Wednesday, November 18, 2009

Cinta Indonesia nggak?

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/tet/b/be/Linkin_Park_1024_0830.jpg
http://profiles.friendster.com/93220746
Hayoo, gantengan yang mana? sama2 pake anting kan :D

Oke, saya nggak akan ngomongin masalah kualitas musik di sini karena saya sendiri payah dalam bermain musik, interest tapi tanpa usaha, hehe..
Saya akan ngomongin masalah perbedaan pendengar musik barat dan pendengar musik lokal. Dalam hal ini saya memfokuskan pada musik populer yang digemari remaja-remaja seperti kita ini (eh memangnya kita masih remaja ya?).
Katakanlah terdapat dua individu, yang satu sebut saja mawar. Si mawar ini sumpah ya cinta banget produkdalam negeri. Band favoritnya ST 13 (itu loh yang lagi ngetop abis), atas alasan cinta indonesia, mawar sudah mencamkan dalam hati untuk tidak sedikitpun berpaling pada musik barat. Setiap hari, sampai teman-teman kampusnya hafal, si mawar selalu mendendangkan lagu:
“Jangan-jangan kau menolak cintakuuu
Jangan-jangan kau ragukan hatikuuu
Ku kanselalu setia menunggu, lalu bilang ai lop yuu
Padakuuu..”
(ST 13)
Di negara saya, indonesia, lagu ini ngetop gilak! Anak TK yang belum hafal pancasila aja udah hafal lagu-lagunya ST 13 ini.
Oiya sekedar informasi, si mawar ini kuliah di HI looh.. katanya nanti mau jadi diplomat, kita doakeun saja, amiin..
Nah alkisah si mawar punya teman, namanya melati (sigh! Nggak kreatif banget sih, mawar melati.. tapi nggak apa-apa lah yaa). Si melati ini termasuk golongan yang gaulnya ampuun, kata orang-orang sih dia keren banget, dengerinnya lagu baraat mulu. Tapi melati ini ya, gara-gara kebanyakan dicekokin musik barat jadi mikirnya musik dalam negeri itu nggak kreatif (padahal kurang apa coba si sarli vokalisnya ST 13 itu, udah ganteng, cengkoknya mantaf, terus antingnya itu boo). Setiap hari si melati mendendangkan lagu yang lebih dikira gumaman tak jelas oleh teman-teman kampusnya, soalnya bahasa inggris, hehe.. lagu favorit dia banyak, dari yang populer di jaman sekarang, what I’ve done dari kelinking park, sampai yang jadul village green preservation society dari The kinks kong. Lirik favoritnya si melati ini:
“What I've done
I'll face myself
To cross out what I've become
Erase myself
And let go of what I've done”
(kelingking park)
“We are the Village Green Preservation Society
God save Donald Duck, Vaudeville and Variety
We are the Desperate Dan Appreciation Society
God save strawberry jam and all the different varieties
Preserving the old ways from being abused
Protecting the new ways for me and for you”
(the kinks kong)
Ceritanya melati ini juga sama kuliah di HI. Mereka berdua dua sahabat yang kuliah tahun pertama. Mereka berdua berasal dari kota kecil nan indah di pinggiran bengkulu.
Suatu hari ada seorang dosen, sebut saja X yang bercerita mengenai permasalahan global yang terkait dengan lingkungan dan kemiskinan. Si dosen bercerita panjang lebar. Si mawar terdiam terpaku terpana, dia nggak percaya kalo masalah kelaparan demikian hebatnya di belahan dunia sana. Di Curup, kotanya, nggak ada orang yang mati karena kekuarangan makan. Dia juga nggak menyangka ada perang yang segitu hebatnya di muka bumi ini (bukannya nggak punya TV, si mawar ini tontonannya outbox, gahsyat, sama gerings mulu sih). Pas disuruh bikin tugas, berterimakasihlah pada internet, mawar pada akhirnya bisa juga mengerti semua itu.

Bagaimana dengan melati? Ketika dosen X membicarakan berbagai masalah global, yang berputar di kepalanya adalah video klip band kesukaannya kelinking park yang kerap kali memberitahukan fenomena seperti yang diceritakan si dosen dan lirik lagi the king kongs yang dinyanyikannya setiap hari. Ketika diberi tugas yang sama dengan mawar, melati sudah punya pengetahuan dasar mengenai hal itu, dia tinggal mengembangkannya lagi.

