Deloitte, they call me ms.cherry on my 1st day :D
Setelah pulang dari Pertamina, kami menuju Deloitte, kantor yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa belgia itu selama di Indonesia. Kantor Deloitte ini ada di lantai 12 Wisma Nusantara. Saya bisa masuk dengan leluasa karena bersama Kevin.sampai di lantai 12, seorang mbak yang sangat ramah menyambut di meja resepsionis, kami berdua balas senyum dan menuju ruangan. Jujur saya degdegan lagi karena saya akan bekerja satu ruangan dengan teman-teman saya dan hampir semua mahasiswa belgia itu. Saya mengambil posisi duduk pas di sebelah kiri Kevin dan di sebelah kiri saya ada Pierre-Olivier (PO), partner dina. Saya melontarkan senyum membalas senyum PO. Sementara Kevin menyiapkan laptop, saya melirik ke sebelah kanan Kevin, ada anthony, partner Ajay, memakai kemeja berwarna ungu manis sekali, saya ampe inget ampe sekarang warnanya, hehe.. dan sama seperti ritual dengan yang lain saya melontarkan senyum membalas senyum anthony. Kemudian saya memandang ke depan, dan si Yasir sudah tersenyum, lagi-lagi saya balas dengan kikuk, di sebelah Yasir, ada Laia yang juga senyum ke saya, sementara Debo, partnernya sedang sibuk menelepon.
Laptop Kevin sudah siap.
Kevin: well, today I need you to help me making some phonecalls to some company, since not all the operator could speak english properly. You may tell them that you’re calling representing me, Kevin Missoorten, and I’m from hydrogenics, a company in Belgium that basically produce hydrogen instalation. I’m here to collect all the information related to hydrogen use in some industries in Indonesia, how do they get it, where do they buy the instalation, how’s the pressure and purity, blablabla... Do you understand?
Me: (Takjub) Ohk..okay I understand, I’m wida calling representing Kevin em..emm.. miss.. (saya nyengir lupa nama lengkap Kevin)
Kevin: That’s okay, my name is not a usual name for you so a bit hard to remember, this, you can have my namecard so you can easily call everyone. Well, you can start, but if you need to wite something first, that’s okay, thankyou so much
Setelah itu saya mulai mengingat instruksi kevin, mencatat di kertas dan menatap lists perusahaan-perusahaan yang harus ditelepon, dan mulai menelepon. Setelah itu ternyata ada beberapa perusahaan yang meminta fax resmi dari Kevin, jadilah kami membuat draft, mengeprint dan kemudian menuju ke resepsionis, karena di ruangan kami tidak ada mesih fax. Kevin yang pertama berbicara, tetapi si mbak panik dan bilang kurang mengerti, jadilah saya jelaskan maksud kami.
Saya: Mbak ini, namanya Kevin, dia mau numpang kirim fax mbak, bisa dibantu?
Mbak: Oh, gituu, oke deh, bentar ya saya telpon bagian yang lagi kosong dulu yaa, duduk aja dulu di situ ya..
Si mbak menelepon dan kemudian meminta kami mengikutinya. Di jalan, si mbak tanya-tanya soal Kevin.
Mbak: mbak si kevin umurnya berapa sih?
Saya: 22 masuk 23 mbak, kenapa? Naksir ya? Hehehe
Mbak: Wah brondong bok, ganteng ya bule-bule Belgia ini, hehehe..
Saya: SI mbak bisaan ya liat yang bening-bening, hahaha
Setelah itu saya dan si mbak ketawa bareng dan kevin dengan pandangan penuh tanya Cuma senyum. Kami tiba di ruangan yang isinya mesin fax dengan bapak-bapak gendut sebagai operatornya.
Mbak: Pak X (saya lupa namanya), ini ada brondong sama mbak cherry mau numpang nge-fax boleh ya pak? (saya melotot, dalam hati menggumam, nama saya wida, buka cherry)
Bapak: (menatap ke arah Kevin) she said you are ‘brondong’ mister, what can I do?
Kevin: be..brrrondong.. er.. (menatap saya dengan bingung), what is that wida?
