Ceritanya begini, beberapa hari yang lalu, saya menginap di rumah sepupu saya di Bogor. Paginya, saya berangkat bareng ke Jakarta Kota, mas saya ini bekerja di Kementrian Perdagangan, sedangkan saya menuju Kementrian Luar Negeri untuk mencari bahan skripsi. Di mobil, sepanjang jalan Bogor-Jakarta kami mengobrol banyak, kebanyakan masalah ekonomi (yaiyalah si mas orang ekonomi :D). Salah satu obrolan yang saya ingat adalah tentang wacana penggantian nilai mata uang, nggak dikurangin nilainya, hanya diganti, misal uang Rp.1000,- menjadi Rp.1,-. Tadi malam saya iseng mendengarkan radio sebelum tidur, seperti biasa di jam segitu radio yang masih asik adalah radio elshinta, radio berita. Ternyata sedang ada diskusi mengenai Redenominasi rupiah, seperti yang saya obrolkan bersama mas saya. Yang menjadi narasumber adalah seorang pakar dari Bank Indonesia. Perbincangan mereka sangat menarik, apalagi ada beberapa pakar dari Universitas yang ikut menelepon dan menyumbangkan gagasan.
Tidak hanya itu, pagi ini di halaman beranda Yahoo! juga ada berita mengenai redenominasi Rupiah, dan maafkan saya Tuhan, saya kok sampai saat ini nggak mendukung ide redenominasi ini. Saya agak gimana gitu kalo hanya untuk alasan agar keuangan lebih efisien dan perbankan lebih simpel, kita mesti ganti nilai mata uang. Menurut saya nggak akan mudah mensosialisasikan redenominasi ini ke semua masyarakat (mengingat tingkat pendidikan dan ekonomi yang berbeda-beda). Oke sosialisasi pemilu bisa sampai ke pelosok-pelosok, itu menurut saya karena masyarakat hanya diminta mencontreng saja (sosialisasi begini aja dananya ajegile), berbeda dengan kasus redenominasi, karena berhubungan dengan UANG, hal yang sangat sensitif. Masyarakat yang panik dan nggak paham (terutama pengusaha-pengusaha kecil), akan melarikan uangnya ke Dolar yang dijamin AS nilaiya akan tetap. Kalau sudah begini nilai rupiah akan jatuh lagi. Ya, sosialisasi butuh waktu, dan menurut saya butuh waktu 100 tahun untuk redenominasi rupiah (pesimis :D). Seorang pakar menyatakan selama ini Bank Indonesia lemah dalam hal sosialisasi, jadi terlalu berbahaya dan bisa berbuntut pada kekacauan ekonomi (analisa pengamat amatir).
Masyarakat sudah nyaman dengan sistem yang sekarang. kenapa harus diganti kalau toh nilainya sama? kalo memang ingin efisien, apa dengan digantinya nominal, lantas berubah? saya nangkepnya kalo 1000 rupiah=1 lembar uang kertas, sama aja kan kalo 1 rupiah=satu lembar uang kertas? cuma hemat di tinta penulisan 1000 diganti 1. terus kalo keuangan lebih simpel, lah selama ini bukannya urusan penghitungan-penghitungan sudah tidak manual, sudah terkomputerisasi, jadi nggak ada bedanya menghitung uang 100.000.000 dengan 10.000.
Ah entahlah, kenapa saya sendi dengan ide ini... Saya membayangkan dana sosialisasi yang super itu dialihkan ke dana pendidikan saja, hal yang jauh lebih krusial untuk segera direalisasikan.
Ah lagi, entahlah ya, sampai saat ini saya juga masih kabur dengan redenominasi ini, semoga saya segera mendapat pencerahan mengenai keuntungan-keuntungan redenominasi, karena, mereka yang mencetuskan ide ini tentulah pakar-pakar yang brilian, sedangkan saya hanyalah mahasiswa (masuk) semester sembilan yang belum selesai skripsinya (curcol). Kalo ada salah-salah info, maafkan saya ya Tuhan, saya masih belajar.
Baiklah, saya akan kembali memantau update informasi tentang redenominasi rupiah ini dari semua media yang memungkinkan..
Have a nica day amigos :)
Tidak hanya itu, pagi ini di halaman beranda Yahoo! juga ada berita mengenai redenominasi Rupiah, dan maafkan saya Tuhan, saya kok sampai saat ini nggak mendukung ide redenominasi ini. Saya agak gimana gitu kalo hanya untuk alasan agar keuangan lebih efisien dan perbankan lebih simpel, kita mesti ganti nilai mata uang. Menurut saya nggak akan mudah mensosialisasikan redenominasi ini ke semua masyarakat (mengingat tingkat pendidikan dan ekonomi yang berbeda-beda). Oke sosialisasi pemilu bisa sampai ke pelosok-pelosok, itu menurut saya karena masyarakat hanya diminta mencontreng saja (sosialisasi begini aja dananya ajegile), berbeda dengan kasus redenominasi, karena berhubungan dengan UANG, hal yang sangat sensitif. Masyarakat yang panik dan nggak paham (terutama pengusaha-pengusaha kecil), akan melarikan uangnya ke Dolar yang dijamin AS nilaiya akan tetap. Kalau sudah begini nilai rupiah akan jatuh lagi. Ya, sosialisasi butuh waktu, dan menurut saya butuh waktu 100 tahun untuk redenominasi rupiah (pesimis :D). Seorang pakar menyatakan selama ini Bank Indonesia lemah dalam hal sosialisasi, jadi terlalu berbahaya dan bisa berbuntut pada kekacauan ekonomi (analisa pengamat amatir).
Masyarakat sudah nyaman dengan sistem yang sekarang. kenapa harus diganti kalau toh nilainya sama? kalo memang ingin efisien, apa dengan digantinya nominal, lantas berubah? saya nangkepnya kalo 1000 rupiah=1 lembar uang kertas, sama aja kan kalo 1 rupiah=satu lembar uang kertas? cuma hemat di tinta penulisan 1000 diganti 1. terus kalo keuangan lebih simpel, lah selama ini bukannya urusan penghitungan-penghitungan sudah tidak manual, sudah terkomputerisasi, jadi nggak ada bedanya menghitung uang 100.000.000 dengan 10.000.
Ah entahlah, kenapa saya sendi dengan ide ini... Saya membayangkan dana sosialisasi yang super itu dialihkan ke dana pendidikan saja, hal yang jauh lebih krusial untuk segera direalisasikan.
Ah lagi, entahlah ya, sampai saat ini saya juga masih kabur dengan redenominasi ini, semoga saya segera mendapat pencerahan mengenai keuntungan-keuntungan redenominasi, karena, mereka yang mencetuskan ide ini tentulah pakar-pakar yang brilian, sedangkan saya hanyalah mahasiswa (masuk) semester sembilan yang belum selesai skripsinya (curcol). Kalo ada salah-salah info, maafkan saya ya Tuhan, saya masih belajar.
Baiklah, saya akan kembali memantau update informasi tentang redenominasi rupiah ini dari semua media yang memungkinkan..
Have a nica day amigos :)