Hmm.. kisah mawar melati ini tidak dibuat untuk menyinggung pihak mana pun loh. Cerita ini muncul dari apa yang saya alami dan saya rasakan sehari-hari sehingga saya jadi mikir. Tentu saja ini tidak bisa dikatakan sebagai generalisasi atas apa yang terjadi saat ini tetapi dari pengamatan saya, lagu-lagu populer di negara saya, Indonesia adalah lagu yang sangat menghibur. Nggak berlu banyak mikir untuk membuat dan mendengarnya, semuanya lagu cinta (kalo nggak selingkuh, putus cinta, pokoknya cinta-cintaan), videoklipnya juga dengan konsep sama, cintaa semua. Lagu yang santai ini kalo lagi populer bisa diputar sampai 7 kali sehari di 7 acara (yang konsepnya sama, musik)di TV Indonesia. Sasaran musik populer ini adalah anak muda, seperti kita ini (saya baru 21 tahun, masih muda kan ya?). saya cuma berpikir sementara di belahan dunia sana pemudanya mempopulerkan lagu-lagu yang temanya udah luas, lagu yang bikin mikir, lagu yang inspiratif, di negara saya, Indonesia, yang dipopulerkan sama pemudanya adalah lagu-lagu menghibur dan santai. Jadi gimana menurut kalian? masih cinta Indonesia kan :)
Ibu-ibu bapak bapak-bapak siapa yang punya anak tolooong akuu
Akuu yang sedang malu sama teman-temankuu karna hanya dirikuu yang nggak lakyu lakyuu

3 comments:

thisisrizka said...

huwaa, Wida, sepertinya salah satu tokohnya aku kenal deh.. hehehe...
Hmm, setuju sama Wida, lagu-lagu Indonesia sebagian ada yang bagus kok, meskipun nggak semua. Contohnya yang dinyanyiin Chrisye, Sheila On Seven, Peterpan, dan..Gita Gutawa :D
Hmm, sebenernya nggak ada musik yg jelek, semua tergantung dari selera masing-masing aja. Kalau yg suka keroncong, pasti bakal bilang keroncong lebih bagus drpd Peterpan. Yang suka The Kinks atau The Beatles, pasti bakalan bilang The Changcuter ngikut2. Yang fanatik sama Muse, pasti bakalan benci abis sama D'Masiv (aku nggak nuduh D'Masiv plagiat sih..walaupun mirip abiiis). Yah, mungkin bener, mereka cuman 'terinspirasi'. Hahaha, kalau menurutku semua tergantung selera masing-masing aja sih... Sepanjang mereka nggak ngejiplak lagu orang lain, aku fine-fine aja. Kalau lagu Indonesia tema-temanya cinta-cintaan, cari jodoh, dkk, yaaa..sepertinya itu karena mereka menyesuaikan pasar.. Selama ini, orang Indonesia nggak banyak yg suka lagu-lagu bertema serius atau tema-tema alam. Paling banter, dengerin lagu-lagu tema agama pas bulan puasa. Kalau memang ada, pasti mereka lebih banyak denger lagu-lagu sejenis itu dari band-band bule (hahaha..) Btw, ada kabar buruk Wid, musik dangdut mulai kehilangan penggemar loh. Di tipi-tipi mulai jarang ada aara dangdut (cuman tpi aja setauku yg ada). Walaupun aku nggak suka dangdut, tapi apa yg terjadi kalau di seluruh dunia semua musik jenisnya sama aja? Rock semua? Britpop semua? Punk semua? Atau melayu semua?? Ooh, pasti bakalan membosankan sekali.
:(

Anonymous said...

widaa..maksud isi blog kali ini apa sih?! mu ngebandingin output pecinta musik lokal yang "cenderung" ketinggalan isu global lantaran lagu2 yang didengerinnya melulu soal cinta, sama output pecinta musik luar yang "sedikit lebih pinter" dari pecinta musik lokal, lantaran seringkali musik luar itu punya makna sosial, lingkungan gitu2 ya?! gw masih ga ngeh niiiihhh....

wida said...

@ ica, diluar selera pasar, satu kata yang pas 'dilema'... iya ngga sih?

jangan slaah tanggap dulu didi, dan ica juga deh, sekalian.
tulisan ini sama sekali nggak bermaksud membandingkan seperti kata didi itu (dan memang nggak tertulis begitu kaan:D)
tulisan ini sekedar bahan renungan saja di.. biar kita mikir, soalnya aku juga belummenemukan jawaban atas apa yang aku pikirin tentang hal ini. kadang tanpa bermaksud begitu, pemikiran seperti komen didi itu muncul dikepalaku, dan kalau aku menjawab 'iya' lantas aku bingung mau menyalahkan siapa, ah.. intinya hanya mengajak kita mikir sih, hehehe...