Saya: eng.. it’s an idiom, er.. it means that you’re young man (nyengir)
Kevin: (muka masih bingung) oh.. okay
Setelah selesai ritual kirim fax, kami kembali ke ruangan, sebelum itu si mbak sempet-sempetnya
Mbak: Mbak cherry nanti kalo butuh bantuan bilang aja ya *nyengir
Saya Cuma mengangguk dan menutup pintu ruangan. Sejak itu sampai beberapa hari berikutnya si mbak tetap memanggil saya cherry dan saya Cuma bisa menghela nafas. Saya akhirnya menyadari kenapa si mbak kekeuh manggil saya mbak cherry, karena di hari pertama saya di Deloitte, saya make kemeja dan jilbab berwarna peach terang, ealaahh... saya pun tahu si mbak itu bernama mbak endang saat di hari ke dua atau ke tiga, ketika itu saya sedang bekerja untuk Kevin, kami lagi-lagi merepotkan si mbak minta bantuan mengirim fax.
Kevin: Wida, do you know who is she? I mean what’s her name? That woman in the receptionist desk?
Saya: Mbak endang, why? Do you need anything?
Kevin: er.. embagh endhang.. I’ll try to remember her, she always helps me
Saya: Yes, you should be really thankful to her, she’s been helping us much
Kevin: Okay, em..embagh endhang (mengeja dengan susah payah).
Setelah itu, ketika kami lagi-lagi dibantu mbak endang, kevin dengan lancar bilang “tcherimakasih embagh endhang”, dan mbak endang yang kaget karena Kevin tau namanya Cuma nyengir dengan wajah bersemu merah, wow! western guys are really sweet :)
Cerita di Suatu Hari
Pagi yang cerah, saya naik kereta dari stasiun mangga besar dan berhenti di Gondangdia. Masih banyak waktu untuk memutuskan berjalan kaki menyusuri jalan wahid hasyim. Saya tetap datang lebih awal ke Akmani, menyusuri jalanan sabang mengikuti Kevin yang seperti biasa masih membenahi lengan kemejanya. Di depan Holland Bakery, Kevin berhenti melangkah, seperti mengingat sesuatu.
Kevin: I forgot my ID card, do you think they’ll let me in?
Saya: Mm.. not so sure but since we’re just a few steps closer, we might try first
Dan kami pun tetap menuju Deloitte. Saya yakin seyakinnya Kevin boleh masuk wisma nusantara,er.. karena dia bule. Dan benar saja, kami bebas melenggang. Coba kalo saya yang sendirian ga punya ID, interogasinya bisa panjang, hehe..
Di lantai 12 wisma nusantara, saya mulai membuka laptop, memeriksa agenda untuk hari itu, dan mereview pekerjaan terakhir sementara Kevin seperti biasa membuat teh panas sambil berteriak kecil menawarkan saya teh, awalnya saya menolak, masa iya dibuatin teh sama bos, lagian saya bisa bikin sendiri, tetapi kevin terus bilang “I saw you made your tea, if you want some tea too, let me make it, thats really okay” dan suatu hari Laia yang kebetulan ada si satu shift dengan kami bilang sambil ketawa “hey wida, if you want some tea, let him make it, its a good service”, pada akhirnya saya nyerah, dan seterusnya Kevin bertugas membuatkan teh, lalu nanya “do you want sugar? No?” dan saya sambil nyiapin kerjaan hari itu akan teriak “yes, two blocks of sugar please, thankyou kev”, yaa, kedengeran seperti interpreter yang gatau diri kan, hahaha :D
Hari itu mood kami sedang bagus, kami baru saja mendapatkan kontak-kontak perusahaan flat glass manufacturers, yang berarti bisa kami hubungi. Saya mulai menelepon satu persatu dari pagi, dan... dan..... hingga jam makan siang pun, nggak ada satu kontak yang sesuai dengan harapan, ternyata itu adalah perusahaan dari industri glass manufacturer, bukan flat glass manufacturers. Saya setenganya kesal juga sama asosiasi perusahaan-perusahaan itu, masa ngasih data yang nggak relevan. Kevin udah kesel, pas kontak terakhir, dia nanya ke saya dan saya jawab dengan pasrah bahwa kontak terakhir pun nggak relevan. Saya meminta maaf ke Kevin dan menyampaikan rasa prihatin saya nggak bisa menghasilkan apa-apa hari itu. Kevin menggigit-gigit kuku, kemudian tersenyum, “no, its not your fault, you’ve done the best, we’ll continue after lunch, ok”, saya pun menjawab, “but I do feel uneasy about nothing resulted from our first shift work”, Kevin kemudian duduk tenang sambil membereskan laptopnya, “well, I have another dutch proverb for you. You’ve called many companies, yet you got nothing, but you know you have to try again, if you give up, you already have a NO answer, and do you still remember the last proverb I’ve given to you? The last man standing wins, it’s simple rule like when you’re in a marathon competition, you have to keep running til the end, when everyone starts to tirely stopped, you have to keep going, wherever the last man standing always wins, so, semanghaat!”. Kevin tersenyum mengakhiri dengan semangat (semangat adalah kata-kata favorit kevin setelah saya kasih tau “it’s the word to give someone spirits”, dan Kevin selalu mengulang kata itu), menutup tasnya, mengambil handphone, menelepon seseorang namun tampak tidak ada jawaban, Kevin keluar, kemudian masuk lagi, “Hey wida, lets have lunch then we’ll have new energy to find another strategy”. Saya Cuma jawab ok dan senyum.
