengue mosquito? (panik)
Saya: Ha?? No, it’s just a small-nothing insect, dengue mosquitos are bigger than it. Why are you so panic?
Kevin: You know, before coming here, we’re all got some treatment related to viruses that might attack while we’re here. And we’re also told that dengue mosquitos are one of the most dangerous here.
Saya pun menjelaskan tentang nyamuk demam berdarah, dan dilanjutkan dengan cerita lain yang sebenernya masih saya ingat, namun, terlalu panjang kalo ditulis di sini (hey! Ini juga sudah panjang wiit!).
masih bersambung loh, ada banyaak cerita :D