Kevin ke luar ruangan duluan, sebelum saya menyusul, dityo, teman saya yang juga ada shift bareng kami, menghampiri saya, “wid, lo tau nggak barusan si kevin abis nelpon ke luar, gigit kuku dan mengumpat ‘FAK!’, hahaha, abis itu masuk dan baru ngomongin strategi baru itu ke elo”. Saya pun nggak bisa menahan tawa, tetapi dalam hati saya bersyukur, Kevin nggak pernah mengumpat di depan saya sekesel apa pu dia sama birokrasi indonesia. Dia menghargai saya, menghargai budaya Indonesia yang (seharusnya) nggak biasa mengumpat kasar dan saat itu saya berjanji, for the sake of peaceful world, I’ll always respect everyone’s culture.
Setelah pulang dari Pertamina, kami menuju Deloitte, kantor yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa belgia itu selama di Indonesia. Kantor Deloitte ini ada di lantai 12 Wisma Nusantara. Saya bisa masuk dengan leluasa karena bersama Kevin.sampai di lantai 12, seorang mbak yang sangat ramah menyambut di meja resepsionis, kami berdua balas senyum dan menuju ruangan. Jujur saya degdegan lagi karena saya akan bekerja satu ruangan dengan teman-teman saya dan hampir semua mahasiswa belgia itu. Saya mengambil posisi duduk pas di sebelah kiri Kevin dan di sebelah kiri saya ada Pierre-Olivier (PO), partner dina. Saya melontarkan senyum membalas senyum PO. Sementara Kevin menyiapkan laptop, saya melirik ke sebelah kanan Kevin, ada anthony, partner Ajay, memakai kemeja berwarna ungu manis sekali, saya ampe inget ampe sekarang warnanya, hehe.. dan sama seperti ritual dengan yang lain saya melontarkan senyum membalas senyum anthony. Kemudian saya memandang ke depan, dan si Yasir sudah tersenyum, lagi-lagi saya balas dengan kikuk, di sebelah Yasir, ada Laia yang juga senyum ke saya, sementara Debo, partnernya sedang sibuk menelepon.
Laptop Kevin sudah siap.
Kevin: well, today I need you to help me making some phonecalls to some company, since not all the operator could speak english properly. You may tell them that you’re calling representing me, Kevin Missoorten, and I’m from hydrogenics, a company in Belgium that basically produce hydrogen instalation. I’m here to collect all the information related to hydrogen use in some industries in Indonesia, how do they get it, where do they buy the instalation, how’s the pressure and purity, blablabla... Do you understand?
Me: (Takjub) Ohk..okay I understand, I’m wida calling representing Kevin em..emm.. miss.. (saya nyengir lupa nama lengkap Kevin)
Kevin: That’s okay, my name is not a usual name for you so a bit hard to remember, this, you can have my namecard so you can easily call everyone. Well, you can start, but if you need to wite something first, that’s okay, thankyou so much
Setelah itu saya mulai mengingat instruksi kevin, mencatat di kertas dan menatap lists perusahaan-perusahaan yang harus ditelepon, dan mulai menelepon. Setelah itu ternyata ada beberapa perusahaan yang meminta fax resmi dari Kevin, jadilah kami membuat draft, mengeprint dan kemudian menuju ke resepsionis, karena di ruangan kami tidak ada mesih fax. Kevin yang pertama berbicara, tetapi si mbak panik dan bilang kurang mengerti, jadilah saya jelaskan maksud kami.
Saya: Mbak ini, namanya Kevin, dia mau numpang kirim fax mbak, bisa dibantu?
Mbak: Oh, gituu, oke deh, bentar ya saya telpon bagian yang lagi kosong dulu yaa, duduk aja dulu di situ ya..
Si mbak menelepon dan kemudian meminta kami mengikutinya. Di jalan, si mbak tanya-tanya soal Kevin.
Mbak: mbak si kevin umurnya berapa sih?
Saya: 22 masuk 23 mbak, kenapa? Naksir ya? Hehehe
Mbak: Wah brondong bok, ganteng ya bule-bule Belgia ini, hehehe..
Saya: SI mbak bisaan ya liat yang bening-bening, hahaha
Setelah itu saya dan si mbak ketawa bareng dan kevin dengan pandangan penuh tanya Cuma senyum. Kami tiba di ruangan yang isinya mesin fax dengan bapak-bapak gendut sebagai operatornya.
Mbak: Pak X (saya lupa namanya), ini ada brondong sama mbak cherry mau numpang nge-fax boleh ya pak? (saya melotot, dalam hati menggumam, nama saya wida, buka cherry)
Bapak: (menatap ke arah Kevin) she said you are ‘brondong’ mister, what can I do?
Kevin: be..brrrondong.. er.. (menatap saya dengan bingung), what is that wida?
Saya: eng.. it’s an idiom, er.. it means that you’re young man (nyengir)
Kevin: (muka masih bingung) oh.. okay
Setelah selesai ritual kirim fax, kami kembali ke ruangan, sebelum itu si mbak sempet-sempetnya
Mbak: Mbak cherry nanti kalo butuh bantuan bilang aja ya *nyengir
Saya Cuma mengangguk dan menutup pintu ruangan. Sejak itu sampai beberapa hari berikutnya si mbak tetap memanggil saya cherry dan saya Cuma bisa menghela nafas. Saya akhirnya menyadari kenapa si mbak kekeuh manggil saya mbak cherry, karena di hari pertama saya di Deloitte, saya make kemeja dan jilbab berwarna peach terang, ealaahh... saya pun tahu si mbak itu bernama mbak endang saat di hari ke dua atau ke tiga, ketika itu saya sedang bekerja untuk Kevin, kami lagi-lagi merepotkan si mbak minta bantuan mengirim fax.
Kevin: Wida, do you know who is she? I mean what’s her name? That woman in the receptionist desk?
Saya: Mbak endang, why? Do you need anything?
Kevin: er.. embagh endhang.. I’ll try to remember her, she always helps me
Saya: Yes, you should be really thankful to her, she’s been helping us much
Kevin: Okay, em..embagh endhang (mengeja dengan susah payah).
Setelah itu, ketika kami lagi-lagi dibantu mbak endang, kevin dengan lancar bilang “tcherimakasih embagh endhang”, dan mbak endang yang kaget karena Kevin tau namanya Cuma nyengir dengan wajah bersemu merah, wow! western guys are really sweet :)
Cerita di Suatu Hari
Pagi yang cerah, saya naik kereta dari stasiun mangga besar dan berhenti di Gondangdia. Masih banyak waktu untuk memutuskan berjalan kaki menyusuri jalan wahid hasyim. Saya tetap datang lebih awal ke Akmani, menyusuri jalanan sabang mengikuti Kevin yang seperti biasa masih membenahi lengan kemejanya. Di depan Holland Bakery, Kevin berhenti melangkah, seperti mengingat sesuatu.
Kevin: I forgot my ID card, do you think they’ll let me in?
Saya: Mm.. not so sure but since we’re just a few steps closer, we might try first
Dan kami pun tetap menuju Deloitte. Saya yakin seyakinnya Kevin boleh masuk wisma nusantara,er.. karena dia bule. Dan benar saja, kami bebas melenggang. Coba kalo saya yang sendirian ga punya ID, interogasinya bisa panjang, hehe..
Di lantai 12 wisma nusantara, saya mulai membuka laptop, memeriksa agenda untuk hari itu, dan mereview pekerjaan terakhir sementara Kevin seperti biasa membuat teh panas sambil berteriak kecil menawarkan saya teh, awalnya saya menolak, masa iya dibuatin teh sama bos, lagian saya bisa bikin sendiri, tetapi kevin terus bilang “I saw you made your tea, if you want some tea too, let me make it, thats really okay” dan suatu hari Laia yang kebetulan ada si satu shift dengan kami bilang sambil ketawa “hey wida, if you want some tea, let him make it, its a good service”, pada akhirnya saya nyerah, dan seterusnya Kevin bertugas membuatkan teh, lalu nanya “do you want sugar? No?” dan saya sambil nyiapin kerjaan hari itu akan teriak “yes, two blocks of sugar please, thankyou kev”, yaa, kedengeran seperti interpreter yang gatau diri kan, hahaha :D
Hari itu mood kami sedang bagus, kami baru saja mendapatkan kontak-kontak perusahaan flat glass manufacturers, yang berarti bisa kami hubungi. Saya mulai menelepon satu persatu dari pagi, dan... dan..... hingga jam makan siang pun, nggak ada satu kontak yang sesuai dengan harapan, ternyata itu adalah perusahaan dari industri glass manufacturer, bukan flat glass manufacturers. Saya setenganya kesal juga sama asosiasi perusahaan-perusahaan itu, masa ngasih data yang nggak relevan. Kevin udah kesel, pas kontak terakhir, dia nanya ke saya dan saya jawab dengan pasrah bahwa kontak terakhir pun nggak relevan. Saya meminta maaf ke Kevin dan menyampaikan rasa prihatin saya nggak bisa menghasilkan apa-apa hari itu. Kevin menggigit-gigit kuku, kemudian tersenyum, “no, its not your fault, you’ve done the best, we’ll continue after lunch, ok”, saya pun menjawab, “but I do feel uneasy about nothing resulted from our first shift work”, Kevin kemudian duduk tenang sambil membereskan laptopnya, “well, I have another dutch proverb for you. You’ve called many companies, yet you got nothing, but you know you have to try again, if you give up, you already have a NO answer, and do you still remember the last proverb I’ve given to you? The last man standing wins, it’s simple rule like when you’re in a marathon competition, you have to keep running til the end, when everyone starts to tirely stopped, you have to keep going, wherever the last man standing always wins, so, semanghaat!”. Kevin tersenyum mengakhiri dengan semangat (semangat adalah kata-kata favorit kevin setelah saya kasih tau “it’s the word to give someone spirits”, dan Kevin selalu mengulang kata itu), menutup tasnya, mengambil handphone, menelepon seseorang namun tampak tidak ada jawaban, Kevin keluar, kemudian masuk lagi, “Hey wida, lets have lunch then we’ll have new energy to find another strategy”. Saya Cuma jawab ok dan senyum.
Kevin ke luar ruangan duluan, sebelum saya menyusul, dityo, teman saya yang juga ada shift bareng kami, menghampiri saya, “wid, lo tau nggak barusan si kevin abis nelpon ke luar, gigit kuku dan mengumpat ‘FAK!’, hahaha, abis itu masuk dan baru ngomongin strategi baru itu ke elo”. Saya pun nggak bisa menahan tawa, tetapi dalam hati saya bersyukur, Kevin nggak pernah mengumpat di depan saya sekesel apa pu dia sama birokrasi indonesia. Dia menghargai saya, menghargai budaya Indonesia yang (seharusnya) nggak biasa mengumpat kasar dan saat itu saya berjanji, for the sake of peaceful world, I’ll always respect everyone’s culture.
2 comments:
Ih, kalau gue ngomnong terimakacih embagh endangh palin disangka nggak lulus SD. Nggak adil
ahaha, kak wiryaa lagian mau ngapain ngomong pake gaya begitu :p
Post a Comment